Pakar 5 Negara Berkumpul di Surabaya, Bahas Inovasi Berkelanjutan Hadapi Tantangan Global

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 19:47 WIB
Forum internasional ICASVI 2026 di Surabaya mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari lima negara untuk membahas inovasi berkelanjutan. (Istimewa)
Forum internasional ICASVI 2026 di Surabaya mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari lima negara untuk membahas inovasi berkelanjutan. (Istimewa)

RADAR SURABAYA – Pakar dari lima negara berkumpul di Surabaya untuk membahas inovasi berkelanjutan dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Mulai dari krisis iklim, transisi energi, disrupsi teknologi, hingga kebutuhan industri hijau menjadi perhatian dalam The 3rd International Conference on Aligning Sustainability with Vocational Innovation (ICASVI) 2026.

Konferensi internasional yang digelar Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut mengusung tema “Applied Innovation for Sustainable Impact”.

Forum ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk bertukar pengetahuan sekaligus

membahas inovasi terapan yang dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan dunia industri.

Pendidikan vokasi dinilai memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan tersebut.

Baca Juga: Cegah Perundungan, AMN Surabaya Siapkan Program Orientasi untuk Mahasiswa Baru

 Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan solusi yang relevan dengan perubahan zaman.

ICASVI 2026 Dorong Inovasi Berkelanjutan

Beragam isu strategis dibahas dalam ICASVI 2026. Di antaranya desain digital ramah lingkungan, infrastruktur hemat energi, sistem produksi sirkular, hingga pengembangan mobilitas cerdas.

Berbagai topik tersebut menunjukkan semakin pentingnya peran pendidikan vokasi dalam menghasilkan inovasi terapan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Pengembangan, Kerja Sama, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi Unesa, Dwi Cahyo Kartiko, mengatakan konferensi tersebut menjadi wadah untuk memperkuat kolaborasi dan kemitraan internasional.

“Konferensi ini menjadi ruang untuk bertukar ide, memperkuat kemitraan internasional, serta mengembangkan solusi praktis bagi pembangunan berkelanjutan.

Hal tersebut sejalan dengan komitmen Unesa dalam memperkuat internasionalisasi, riset berkualitas, dan kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya, Senin (10/8).

Baca Juga: Fun Match Midtown Indonesia 2026, Perkuat Sportivitas dan Kebersamaan dengan Badminton

Menurut dia, kolaborasi lintas negara diperlukan agar perguruan tinggi dapat menghasilkan riset dan inovasi yang mampu menjawab persoalan nyata di tengah perubahan global yang berlangsung cepat.

Fokus Pendidikan Vokasi Bergeser ke Isu Keberlanjutan

Dekan Fakultas Vokasi Unesa, Suprapto, menjelaskan tema ICASVI 2026 disesuaikan dengan perkembangan isu strategis global.

Jika konferensi sebelumnya lebih menitikberatkan pada transformasi digital, tahun ini perhatian diarahkan pada isu keberlanjutan sebagai respons terhadap perubahan tantangan global.

“Melalui konferensi ini, kami ingin membangun ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman lintas negara sehingga pendidikan vokasi dapat terus berkembang mengikuti perubahan yang terjadi,” paparnya.

Menurut Suprapto, pendidikan vokasi harus terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, kebutuhan industri, serta tuntutan pembangunan yang semakin mengedepankan aspek lingkungan dan keberlanjutan.

Pakar dari Malaysia hingga Australia Hadir di Surabaya

ICASVI 2026 menghadirkan lima pembicara utama dari Malaysia, Inggris, Australia, Taiwan, dan Indonesia.

Kelima pembicara tersebut adalah Prof. Ts. Dr. Mariyam Jameelah Ghazali dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Dr. Stavros Michailos dari The University of Hull, Inggris,

Prof. Dr. Stephen Billett dari Griffith University, Australia, Prof. Shyh-Huei Hwang, Ph.D. dari National Yunlin University of Science and Technology, Taiwan,

serta Dr. Beny Bandanadjaja, S.T., M.T., Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Tinggi.

Para pakar tersebut menyampaikan perspektif mengenai masa depan inovasi berkelanjutan dari berbagai bidang keilmuan.

Materi yang dibahas antara lain efisiensi energi melalui pengembangan tribologi, strategi dekarbonisasi dengan teknologi penangkapan karbon dan hidrogen rendah karbon, serta penguatan pendidikan vokasi agar semakin adaptif terhadap perubahan dunia kerja.

Selain itu, pembahasan juga mencakup pelestarian budaya lokal melalui pendekatan keberlanjutan.

Bahas Teknologi hingga Industri Hijau

Forum internasional tersebut juga menyoroti kebutuhan transformasi pendidikan vokasi untuk menghadapi percepatan teknologi digital dan perubahan kebutuhan industri.

Perkembangan Internet of Things (IoT), desain cerdas, rekayasa perangkat lunak, praktik pembangunan inklusif, serta tata kelola berkelanjutan menjadi bagian dari pembahasan dalam sesi paralel.

ICASVI 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai forum pertukaran gagasan. Hasil penelitian dan inovasi yang dipresentasikan diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat.

Dengan demikian, pendidikan vokasi dapat semakin berperan dalam menciptakan sumber daya manusia yang adaptif sekaligus menghasilkan solusi terapan untuk menghadapi tantangan global.(rmt) 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
pendidikan vokasi ICASVI 2026 Universitas Negeri Surabaya UNESA