Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

BMKG Sebut 95 Persen Bencana di Indonesia Terkait Hidrometeorologi, Perubahan Iklim Perparah Risiko

Lambertus Hurek • Jumat, 25 April 2025 | 16:58 WIB
Ilustrasi cuaca ekstrem. (AI)
Ilustrasi cuaca ekstrem. (AI)

RADAR SURABAYA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa 95 persen bencana yang terjadi di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi. Bencana jenis ini, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, gelombang tinggi, dan kebakaran hutan, sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan iklim.

BMKG memperingatkan bahwa perubahan iklim global telah memperparah intensitas dan frekuensi bencana tersebut.

Penegasan ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam forum internasional yang diselenggarakan oleh Queen Mary University of London bekerja sama dengan National Bureau of Research and Innovation (NBRI).

Dalam forum tersebut, Dwikorita menekankan pentingnya membangun ketangguhan masyarakat melalui pendekatan multidisipliner yang komprehensif dan inklusif.

“Cuaca ekstrem yang dipicu berbagai faktor, termasuk perilaku sosial, telah menyebabkan bencana besar seperti banjir Jakarta pada tahun 2020. Ini menunjukkan bahwa bencana tidak hanya disebabkan oleh faktor alamiah semata,” ujarnya.

Berdasarkan data BMKG, potensi bencana di Indonesia terjadi sepanjang tahun, dengan pola risiko yang berganti mengikuti musim. Bulan Desember hingga Februari merupakan periode rawan banjir, tanah longsor, dan gelombang tinggi.

Maret hingga Mei merupakan masa pancaroba dengan potensi cuaca ekstrem. Sementara itu, musim kemarau pada Juni hingga Agustus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan kekeringan. Risiko kembali meningkat pada periode September hingga November.

BMKG juga mengajak seluruh pihak untuk meningkatkan literasi kebencanaan dan iklim, serta memperkuat sistem peringatan dini. Partisipasi masyarakat, pemerintah daerah, akademisi, dan sektor swasta dinilai penting dalam membangun ketahanan terhadap bencana yang bersifat berulang.

“Tanpa pendekatan yang inklusif dan kolaboratif, masyarakat akan tetap rentan. Edukasi, peringatan dini, dan gotong royong harus menjadi fondasi dalam menghadapi risiko bencana,” tambah Dwikorita. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#BMKG #Hidrometeorologi #bencana #dwikorita karnawati