RADAR SURABAYA — Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur menaruh perhatian terhadap kesehatan mental atlet, khususnya atlet muda.
Langkah tersebut diwujudkan melalui dukungan terhadap kampanye “Ayah Bunda, Anak Laki-lakimu Butuh Kamu” yang
mendorong orang tua lebih terbuka dalam mendengarkan dan memahami kondisi psikologis anak laki-laki.
Kampanye tersebut didukung KONI Jawa Timur bersama Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Surabaya dan RSD Prof. Moeljono, Menur, Surabaya.
Kolaborasi itu menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak dan atlet untuk menyampaikan tekanan, persoalan, serta emosi yang mereka rasakan.
Kesehatan Mental Atlet Jadi Perhatian
Direktur RSD Prof.Moeljono, Menur, Surabaya, drg Vitria Dewi, M.Si mengatakan persoalan kesehatan mental pada anak dan remaja perlu mendapat perhatian serius.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Amankan Aset, Pedagang Tandes Keluhkan Khawatir Kehilangan Mata Pencaharian
Menurut dia, berdasarkan data yang dimiliki rumah sakit, persoalan kesehatan mental lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan, baik pada kelompok anak-anak maupun dewasa.
“Masalah mental itu lebih banyak di laki-laki daripada perempuan. Mau anak-anak, mau dewasa, itu lebih banyak laki-laki daripada perempuan,” ujar Vitria.
Ia mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menyediakan ruang bagi anak laki-laki untuk berbicara mengenai perasaan dan persoalan yang mereka hadapi.
Selama ini, anak laki-laki masih kerap dihadapkan pada stigma ketika menunjukkan emosi.
Anggapan bahwa laki-laki harus kuat dan tidak boleh menangis atau mengeluh dapat membuat anak memilih memendam masalah.
“Anak laki-laki kok cengeng, kok banyak omong. Namun, di situlah sebenarnya dia memendam perasaannya yang seharusnya ada suara yang kita semua dengarkan,” katanya.
Baca Juga: Fraksi PDIP DPRD Jatim Dorong Skema Fiskal Kendaraan Listrik
Atlet Muda Menghadapi Tekanan Berlapis
Vitria menilai perhatian terhadap kesehatan mental juga sangat penting bagi atlet muda.
Sebab, atlet tidak hanya membawa harapan keluarga, tetapi juga menjadi representasi Jawa Timur hingga Indonesia dalam berbagai ajang olahraga.
Tekanan yang dihadapi atlet dapat muncul dari berbagai sisi. Mulai dari tuntutan keluarga, hubungan orang tua dan anak, lingkungan pergaulan, perundungan, hingga target prestasi yang terlalu tinggi.
Menurut Vitria, tekanan tersebut dapat semakin berat ketika target kemenangan atau medali tidak sebanding dengan kemampuan atlet.
“Bisa saja mereka ditarget atau menargetkan diri harus menang, ditarget harus medali emas.
Padahal, itu justru menjadi beban besar yang dia rasakan di luar batas kemampuannya. Namun, dia tidak berani mengungkapkan kepada orang tuanya. Itu bisa saja menjadi satu tekanan luar biasa,” jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tekanan psikologis dapat memengaruhi kesiapan atlet ketika bertanding.
FPPI Dorong Orang Tua Lebih Terbuka
Ketua Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Surabaya, Nenny W. Gunarso, mengatakan kampanye “Ayah Bunda, Anak Laki-lakimu Butuh Kamu” lahir dari diskusi dan pengamatan terhadap berbagai persoalan yang dialami anak laki-laki.
Menurut Nenny, anak laki-laki juga memiliki kerentanan terhadap perundungan dan kekerasan.
Namun, persoalan tersebut terkadang kurang mendapatkan perhatian karena masih kuatnya anggapan bahwa laki-laki harus selalu kuat.
“Anak perempuan dan laki-laki itu sama-sama berhak mendapatkan kasih sayang, sama-sama berhak mendapatkan pelukan hangat. Tidak ada beda di sana,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebiasaan menahan emosi karena takut dianggap cengeng atau lemah justru dapat memberikan dampak buruk bagi perkembangan anak.
Karena itu, FPPI Surabaya mendorong orang tua untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan anak laki-laki.
Orang tua diharapkan tidak hanya menuntut pencapaian, tetapi juga memberikan ruang bagi anak untuk bercerita mengenai tekanan yang mereka alami.
KONI Jatim Siapkan Ruang Santai untuk Atlet
Dukungan terhadap kampanye tersebut juga datang dari Ketua KONI Jawa Timur, Muhammad Nabil.
Ia menilai persoalan tekanan mental sangat relevan dengan kehidupan atlet, terutama atlet muda yang harus menghadapi tuntutan prestasi dari berbagai pihak.
Menurut Nabil, tekanan dapat datang dari orang tua, pelatih, keluarga, masyarakat, hingga target pribadi atlet yang tidak selalu disesuaikan dengan kemampuan.
“Jangan sampai sebelum tanding sudah tegang, sudah nervous, sudah muncul masalah. Potensi kemenangannya juga pasti tereduksi cukup besar,” kata Nabil.
Untuk mendukung kesehatan mental atlet, KONI Jawa Timur berencana menjalin kerja sama dengan RSD Prof. Moeljono.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah menyediakan ruang santai atau ruang cangkrukan bagi atlet.
Ruang tersebut diharapkan dapat menjadi tempat atlet melakukan relaksasi sekaligus mengurangi tekanan sebelum maupun setelah menjalani aktivitas olahraga.
“Kita akan MOU dengan Rumah Sakit Daerah Prof. Moeljono. Segera,” tegas Nabil.
Tidak Hanya untuk Atlet Laki-laki
Nabil menegaskan program dukungan kesehatan mental tersebut nantinya tidak hanya diperuntukkan bagi atlet laki-laki.
Seluruh atlet di bawah pembinaan KONI Jawa Timur diharapkan dapat memperoleh manfaat dari program tersebut.
Menurutnya, kesehatan mental merupakan bagian penting dalam mendukung performa atlet.
Kondisi psikologis yang terjaga dapat membantu atlet menghadapi tekanan kompetisi dan menjaga konsistensi performa.
Kolaborasi KONI Jawa Timur, FPPI Surabaya, dan RSD Prof. Moeljono diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun lingkungan olahraga yang lebih sehat.
Dengan adanya ruang komunikasi dan relaksasi, atlet diharapkan tidak lagi merasa harus menghadapi tekanan seorang diri.
Dukungan dari keluarga, pelatih, organisasi olahraga, serta lingkungan sekitar menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental sekaligus mengoptimalkan prestasi atlet Jawa Timur.(sam)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan