KM Virgo Transport 8 Terbalik, Pakar ITS Soroti Desain Kapal

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 19:38 WIB
KM Virgo Transport 8. (Antara)
KM Virgo Transport 8 yang terbalik di perairan Masalembo. (Antara)

RADAR SURABAYA – Terbaliknya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 di perairan Kepulauan Masalembo, Laut Jawa, pada Minggu (13/9), memunculkan sorotan terhadap aspek teknis kapal.

Pakar hidrodinamika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menduga kesesuaian desain kapal dengan karakteristik perairan Indonesia menjadi salah satu faktor yang perlu dikaji.

Pakar Hidrodinamika sekaligus Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan ITS, Prof. Ir. I Ketut Aria Pria Utama, M.Sc., Ph.D., mengatakan desain kapal harus disesuaikan dengan karakteristik perairan dan rute pelayaran yang dilalui.

Menurut pakar yang akrab disapa Ikap tersebut, kemampuan kapal menghadapi gelombang laut atau seakeeping merupakan aspek penting dalam keselamatan pelayaran.

Baca Juga: Peserta Bahlil Mini Soccer Zona 7 Surabaya Siap Tampil Maksimal

Namun, aspek tersebut dinilai masih kerap kurang mendapat perhatian dalam perancangan maupun pengoperasian kapal.

Desain Kapal Perlu Sesuai Karakteristik Perairan

IKAP mengatakan usia kapal bukan satu-satunya faktor yang menentukan keselamatan. KM Virgo Transport 8 diketahui merupakan kapal bekas impor dari Jepang yang telah beroperasi sekitar 30 tahun.

Menurut dia, kapal berusia puluhan tahun tetap dapat beroperasi apabila mendapatkan perawatan secara rutin dan sesuai standar.

“Yang perlu dikritisi adalah apakah desain kapal buatan Jepang itu sesuai dan direkomendasikan untuk berlayar di lautan Indonesia dengan gelombang tinggi,” tuturnya, Rabu (16/9).

Prof. Ir. I Ketut Aria Pria Utama dari Departemen Teknik Perkapalan ITS menjelaskan kemungkinan faktor yang memicu terbaliknya KM Virgo Transport 8.(Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)
Prof. Ir. I Ketut Aria Pria Utama dari Departemen Teknik Perkapalan ITS menjelaskan kemungkinan faktor yang memicu terbaliknya KM Virgo Transport 8.(Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)

Ia menjelaskan, karakteristik perairan Jepang dan Indonesia memiliki perbedaan. Jepang memiliki wilayah laut yang relatif lebih tertutup dengan jarak antarpulau yang berdekatan.

Sementara itu, wilayah perairan Indonesia sangat luas dan memiliki sejumlah jalur pelayaran yang menghadapi gelombang tinggi.

Perbedaan tersebut membuat desain dan kemampuan kapal dalam menghadapi kondisi laut perlu disesuaikan dengan karakteristik rute yang dilalui.

Air Laut Masuk Kapal Jadi Dugaan Pemicu

Dari sisi teknis, Ikap menduga masuknya air laut dalam jumlah besar ke bagian dalam kapal dapat menjadi salah satu pemicu kapal kehilangan stabilitas.

Baca Juga: Sidang Kasus Pengeroyokan di PN Surabaya, Saksi Cabut Keterangan di BAP

Air laut dapat masuk akibat sejumlah kondisi, antara lain cuaca buruk, gelombang tinggi, atau pintu muat yang tidak tertutup secara kedap air.

Apabila air kemudian menggenang di geladak dan tidak segera dikeluarkan melalui sistem pemompaan, kondisi tersebut dapat memengaruhi keseimbangan kapal.

Efek permukaan bebas atau sloshing effect dapat menyebabkan air bergerak mengikuti olah gerak kapal.

Kondisi tersebut berpotensi membuat kapal bergoyang lebih besar dan kehilangan stabilitas.

Risiko juga dapat meningkat apabila kendaraan yang berada di dalam kapal tidak diikat secara kuat.

Pergeseran kendaraan ketika kapal mengalami oleng dapat mengubah distribusi massa dan titik berat kapal secara tiba-tiba.

“Risiko ini semakin diperparah jika kendaraan yang dimuat tidak diikat dengan benar sehingga bergeser dan mengubah titik pusat massa kapal secara drastis,” ungkapnya.

Keselamatan Penumpang Juga Jadi Perhatian

Selain aspek teknis, Ikap menyoroti pentingnya pemahaman penumpang terhadap prosedur keselamatan.

Awak kapal idealnya memberikan pengarahan mengenai prosedur darurat sebelum kapal berangkat.

Penumpang perlu mengetahui lokasi dan cara menggunakan perangkat keselamatan serta prosedur evakuasi apabila terjadi keadaan darurat.

“Hal ini krusial untuk memastikan penumpang memahami langkah evakuasi mandiri guna mengantisipasi situasi darurat di tengah laut yang tidak terduga,” pungkasnya. (rmt)

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
KM Virgo Transport 8 Masalembo Kepulauan Masalembo its