Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ponpes Buduran Al Khoziny, Lebih Satu Abad Berdiri, Banyak Lahirkan Ulama Besar Negeri

Muhammad Firman Syah • Jumat, 3 Oktober 2025 | 15:30 WIB
Photo
Photo

Sidoarjo - Suasana duka masih menyelimuti Pondok Pesantren Al-Khoziny, Desa Buduran, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, pada Jumat (03/10). Paska mushala di kompleks pesantren itu runtuh, kini tik SAR dari berbagai daerah datang untuk membersihkan puing bangunan dan mengevakuasi para santri yang menjadi korban. Hal ini tentu menyisakan keprihatinan mendalam di kalangan santri dan masyarakat sekitar.

Di balik musibah yang memilukan itu, kembali terungkap jejak panjang sejarah Al-Khoziny sebuah pesantren yang dikenal dengan nama Ponpes Buduran. Ponpes yang telah berdiri lebih dari satu abad ini telah melahirkan banyak tokoh besar.

Berdasarkan tulisan yang dimuat di website NUcare Jatim, nama Al-Khoziny diambil dari pendirinya, KH. Raden Khozin Khoiruddin, atau Kiai Khozin. Beliau adalah menantu KH. Ya’qub dan pernah mengasuh Pesantren Siwalanpanji pada periode ketiga.

Beberapa sumber menyebut pesantren ini berdiri sekitar tahun 1926–1927. Namun, menurut kesaksian KH Ra Abdus Salam Mujib, pengasuh generasi ketiga sekaligus Rais PCNU Sidoarjo, pesantren ini sudah ada sejak 1920, bahkan bisa lebih tua.

Kesaksian itu diperkuat oleh cerita lisan seorang tamu asal Yogyakarta. Ia menyebut ayahnya pernah menjadi santri pertama KH Ra Moh. Abbas bin KH Ra Khozin Khoiruddin di Buduran pada 1920. Dari data tersebut, usia Pesantren Al-Khoziny diperkirakan telah melampaui 104 tahun.

Al-Khoziny memiliki keterkaitan erat dengan jaringan pesantren di Jawa. Sejumlah ulama besar tercatat pernah menimba ilmu di lingkungan Pesantren Siwalanpanji, tempat Kiai Khozin pernah mengasuh, di antaranya KH. Hasyim Asy’ari (Tebuireng, Jombang), KH. Abdul Wahab Hasbullah (Tambakberas, Jombang), KH. As’ad Syamsul Arifin (Situbondo) dan KH. Usman Al-Ishaqi (Al-Fitrah, Surabaya), KH. Nawawi (Ma'had Arriyadl Ringin Agung, Kediri).

Nama-nama besar tersebut menandai peran penting pesantren dalam melahirkan tokoh bangsa sekaligus penggerak dakwah Islam di Nusantara.

Menurut Moch Rofi’i Boenawi, alumnus Al-Khoziny dan Sekretaris NU Care-LAZISNU Jawa Timur, dokumentasi sejarah pesantren ini memang terbatas. Namun, cerita lisan para alumni sepuh dan pengasuh memperkuat bahwa keberadaan pesantren sudah lebih dari satu abad.

Hal itu juga diperkuat oleh Dr. Wasid Mansyur, penulis Biografi KH. Abdul Mujib Abbas (2012). Ia menyatakan pernah mendengar langsung cerita tentang usia pesantren dari Kiai Salam Mujib dan sejumlah alumni senior.

Pesantren Al-Khoziny dikenal sebagai pusat pendidikan Islam tradisional yang menekankan ilmu agama sekaligus pembinaan akhlak. Dari generasi ke generasi, para kiai pengasuh berperan menjaga tradisi keilmuan dan mengirimkan santri-santri untuk mengabdi di masyarakat.

Editor : M Firman Syah
#nu #buduran #runtuh #sidoarjo #Al Khoziny #sejarah