SOSOK Kartolo sudah tidak asing bagi para pencinta kesenian terutama kesenian tradisional, khususnya Ludruk. Pria kelahiran Watuagung, Prigen, Pasuruan 2 Juli 1948 ini, namanya juga dikenal generasi muda karena perannya dalam sejumlah film layar lebar.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai Cak Kartolo berkontribusi atas pelestarian kesenian tradisional khas budaya ”Arek”, khususnya tari remo dan kidungan ”jula-juli” yang merupakan bagian dari pertunjukan ludruk.
Kartolo atau Cak Kartolo merupakan seniman ludruk kelahiran Watuagung, Prigen, Pasuruan 2 Juli 1948. Ia merupakan anak dari pasangan Aliman dan Payamah. Ayahnya, Aliman, merupakan buruh pabrik tenun di kawasan Juwingan, Surabaya. Sedangkan ibunya, Payamah, merupakan ibu rumah tangga yang menyambi berdagang warung kelontong.
Artinya, meskipun lahir di Pasuruan, Kartolo sejak kecil sudah tinggal di Surabaya. Perjalanan dan pergaulan hidup, membuat Kartolo bersinggunggan dengan dunia seni terutama Ludruk. Setelah mahir dalam dunia kesenian pada 1971, Cak Kartolo bergabung dalam grup ludruk RRI Surabaya. Ia pentas dengan grup ludruk RRI Surabaya selama tiga tahun lamanya.
Pada 1974, Cak Kartolo keluar dari grup tersebut. Ia kemudian bergabung dengan grup ludruk Persada Malang. Selanjutnya, pada 1980, Cak Kartolo mulai dikontrak oleh perusahaan rekaman Nirwana Record untuk merekam syair berjudul Jula Juli Guyonan. Syair ini dilagukan ketika melakukan pementasan ludruk.
Cak Kartolo menjadi seniman yang meletakkan dasar-dasar ludruk modern. Sudah banyak kidungan dan lawakannya yang direkam ke dalam bentuk kaset maupun CD. Kidungannya pun tidak hanya berisi kalimat jenaka, melainkan mencerminkan kehidupan dan kritik sosial.
Kini meskipun sudah malang melintang di dunia Ludruk, Cak Kartolo sebenarnya galau dengan Ludruk ke depannya. Kecintaan anak mudah Surabaya tentang kesenian tradisional masih sangat minim.
Kesenian tradisional seperti Ludruk maupun wayang masih dianggap kuno bagi kaum milenial. Sehingga penerus akan kesenian saat ini masih terbatas. Hanya anak muda yang mempunyai kesadaran untuk melestarikan kesenian leluhur.
Bahkan ketika pertunjukan kesenian tradisional digelar penonton masih didominasi oleh generasi tua. Hanya segelintir anak muda yang menyaksikan.
Karena itu Kartolo banyak berharap pada generasi penerus agar tidak meninggalkan kesenian tradisional dan agar tetap lestari. Mencintai kesenian harus dengan kesadaran hati dan tidak bisa dipaksakan. Namun perlu wadah khusus bagi anak muda untuk bisa tetap melestarikan kesenian. Terutama dengan diinisiasi oleh pemerintah.
”Harapannya bagi generasi muda, yang penting jangan sampai dilupakan kesenian tradisional seperti ludruk, wayang, maupun remo. Eman, podo koyok wong Suroboyo tapi gak iso ngomong Suroboyoan (sama seperti orang Surabaya tapi gak bisa ngomong Surabaya),” kata Cak Kartolo.
Anak muda saat lebih suka menyanyi, apalagi ketika artis atau penyanyi dari luar negeri seperti Korea datang dipastikan banyak yang hadir untuk menonton.
Dibandingkan ketika kesenian tradisional tampil yang menonton berubah 360 derajat, anak muda jarang hadir, tinggal penonton usia lanjut yang masih bertahan hingga akhir pertunjukan.
”Ya, kurang generasi muda saat ini yang peduli terhadap kesenian tradisional. Mereka kadung senang artis luar negeri seperti dari Korea,” tuturnya.
Di Surabaya saat ini masih ada satu dua grup ludruk yang digawangi oleh anak-anak muda. Bagi Cak Kartolo sapaan akrabnya, anak-anak muda yang tergabung di grup ludruk sebagai motivasi bagi generasi saat ini. Mereka bisa mengajak sesama anak muda untuk melestarikan kesenian.
”Bagus juga ada ludruk nom-noman (muda-muda) supaya bisa narik anak muda zaman sekarang. Mereka kan penerus dalam berkesenian. Apalagi kalau ludruk nom-noman itu sering tampil di TV secara bergiliran, lebih terus mengena di anak mudah zaman sekarang,” terangnya.
Cak Kartolo juga berharap kepada pemerintah bisa memfasilitasi anak muda dalam berkesenian tradisional. Seperti memasukan seni tradisional ke dalam kurikulum. Dengan begitu eksistensi seni terus berjalan. Ditunjang dengan menampilkan anak muda dalam pagelaran seni tradisional.
”Yo sing ngajak kudune wong pemerintahan (yang mengajak harus orang pemerintahan). Mereka bisa memfasilitasi dengan memasukan seni ke kurikulum sekolah. Seperti ngidung, remo bisa dimasukkan dalam kurikulum. Kalau seniman kan tugasnya menghibur mengingatkan dalam hal kebaikan,” harap pria kelahiran 1947 tersebut.
Ia juga menceritakan pengalaman saya mulai melakoni debut ludruk dipanggung sejak 1968 di Prigen tempatnya lahir. Ketika itu ia melakoni peran menjadi Joko Berek. Secara sponton ia melontarkan banyolan (candaan) yang menjadikan banyak penonton menyukai banyolan tersebut.
”Penontonnya dulu luar biasa banyak. Mainnya dari kampung ke kampung terus di gedongan. Bahkan mereka (penonton, Red) juga bayar tiket saat pertunjukan digelar di gedung. Kalau main siang juga ramai penonton. Mungkin semangatnya ya dulu,” jelasnya.
Untuk mengolah bahan ludrukan seperti ngidung menurutnya memang sulit untuk dilakukan anak zaman now, ia sendiri harus mengarang syair tersebut. ”Ya anak muda sekarang karena gak suka jadi angel (sulit) untuk buat bahan ngidung. Tapi kalau lewat kesadaran, dan terus dilakukan akan mudah,” terang suami dari Kastini itu.
Memasuki usia 75 tahun, Cak Kartolo terus eksis melestarikan Ludruk sebagai kesenian tradisional. Bahkan beberapa kali juga kerap mengajak anak muda untuk tampil dalam lawakan. Sejumlah film ia bintangi seperti Tjokroaminoto, Terbang Menembus Langit, Yowis Ben 1,2 dan 3, hingga Lara Ati yang terkenal perannya sebagai Pak Bandi. (rmt/rak)
Editor : Jay Wijayanto