RADAR SURABAYA- Di balik kemenangan 4-2 Inggris atas Kroasia pada laga pembuka Piala Dunia 2026, tersimpan kekhawatiran besar terkait kondisi fisik Declan Rice.
Gelandang Arsenal itu tampak tidak berada dalam performa terbaiknya dan harus ditarik keluar lebih awal, memunculkan pertanyaan
mengenai ketahanannya menghadapi padatnya jadwal serta dampaknya terhadap peluang Inggris di turnamen ini.
Declan Rice selama ini dikenal sebagai pemain dengan daya tahan luar biasa. Mantan bek kiri West Ham United,
Aaron Cresswell, bahkan menyebut Rice sebagai "fenomena alam" karena kemampuannya bermain tanpa mengenal lelah.
"Dia bisa bermain enam atau tujuh pertandingan dalam seminggu. Entah berapa banyak pertandingan yang sudah dia jalani dalam beberapa tahun terakhir," ujar Cresswell tentang mantan rekan setimnya di West Ham dikutip dari The Guardian.
Jawabannya adalah 360 pertandingan sejak musim 2020-2021 dimulai.
Baca Juga: Dari Hobi Melukis, IDEacraft Kembangkan Usaha Dekorasi Rumah Berkat Dukungan Pemberdayaan BRI
Jadwal yang padat terus membayangi gelandang Timnas Inggris tersebut.
Rice menjadi sosok penting saat West Ham melangkah jauh di kompetisi Eropa pada 2022 dan 2023, menjadi andalan Gareth Southgate di Timnas Inggris, serta memainkan peran krusial bagi Arsenal dalam perburuan gelar Liga Inggris dan Liga Champions sejak bergabung tiga tahun lalu.
Namun, tanda-tanda kelelahan mulai terlihat. Saat menjalani penampilan ke-63 pada musim 2025-2026 dalam kemenangan dramatis Inggris 4-2 atas Kroasia pada laga pembuka Piala Dunia 2026, Rice tampil jauh dari performa terbaiknya.
Bentuk permainan lini tengah Inggris tidak berjalan ideal. Jarak antara Rice dan Elliot Anderson terlalu renggang pada babak pertama sehingga Kroasia mampu memanfaatkan ruang yang tersedia.
Rice juga terlalu sering turun ke area yang dalam dan beberapa kali keluar dari posisinya akibat pergerakan Luka Modric.
Masalah taktis tersebut mungkin masih bisa dibenahi oleh pelatih Thomas Tuchel sebelum Inggris menghadapi Ghana pada Selasa mendatang.
Namun, kekhawatiran muncul ketika Rice harus ditarik keluar pada menit ke-72 saat Inggris masih memimpin tipis 3-2.
Keputusan mengganti Rice dalam situasi seperti itu tergolong tidak biasa. Kemampuan merebut bola dan menjaga keseimbangan tim membuatnya hampir selalu bertahan hingga peluit akhir.
Karena itu, muncul kekhawatiran bahwa wakil kapten Inggris tersebut mulai kehabisan energi pada saat tim paling membutuhkannya.
Tuchel menjelaskan bahwa Rice merasakan ketidaknyamanan pada punggung bagian bawah dan otot hamstring atas.
Baca Juga: Jonathan David Cetak Hat-trick, Kanada Gilas Qatar 6-0 dan Raih Kemenangan Perdana di Piala Dunia
Sang pelatih menegaskan pergantian itu hanya sebagai langkah pencegahan, sementara Rice sendiri menyatakan siap tampil melawan Ghana.
Meski demikian, Inggris tetap harus berhati-hati.
Jika cedera tersebut memburuk, Inggris akan menghadapi masalah besar. Lini tengah sudah terlihat tidak berfungsi maksimal ketika Rice belum berada dalam kondisi terbaik.
Tuchel bahkan menyebut Rice melakukan beberapa kehilangan bola yang tidak biasa.
"Declan mengalami beberapa kehilangan bola yang tidak biasa," ujar Tuchel secara diplomatis saat menilai performa anak asuhnya.
Masalahnya, Inggris tidak memiliki pengganti dengan karakter permainan yang sama. Dalam enam tahun terakhir, performa tim sering menurun ketika Rice absen.
Kobbie Mainoo memang memiliki kualitas teknik yang sangat baik, tetapi masih muda dan tidak memiliki kekuatan fisik maupun kemampuan bola mati seperti Rice.
Jordan Henderson bisa menjadi alternatif, tetapi usianya kini sudah 36 tahun dan tidak dimainkan saat Inggris membutuhkan tempo tinggi melawan Kroasia.
Baca Juga: Dari Hobi Melukis, IDEacraft Kembangkan Usaha Dekorasi Rumah Berkat Dukungan Pemberdayaan BRI
Karena itu, Tuchel belum memiliki solusi yang benar-benar ideal.
Ketika Rice ditarik keluar, Tuchel sempat menggeser Jude Bellingham ke posisi yang lebih dalam.
Namun, eksperimen tersebut hampir membuat Kroasia menyamakan kedudukan. Percobaan itu hanya bertahan sekitar delapan menit.
Menariknya, situasi tersebut justru membuka kemungkinan baru bagi Inggris. Masuknya Djed Spence menggantikan Bellingham membuat Reece James bergeser dari posisi bek kanan ke lini tengah, peran yang telah beberapa kali dijalankannya bersama Chelsea dalam 18 bulan terakhir.
James bisa menjadi jawaban jika menit bermain Rice harus dibatasi.
Kapten Chelsea itu pernah bermain sebagai gelandang saat dipinjamkan ke Wigan Athletic pada musim 2018-2019.
Meski sebagian besar kariernya dihabiskan sebagai bek kanan atau wing-back kanan, perubahan peran yang diterapkan Enzo Maresca di Chelsea menunjukkan bahwa James mampu beradaptasi dengan baik.
Awalnya, Tuchel termasuk pihak yang meragukan efektivitas perubahan posisi tersebut. Namun, seiring waktu ia mulai memahami pemikiran Maresca.
James memiliki kekuatan fisik, kecerdasan bermain, kemampuan tekel yang baik, serta distribusi bola yang berkualitas.
Penampilannya di lini tengah saat Chelsea mengalahkan Paris Saint-Germain pada final Piala Dunia Antarklub tahun lalu menjadi bukti nyata.
Ia juga tampil impresif ketika berduet dengan Moisés Caicedo di lini tengah saat Chelsea mengalahkan Barcelona 3-0 pada November
lalu dan bahkan mampu mendominasi Rice ketika Arsenal bertandang ke Stamford Bridge beberapa hari kemudian.
"Reece James bisa bermain sebagai gelandang bertahan karena dia melakukannya di level tinggi bersama Chelsea," kata Tuchel saat mengumumkan skuad Inggris untuk Piala Dunia.
Fleksibilitas pemain menjadi salah satu alasan utama Tuchel dalam memilih skuad. Jika James dimainkan di lini tengah, posisi bek kanan masih bisa diisi oleh Djed Spence, Ezri Konsa, atau Jarell Quansah.
Meski demikian, ada satu persoalan besar yang terus menghantui, yakni kebugaran James.
Pemain berusia 26 tahun itu memiliki riwayat cedera hamstring yang cukup panjang. Cedera terbaru bahkan membuatnya absen hampir dua bulan setelah mengalami masalah fisik pada Maret lalu.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tambahan bagi Inggris. Mereka juga telah kehilangan Tino Livramento akibat cedera betis, sehingga Tuchel harus memanggil Trevoh Chalobah sebagai pengganti.
Musim yang panjang dan melelahkan telah menguras energi banyak pemain Inggris. James memang menjadi pilihan utama di
posisi bek kanan, tetapi ia juga tidak bisa dipaksa bermain penuh di setiap pertandingan.
Demikian pula jika harus menanggung beban tambahan di lini tengah ketika Rice mengalami masalah kebugaran.
Kekhawatiran soal kondisi fisik pemain memang sudah menjadi perhatian Tuchel sebelum Piala Dunia dimulai.
Keputusan menggelar pemusatan latihan lebih awal di Florida dilakukan untuk meningkatkan kondisi kebugaran skuad.
Rice sendiri bergabung lebih lambat karena baru menyelesaikan tugas bersama Arsenal di final Liga Champions. Selama ini ia selalu mendorong dirinya hingga batas maksimal.
Pertanyaannya, apakah ada harga yang harus dibayar?
Jika Inggris berhasil mencapai final Piala Dunia dan Rice terus dimainkan tanpa istirahat, maka ia akan menutup musim dengan total 70 pertandingan untuk klub dan tim nasional.
Jumlah tersebut terasa sangat ekstrem. Karena itu, Tuchel harus segera menyiapkan rencana alternatif apabila kondisi Rice terus menurun sepanjang turnamen.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan