RADAR SURABAYA - Kabar hilangnya lima jurnalis dan tiga kru kapal saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mengundang keprihatinan dari kalangan jurnalis di Surabaya.
Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kota Surabaya bersama Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Surabaya dan sejumlah wartawan menggelar doa bersama di depan Taman Apsari, Surabaya, Jumat (11/9).
Doa bersama dengan dipimpin Humas Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Khoirul Anam. Kegiatan itu menjadi bentuk dukungan dan harapan agar seluruh jurnalis serta kru kapal yang masih dalam pencarian dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat.
Baca Juga: Guru Besar Unair Ungkap Kunci Cegah Karhutla: Jangan Biarkan Gambut Kering
Ketua PFI Kota Surabaya Suryanto mengatakan, kegiatan tersebut bukan aksi demonstrasi. Para jurnalis berkumpul untuk mendoakan rekan-rekan mereka yang hingga kini belum ditemukan.
“Ini sebenarnya bukan aksi, tapi ini adalah doa bersama untuk lima orang jurnalis dan tiga orang kru yang saat ini masih dalam pencarian. Harapan kami kelima jurnalis dan tiga orang kru ini bisa segera ditemukan dengan selamat,” ujar Suryanto di setelah kegiatan.
Lima jurnalis yang masih dalam pencarian yakni M. Bagus Khoirunnas dari Perum LKBN ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.
Baca Juga: Bulog Salurkan 7.542 Ton Beras untuk 251.412 Warga Kediri
Selain memanjatkan doa, para wartawan juga menyalakan lilin. Cahaya lilin tersebut menjadi simbol harapan agar seluruh jurnalis dan kru kapal segera ditemukan.
“Simbol lilin adalah simbol harapan dari kami semua agar kelima dan tiga orang rekan kami itu bisa segera ditemukan,” kata Suryanto.
PFI Surabaya bersama PFI Pusat juga terus berkoordinasi dengan organisasi jurnalis, tim SAR gabungan, serta keluarga para korban untuk memantau perkembangan pencarian. Koordinasi juga dilakukan dengan perusahaan media tempat para jurnalis bekerja.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya keselamatan bagi jurnalis ketika menjalankan tugas di lapangan. Terlebih, tugas jurnalistik terkadang mengharuskan wartawan berada di lokasi dengan tingkat risiko tinggi, seperti kawasan gunung berapi, laut, hingga wilayah konflik.
Baca Juga: RAPBD Jawa Timur 2027 Defisit Rp 1,015 Triliun, Bakal Ditutp dengan SiLPA
Suryanto menilai jurnalis memang harus mendekati objek liputan untuk mendapatkan informasi maupun visual. Namun, hal itu harus dibarengi dengan perhitungan jarak aman dan mitigasi risiko.
“Sebagai jurnalis, kita memang harus mendekat, tetapi tidak boleh terlalu dekat dan tidak boleh terlalu jauh. Mitigasi risiko itu memang harus dihitung,” katanya.
Menurut dia, persiapan dan mitigasi risiko tetap tidak bisa menghilangkan seluruh potensi bahaya. Kondisi alam dapat berubah sewaktu-waktu dan sulit diprediksi.
“Namanya alam juga kita tidak bisa lawan. Mungkin tiba-tiba ada ombak besar, itu kita tidak bisa hitung. Itu yang tidak bisa kita prediksi,” ujarnya.
Baca Juga: Anas Karno Pantau Langsung Layanan IKD di Panjang Jiwo, Apresiasi Layanan Jemput Bola
Karena itu, PFI Surabaya berencana memperkuat pembekalan keselamatan bagi jurnalis. Salah satunya melalui pelatihan mitigasi risiko bencana yang sebelumnya telah direncanakan organisasi tersebut.
Saat ini, program tersebut masih dalam tahap persiapan, termasuk menentukan materi pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan jurnalis saat bertugas di lapangan.
PFI Surabaya juga mendorong perusahaan media untuk memberikan pembekalan keselamatan hingga sertifikasi khusus kepada jurnalis sebelum ditugaskan ke wilayah berisiko tinggi.
Baca Juga: Debut di Championship, Aji Santoso Bidik 3 Poin untuk de Red FC
“Harusnya sebelum jurnalis diberangkatkan ke peliputan konflik atau wilayah konflik, media sendiri sudah membekali dengan sertifikasi-sertifikasi khusus. Jadi yang diberangkatkan adalah orang-orang yang memang sudah memiliki sertifikasi khusus untuk wilayah tersebut,” tuturnya.
Bagi para jurnalis di Surabaya, doa bersama tersebut menjadi bentuk solidaritas sekaligus pengingat bahwa keselamatan harus tetap menjadi bagian penting dalam menjalankan tugas jurnalistik. (sam/gun)
Editor : Guntur IriantoSumber : radar surabaya