Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Piala Dunia atau Pos Imigrasi Global? Ketika Geopolitik Mencuri Panggung Sepak Bola

Rahmat Adhy Kurniawan • Rabu, 10 Juni 2026 | 05:31 WIB
Sebuah mural yang menampilkan penyerang Irak, Aymen Hussein (kiri), terlihat di Sadr City, bagian timur Baghdad. Aymen Hussein sempat ditahan selama lebih dari tujuh jam saat tiba di Chicago. (The Guardian/Ahmad Al-Rubaye/AFP/Getty Images).
Sebuah mural yang menampilkan penyerang Irak, Aymen Hussein (kiri), terlihat di Sadr City, bagian timur Baghdad. Aymen Hussein sempat ditahan selama lebih dari tujuh jam saat tiba di Chicago. (The Guardian/Ahmad Al-Rubaye/AFP/Getty Images).

RADAR SURABAYA- Kurang satu hari lagi bola pertama akan ditendang dalam Piala Dunia 2026.

Namun, hingga saat ini, yang lebih sering bergerak bukanlah bola, melainkan berkas visa, pemeriksaan keamanan, dan antrian imigrasi.

Selamat datang di Piala Dunia Geopolitik.

Julukan yang semula terdengar seperti lelucon satir kini berubah menjadi deskripsi yang nyaris dokumenter.

Di tengah hitung mundur menuju turnamen sepak bola terbesar di dunia, perhatian publik justru tersedot ke bandara, larangan perjalanan, dan kebijakan perbatasan Amerika Serikat.

Jika sepak bola selama ini dipromosikan sebagai bahasa universal yang menyatukan bangsa-bangsa, maka edisi 2026 tampaknya menambahkan dialek baru: formulir visa dan pemeriksaan bea cukai.

Iran menjadi salah satu contoh paling mencolok. Tim berjuluk Team Melli itu memang masih diperbolehkan tampil, tetapi dengan syarat yang terdengar seperti jadwal perjalanan seorang agen rahasia.

Baca Juga: Prediksi Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Duel Ketat Son Heung-min dan Patrik Schick Berpotensi Berakhir Imbang

Para pemain diwajibkan masuk dan keluar dari wilayah Amerika Serikat pada hari yang sama saat menjalani laga grup di Los Angeles dan Seattle.

Sementara staf pendukung mereka bahkan tidak mendapatkan izin masuk.

Situasi ini terasa ironis jika mengingat pernyataan Presiden FIFA, Gianni Infantino, ketika Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memenangkan hak tuan rumah pada 2017.

Kala itu, Infantino menegaskan bahwa setiap negara yang lolos, termasuk suporter dan ofisialnya, harus dapat mengakses negara tuan rumah. Jika tidak, katanya, itu bukan Piala Dunia.

Sembilan tahun kemudian, kalimat tersebut terdengar seperti kutipan dari arsip sejarah yang terlupakan.

Federasi sepak bola Iran bahkan mengungkapkan bahwa alokasi tiket bagi suporter mereka dicabut menjelang turnamen dimulai.

Akibatnya, banyak perjalanan yang telah direncanakan harus dibatalkan. Rupanya, jalan menuju stadion kini lebih rumit daripada jalur kualifikasi.

Masalah juga merambah sektor yang selama ini dianggap netral: perangkat pertandingan.

Omar Artan, salah satu wasit terbaik Afrika dan kandidat kuat menjadi wasit Somalia pertama dalam sejarah Piala Dunia, dipastikan gagal bertugas setelah ditolak masuk ke Amerika Serikat.

Baca Juga: Hasil FIFA Matchday: Gol Ole Romeny Bawa Timnas Indonesia Kalahkan Mozambik 1-0 di GBK

FIFA pun mengeluarkan pernyataan diplomatis yang intinya berbunyi: urusan visa bukan urusan kami.

Pernyataan itu mungkin benar secara administratif, tetapi terdengar janggal ketika disampaikan oleh organisasi yang selama bertahun-tahun menjual slogan bahwa sepak bola adalah milik semua orang.

Somalia sendiri termasuk negara yang terdampak kebijakan pembatasan perjalanan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Artan dilaporkan ditolak masuk saat tiba di Miami meski diyakini masih memegang visa yang berlaku.

Pertanyaan sederhana pun muncul: jika pertandingan berlangsung di tiga negara, mengapa sang wasit tidak dialihkan ke Kanada atau Meksiko?

Mungkin jawabannya sedang menunggu stempel berikutnya.

Daftar persoalan terus bertambah.

Penyerang Irak, Aymen Hussein, harus menjalani pemeriksaan hampir tujuh jam di Bandara O'Hare, Chicago. Fotografer tim Irak ditolak masuk setelah telepon genggamnya diperiksa petugas.

Di Texas, rombongan Senegal disambut pemeriksaan tas secara menyeluruh di landasan pacu sesaat setelah mendarat.

Sementara di New York, pemain Uzbekistan harus berkenalan dengan anjing pelacak narkotika yang tampaknya lebih antusias menyambut mereka dibanding sebagian petugas imigrasi.

Satu peristiwa mungkin kebetulan.

Dua peristiwa bisa disebut prosedur.

Tetapi ketika daftar tersebut terus bertambah dan sebagian besar melibatkan negara-negara dari Asia serta Afrika, publik mulai melihat pola yang sulit diabaikan.

Pertanyaan yang mengemuka pun bukan lagi soal siapa yang akan menjuarai Piala Dunia.

Pertanyaannya adalah: siapa yang berhasil melewati pemeriksaan bandara terlebih dahulu?

Ironisnya, semua ini terjadi ketika FIFA terus menggaungkan inklusivitas, keberagaman, dan persatuan global.

Di atas panggung resmi, sepak bola disebut mampu meruntuhkan sekat-sekat politik. Namun di pintu kedatangan internasional, sekat-sekat itu justru berdiri semakin tinggi.

Di tengah suasana tersebut, Donald Trump kembali menjadi pusat perhatian. Presiden Amerika Serikat itu mendapat sorakan cemoohan saat menghadiri final NBA di Madison Square Garden.

Beberapa kali kamera juga menangkap dirinya tampak tertidur selama pertandingan.

Barangkali itu metafora yang sempurna untuk situasi saat ini.

Ketika dunia sepak bola berharap pesta global segera dimulai, politik justru tetap terjaga dan mengambil kursi paling depan. Sementara sang tuan rumah tampak sesekali memejamkan mata.

Bola belum bergulir.

Namun geopolitik sudah unggul jauh sebelum kick-off.(rak) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#FIFA #iran #geopolitik #Piala Dunia 2026