Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dari Bayang-Bayang Perang ke Panggung Piala Dunia: Perjuangan Iran Menjaga Asa di Tengah Krisis

Rahmat Adhy Kurniawan • Selasa, 16 Juni 2026 | 06:10 WIB
Skuad Iran di Piala Dunia mendapat sambutan meriah dari warga setempat saat meninggalkan Tijuana, Meksiko, menuju Amerika Serikat untuk menjalani laga pertama mereka di Piala Dunia melawan Selandia Baru di Los Angeles. (Dailymail)
Skuad Iran di Piala Dunia mendapat sambutan meriah dari warga setempat saat meninggalkan Tijuana, Meksiko, menuju Amerika Serikat untuk menjalani laga pertama mereka di Piala Dunia melawan Selandia Baru di Los Angeles. (Dailymail)

RADAR SURABAYA- Perjalanan Iran menuju Piala Dunia kali ini sangat berat. Pada tahap awal persiapan, para pemain bahkan harus menempuh perjalanan panjang dengan bus dan menyaksikan langsung kerusakan akibat perang. 

Sejak liga domestik Iran dihentikan pada Februari akibat serangan udara Amerika Serikat dan Zionis Israel, banyak pemain yang berbasis di dalam negeri kehilangan kebugaran karena minim pertandingan. 

Bulan lalu, skuad Iran menempuh perjalanan sekitar 3.200 kilometer menuju kamp pelatihan di Antalya, Turki selatan. 

Perjalanan dimulai melalui jalur darat karena wilayah udara dianggap tidak aman. Hingga kini mereka belum kembali ke Iran.

Selama berada di Turki, para pemain menjalani program khusus untuk mengembalikan kondisi fisik setelah tujuh pekan tanpa laga kompetitif. 

Baca Juga: Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Laga Pembuka Grup G yang Bisa Langsung Mengejutkan!

Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, mengakui bahwa timnya hanya mampu menutup sekitar 25 persen kekurangan kebugaran dalam waktu tersebut. 

Kondisi sesungguhnya baru akan terlihat saat Iran menghadapi Selandia Baru pada Selasa pagi WIB. 

Namun, sesi latihan dan kebugaran tidak bisa menghapus dampak psikologis yang ditimbulkan oleh situasi di tanah air.

Iran masih berduka atas ribuan korban tewas dalam gelombang protes anti-pemerintah pada Januari serta perang yang terjadi setelahnya.

 Di antara korban tersebut terdapat sekitar 120 anak yang meninggal ketika sekolah mereka terkena bom Amerika Serikat.

Skuad Iran Terpecah karena Situasi Politik

Konflik yang berlangsung juga menimbulkan perpecahan di dalam tim nasional. Sebagian pemain menunjukkan simpati kepada para

demonstran, sementara yang lain memilih diam karena kuatnya pengaruh Korps Garda Revolusi Islam terhadap Federasi Sepak Bola Iran.

Perbedaan sikap politik memiliki konsekuensi besar. Striker andalan Iran, Sardar Azmoun, tidak dibawa ke Piala Dunia karena dianggap melakukan tindakan yang tidak loyal kepada pemerintah. 

Baca Juga: Awal Tahun Baru Islam 1448 H Resmi Dimulai, Arab Saudi Tetapkan 1 Muharam Jatuh pada Selasa

Azmoun dinilai bersalah setelah mengunggah foto dirinya berjabat tangan dengan para syekh Dubai dan Abu Dhabi usai bergabung dengan klub Uni Emirat Arab dari Bayer Leverkusen.

Iran Temukan Penyerang Baru Lewat Jalur Tak Terduga

Absennya Azmoun membuat staf pelatih bekerja keras mencari pengganti. Upaya tersebut akhirnya membawa mereka kepada Dennis Eckert, pemain kelahiran Jerman yang bermain untuk klub Belgia, Standard Liege.

Dennis Eckert alias Dennis Dargahi, stiker naturalisasi ansalan baru Iran. (Dailymail)
Dennis Eckert alias Dennis Dargahi, stiker naturalisasi ansalan baru Iran. (Dailymail)

Proses naturalisasi Eckert tidak berjalan mudah. Saat pertama kali dihubungi Federasi Sepak Bola Iran, ia bahkan belum memiliki paspor Iran. Ayahnya yang berdarah setengah Iran juga belum memiliki dokumen tersebut.

Bantuan datang dari bibinya, Anahita Dargahi, seorang bintang televisi Iran yang cukup terkenal.

Ayah Eckert kemudian menjalani tes DNA di Iran untuk membuktikan garis keturunannya. Setelah memperoleh paspor, jalan bagi putranya untuk mendapatkan kewarganegaraan Iran pun terbuka.

Penyerang berusia 29 tahun itu akan menggunakan nama keluarga bibinya selama turnamen dan tampil sebagai Dennis Dargahi.

“Saya tidak menyangka ini bisa terjadi. Kami sempat mencoba mengurus semuanya, tetapi komunikasi dengan federasi sempat terputus. Saya rasa prosesnya tidak mudah,” kata Eckert kepada podcast Gol Bezan.

Meski tidak bisa berbahasa Persia, Eckert mengaku ingin mempelajarinya. Beruntung, cukup banyak pemain Iran yang mampu

berkomunikasi dalam bahasa Inggris sehingga ia tetap dapat memahami instruksi taktik tim.

Skuad Tertua dalam Sejarah Iran

Iran datang ke Piala Dunia dengan salah satu skuad tertua di turnamen. Rata-rata usia pemain mencapai 29,8 tahun dan hanya terdapat satu pemain muda dalam daftar tersebut.

Kondisi itu mencerminkan kegagalan federasi dalam melahirkan generasi baru yang mampu menyamai kualitas tim Iran era 1978, yang pernah menahan imbang Skotlandia 1-1 di Piala Dunia Argentina.

Standar stadion dan fasilitas latihan di Iran juga dinilai masih kurang memadai. Selain itu, banyak pemain muda harus bergabung dengan klub yang berafiliasi dengan militer karena kewajiban wajib militer nasional.

Akibatnya, proses regenerasi berjalan lambat dan kesempatan bagi pemain muda untuk berkembang menjadi terbatas.

Diaspora Iran Terbelah Menjelang Piala Dunia

Di luar lapangan, Iran juga menghadapi berbagai persoalan. Tim merasa kurang mendapat penghormatan dari Amerika Serikat dan FIFA.

Mereka sempat diminta meninggalkan pusat latihan di California karena dianggap terlalu dekat dengan markas tim Amerika Serikat.

Selain itu, para pemain diwajibkan masuk dan keluar wilayah AS pada hari yang sama dalam tiga perjalanan mereka untuk pertandingan fase grup. Banyak pendukung Iran juga dilaporkan kesulitan memperoleh visa.

Iran akan memainkan dua pertandingan di Los Angeles, kota yang memiliki komunitas diaspora Iran terbesar di dunia, terutama di kawasan Westwood yang dikenal dengan julukan “Tehrangeles”.

Namun, komunitas tersebut terpecah mengenai dukungan kepada tim nasional. Sebagian menganggap tim sebagai

representasi rezim yang mereka tolak, sementara yang lain melihatnya sebagai simbol budaya dan identitas bangsa Iran.

Pendiri Kafe Meymuni, Shaheen Ferdowsi, mengatakan bahwa sepak bola dapat menjadi sarana pemersatu masyarakat Iran di luar negeri.

“Pada masa-masa sulit seperti sekarang, kami berusaha menjadi titik temu bagi diaspora Iran.

Orang-orang mungkin memiliki pandangan berbeda tentang cara mendukung tim, tetapi kami percaya bahwa saat-saat sulit justru mengharuskan kita bersatu,” ujarnya.

Sebaliknya, Mohammad Karimi menolak memberikan dukungan karena menganggap tim nasional mewakili rezim yang tidak ia sukai.

Sorotan Dunia Menanti Iran

Perhatian publik terhadap Iran diperkirakan akan terus meningkat selama turnamen. Laga terakhir fase grup melawan Mesir di Seattle bahkan ditetapkan sebagai pertandingan perayaan komunitas LGBTQ+ oleh penyelenggara lokal.

Baca Juga: Diskusi di UGM Ricuh, Tiga Pejabat Tinggi Negara Dievakuasi Keluar Kampus

Situasi tersebut berpotensi memunculkan pertanyaan-pertanyaan sensitif di luar sepak bola, mengingat hubungan sesama jenis dapat dikenai hukuman berat di Iran dan sering menjadi isu kontroversial di Mesir.

Tidak ada tim lain di Piala Dunia yang menghadapi tekanan eksternal sebesar Iran. Namun, bagi para pendukungnya, segala kesulitan yang dialami tim justru bisa menjadi sumber motivasi tambahan.

Bahkan terdapat kemungkinan Iran akan berhadapan dengan Amerika Serikat pada babak 32 besar jika berhasil lolos dari fase grup.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan tersebut, Ghalenoei menjawab singkat, “Ya, kami menyambut kemungkinan itu.”.

Tidak ada tim lain di Piala Dunia 2026 yang datang dengan beban sebesar Iran. Namun justru dari tekanan itulah mereka berharap menemukan kekuatan.

Di tengah sorotan politik, perpecahan opini, dan kenangan pahit tentang konflik, sepak bola menjadi satu-satunya ruang tempat

mereka masih bisa berbicara dengan bahasa yang sama: mengejar kemenangan dan menjaga harapan tetap hidup.(rak) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#dennis Eckert #dennis dargahi #Timnas Iran #Piala Dunia 2026