RADAR SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU)
menjadi momentum penting untuk memperkuat soliditas organisasi, persatuan warga Nahdliyin, serta peran NU dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Muktamar Ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026, dinilai menjadi ruang strategis untuk menentukan arah perjalanan organisasi sekaligus merumuskan langkah NU pada masa depan.
“Semoga Muktamar NU ini menjadi momentum kebaikan bagi NU, momentum untuk semakin mengonsolidasikan organisasi,
memperkuat persaudaraan umat, dan bersama-sama mewujudkan NU sebagai bagian strategis dalam memajukan bangsa,” kata Khofifah dalam keterangannya di Jombang, Jumat (28/8).
Baca Juga: Penerbangan Internasional di Bandara Juanda Surabaya Mulai 1987, Harus Transit Dulu di Jakarta
Muktamar NU Bukan Sekadar Forum Kepemimpinan
Menurut Khofifah, Muktamar NU tidak hanya menjadi forum untuk menentukan arah organisasi dan kepemimpinan.
Lebih dari itu, forum tertinggi Nahdlatul Ulama tersebut juga menjadi ruang muhasabah untuk melihat kembali perjalanan pengabdian NU kepada umat, bangsa, dan negara.
Melalui Muktamar Ke-35 NU, organisasi Islam terbesar di Indonesia itu diharapkan mampu merumuskan langkah strategis dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Khofifah menilai soliditas menjadi modal utama bagi NU untuk terus menjalankan khidmat organisasi di tengah perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat.
Dengan basis warga yang besar serta jaringan pesantren dan lembaga pendidikan yang tersebar luas, NU memiliki potensi besar untuk mengambil peran strategis dalam berbagai persoalan kebangsaan.
Namun, besarnya potensi tersebut harus diiringi kemampuan organisasi untuk beradaptasi terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dan tradisi keulamaan yang menjadi akar perjuangan NU.
“Bagaimana nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah tetap menjadi pijakan, tetapi pada saat yang sama NU mampu menjawab berbagai persoalan baru yang dihadapi masyarakat dan bangsa.
Ini menjadi tantangan sekaligus ruang pengabdian NU ke depan,” ujarnya.
Tantangan NU di Era Perubahan
Khofifah menyebut sejumlah tantangan yang harus dihadapi NU semakin beragam. Mulai perkembangan teknologi dan ekonomi digital, perubahan iklim, bonus demografi, persoalan pendidikan dan ketenagakerjaan, hingga dinamika geopolitik global.
Baca Juga: Polda Jatim Minta Orang Tua Tingkatkan Pengawasan Aktivitas Anak, Antisipasi Ajakan Kegiatan Anarki
Menurut dia, berbagai persoalan tersebut membutuhkan respons bersama dan peran organisasi yang kuat serta adaptif.
Karena itu, Muktamar Ke-35 NU diharapkan mampu memperkuat kepemimpinan organisasi yang tidak hanya mampu menjawab perubahan zaman, tetapi juga merawat persatuan seluruh elemen NU.
Khofifah menegaskan perbedaan pandangan dalam organisasi merupakan sesuatu yang wajar.
Namun, seluruh proses dan dinamika yang terjadi harus tetap berada dalam bingkai persatuan serta kepentingan bersama.
“Soliditas dan persatuan harus menjadi kekuatan utama agar NU semakin besar manfaatnya bagi umat dan bangsa,” katanya.
Penguatan Ekonomi Warga Nahdliyin
Selain konsolidasi organisasi, Khofifah juga menaruh perhatian terhadap penguatan ekonomi warga Nahdliyin.
Ia menilai NU perlu terus mendorong pemberdayaan ekonomi melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), koperasi, pendidikan vokasi, ekonomi syariah, serta berbagai sektor produktif.
Langkah tersebut dinilai penting untuk membuka lapangan kerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Warga Nahdliyin harus semakin berdaya, mandiri, dan produktif. Ini bisa dilakukan melalui UMKM, koperasi, pendidikan vokasi, ekonomi syariah, maupun penguatan sektor-sektor produktif,” ujarnya.
Penguatan ekonomi warga, menurut Khofifah, menjadi salah satu aspek penting agar NU tidak hanya kuat secara organisasi dan sosial, tetapi juga mampu membangun kemandirian ekonomi umat.
Muktamar Ke-35 NU berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Forum permusyawaratan tertinggi Nahdlatul Ulama tersebut dibuka oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (27/8).
Muktamar diikuti oleh utusan pengurus NU dari berbagai daerah di Indonesia maupun perwakilan dari luar negeri.
Melalui forum tersebut, NU diharapkan mampu memperkuat konsolidasi internal, menjaga persatuan warga Nahdliyin, serta merumuskan arah organisasi dalam menjawab tantangan sosial, ekonomi, teknologi, dan kebangsaan pada masa mendatang.
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan