RADAR SURABAYA – Limbah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan di kawasan pesisir Tambak Wedi, Kecamatan Kenjeran, Surabaya, mulai dilirik sebagai sumber daya bernilai ekonomi. Melalui inovasi eco-paving, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, mengolah limbah plastik low-value dan oli bekas menjadi bahan alternatif untuk produksi paving block.
Program bertajuk “Pemberdayaan Rumah Padat Karya Pesisir melalui Edukasi dan Penerapan Teknologi Paving Block Berbasis Sampah Plastik Low Value untuk Penguatan Ekonomi Lokal” tersebut tidak sekadar berorientasi pada pengurangan sampah. Lebih jauh, inovasi ini dirancang untuk memperkuat produktivitas dan ketahanan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang tergabung dalam Rumah Padat Karya (RPK) Tambak Wedi Lancar Berkah dan Sinar Barokah.
Program ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat, Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM), Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM).
Tim pengmas Unair dipimpin Ir. Chandrawati Putri Wulandari, S.T., M.T., MBA., Ph.D., bersama Kartika Nur 'Anisa', S.Si., MBA., Ph.D., Gunawan Setia Prihandana, Ph.D., Komang Nickita Sari, S.T., M.T., dan Nabila Ramadhaniar, S.T., M.Sc. Mereka berkolaborasi dengan RPK Tambak Wedi Lancar Berkah dan Sinar Barokah yang dikepalai Fathur Rozak.
Gagasan pengembangan eco-paving berangkat dari dua persoalan yang saling berkaitan. Di satu sisi, kawasan pesisir Tambak Wedi menghadapi persoalan penumpukan sampah plastik sekali pakai dan limbah oli bekas yang berpotensi mencemari lingkungan perairan.
Di sisi lain, aktivitas produksi di RPK juga menghadapi kendala ketersediaan bahan baku. Keterlambatan pasokan semen dan pasir komersial bahkan dapat menyebabkan penghentian produksi (downtime) selama tujuh hingga delapan hari kerja. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kehilangan omzet hingga sekitar Rp26,6 juta.
Inovasi eco-paving kemudian dikembangkan sebagai salah satu alternatif untuk menjawab kedua persoalan tersebut. Limbah kantong plastik berbahan LDPE/HDPE dan oli bekas dimanfaatkan dalam formulasi material paving sebagai alternatif penggunaan matriks semen murni. Selain mengurangi beban limbah, inovasi ini diharapkan menjadi back-up produksi sehingga aktivitas ekonomi warga tetap dapat berjalan ketika pasokan bahan baku konvensional mengalami kendala.
“Program ini tidak hanya berbicara tentang bagaimana sampah diolah menjadi produk, tetapi bagaimana teknologi dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat keberdayaan masyarakat. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kami dorong agar memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi,” kata Chandrawati.
Pelaksanaan program dimulai pada 9 Juni 2026 melalui kunjungan awal tim UNAIR ke RPK Tambak Wedi. Kegiatan tersebut mencakup sosialisasi, penyamaan persepsi, evaluasi, serta identifikasi kondisi lingkungan dan kebutuhan produksi mitra.
Tahap berikutnya berlangsung pada 24–26 Juli 2026, ketika tim bersama mitra melakukan pengumpulan limbah plastik low-value di sekitar kawasan pesisir. Selanjutnya, pada 30 Juli 2026, tim mulai mengembangkan desain prototipe peralatan produksi, mulai dari alat pencacah plastik, alat pengaduk, hingga mesin pencetak paving.
Chandrawati menambahkan, memasuki Agustus, rangkaian kegiatan semakin intensif. Pada 1 Agustus dilakukan sosialisasi hasil tinjauan literatur formulasi, dilanjutkan fabrikasi peralatan pada 10 Agustus serta persiapan penelitian dan evaluasi percobaan campuran bahan pada 12–14 Agustus 2026.
Untuk mendukung keberlanjutan produksi, tim juga mengembangkan seperangkat mesin bantu produksi skala prototipe yang meliputi unit pencacah plastik, thermal mixer, dan alat cetakan paving.
"Pengembangan peralatan tersebut dilakukan melalui diskusi bersama mitra dan benchmarking terhadap mesin produksi paving konvensional yang telah digunakan RPK Tambak Wedi. Hasil evaluasi mendorong sejumlah penyesuaian desain agar peralatan lebih presisi, ergonomis, dan sesuai dengan karakteristik material limbah plastik", tambahnya.
Saat ini, rangkaian mesin bantu tersebut memasuki tahap akhir pengerjaan atau finishing. Peralatan ditargetkan dapat diserahterimakan secara resmi kepada pihak RPK pada akhir September 2026.
Tak berhenti pada pengembangan prototipe, tim juga melakukan pengujian terhadap karakteristik fisik dan mekanik produk untuk memastikan tingkat keandalan eco-paving.
Pengujian dilakukan secara independen di Laboratorium Beton, Material Maju dan Komputasi Mekanik, Departemen Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, pada 24–28 Agustus 2026.
Dari lima sampel prototipe berukuran 10,5 cm × 10,5 cm × 6 cm, variasi tanpa oli dengan agregat pasir halus berkode 1.1.1A mencatat tegangan hancur tertinggi sebesar 92,26 kg/cm², dengan tekanan hancur mencapai 9,60 ton.
Sementara itu, sampel tanpa oli dengan agregat kerikil berkode 1.1.1B memiliki tegangan hancur sebesar 85,08 kg/cm². Variasi campuran lainnya, yakni kode 5.4.1, 6.4.1, dan 7.12.1, masing-masing menghasilkan tegangan hancur sebesar 45,02 kg/cm², 31,06 kg/cm², dan 53,19 kg/cm².
Hasil tersebut menjadi bagian penting dalam evaluasi formulasi eco-paving yang dikembangkan. Berdasarkan hasil pengujian awal, produk menunjukkan potensi untuk dimanfaatkan pada kebutuhan sarana dengan beban tertentu, khususnya area pejalan kaki (pedestrian) maupun pelataran permukiman, dengan tetap mempertimbangkan spesifikasi dan standar teknis penggunaan.
Aspek keselamatan kerja juga menjadi perhatian dalam pengembangan teknologi tersebut. Operasional produksi dirancang dengan memperhatikan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), termasuk penggunaan thermal mixer yang dilengkapi sistem isolasi untuk mengendalikan emisi asap selama proses produksi.
Selain perangkat teknologi, tim pengmas Unair juga menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi serta menerbitkan booklet edukasi berjudul “Produksi Eco-Paving dari Limbah Plastik dan Oli Bekas untuk Pemberdayaan Masyarakat”. Booklet tersebut telah resmi terdaftar sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan diharapkan menjadi panduan teknis bagi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan proses produksi.
Komang Nickita Sari menambahkan, pengembangan eco-paving dilakukan dengan pendekatan yang tidak berhenti pada menghasilkan produk. Menurutnya, keberhasilan program juga diukur dari kemampuan masyarakat untuk memahami teknologi, mengoperasikan peralatan, menjaga kualitas produksi, serta mengembangkan produk secara mandiri.
“Teknologinya harus bisa diterima dan digunakan oleh masyarakat. Karena itu, kami tidak hanya membuat alat dan produk, tetapi juga menyiapkan edukasi, SOP, serta pendampingan agar nantinya masyarakat memiliki kemampuan untuk melanjutkan proses produksi secara mandiri,” jelas Komang.
Melalui inovasi tersebut, limbah plastik low-value yang sebelumnya berakhir sebagai persoalan lingkungan perlahan diarahkan menjadi bagian dari rantai ekonomi baru. Di kawasan pesisir Tambak Wedi, teknologi sederhana berbasis kebutuhan masyarakat itu diharapkan dapat mempertemukan dua kepentingan sekaligus menjaga lingkungan dan membuka peluang ekonomi.
Bagi tim pengmas Unair, eco-paving bukan sekadar produk berbahan limbah. Ia menjadi simbol bagaimana inovasi perguruan tinggi dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat mengubah persoalan menjadi peluang, sekaligus mendorong tumbuhnya kemandirian ekonomi dari tingkat lokal. (ind/gun)
Editor : Guntur Irianto
Sumber : radar surabaya