Wamendiktisaintek: Pendidikan Vokasi Harus Relevan dengan Dunia Kerja untuk Tekan Pengangguran

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 19:46 WIB
Wamendiktisaintek Prof. Fauzan. (Humas)
Wamendiktisaintek Prof. Fauzan. (Humas)

RADAR SURABAYA – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd, menegaskan bahwa pendidikan vokasi di Indonesia harus semakin relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) agar mampu menekan angka pengangguran lulusan vokasi.

Penegasan tersebut disampaikan saat membuka Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) ke-11 di Lapangan Rektorat Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kampus II Lidah Wetan, Minggu (2/8) malam.

Ajang nasional yang diinisiasi Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) itu mempertemukan ribuan mahasiswa vokasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk berkompetisi sekaligus menunjukkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.

Tahun ini, Fakultas Vokasi Unesa dipercaya menjadi tuan rumah dengan mengusung tema Synergizing for Sustainable Innovation: Transforming Ideas into Real-World Impact. Kompetisi diikuti sekitar 1.500 tim yang terdiri atas hampir 4.700 mahasiswa dari seluruh Indonesia.

Baca Juga: KONI Jatim Dorong Kesehatan Mental Atlet, Pelatih Diminta Jadi Ruang Aman bagi Atlet Laki-Laki

 Setelah melalui proses seleksi, sebanyak 363 finalis dari 65 perguruan tinggi lolos ke babak final pada 26 cabang lomba. Mereka didampingi 130 dosen pembimbing serta dinilai oleh 78 juri dari kalangan industri dan akademisi.

Prof. Fauzan menegaskan, OLIVIA tidak boleh berhenti sebagai ajang seremonial, melainkan harus menjadi momentum memperkuat kualitas pendidikan vokasi agar selaras dengan kebutuhan pasar kerja.

"Forum Vokasi ini benar-benar harus merumuskan satu program yang saat ini menjadi perhatian negara, yaitu relevansi.

Perguruan tinggi vokasi memiliki tanggung jawab besar untuk merealisasikan kesesuaian antara program studi, kompetensi mahasiswa, dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Ini tantangan besar dan tidak mudah," ujarnya.

Ia menyoroti fakta bahwa Indonesia memiliki lebih dari 1.000 perguruan tinggi vokasi. Namun, tingginya jumlah institusi tersebut belum berbanding lurus dengan penyerapan lulusan di dunia kerja.

Menurutnya, masih tingginya angka pengangguran lulusan vokasi menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah.

"Di Indonesia, pendidikan vokasi jumlahnya banyak, lebih dari 1.000. Di sisi lain, pengangguran berijazah vokasi juga masih banyak.

 Tentu ini tidak boleh dibiarkan. Maka, tujuannya adalah menguatkan relevansi. Saat ini kebersamaan baru pada tataran permukaan, belum menjawab persoalan riil di masyarakat. Perlu penguatan bersama," tegasnya.

Untuk itu, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berencana mengumpulkan pengurus Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia guna menyusun ekosistem pendidikan vokasi yang lebih kuat, adaptif, dan terintegrasi dengan kebutuhan industri.

Baca Juga: MIM Dupan Raih Radar Surabaya Awards 2026, Bukti Komitmen Membangun Generasi Berkarakter

Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Prof. Dr. Martadi, M.Sn., mengatakan OLIVIA bukan sekadar ajang mencari juara, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi, inovasi, dan pengembangan talenta muda Indonesia.

Menurutnya, pendidikan vokasi memiliki peran strategis karena mengedepankan keterampilan praktis, kedekatan dengan dunia industri,

serta kemampuan menghasilkan karya terapan yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

"OLIVIA bukan sekadar mencari siapa yang menang, tetapi merupakan ruang untuk menyemai benih kolaborasi, inovasi, dan talenta muda Indonesia yang kelak akan memimpin negeri ini.

 Kepada seluruh finalis, tunjukkan sportivitas dan karya terbaik. Junjung tinggi integritas serta semangat kebangsaan dalam merawat kebinekaan," ujar Martadi.

Melalui OLIVIA ke-11, Unesa bersama FPTVI berharap lahir inovasi-inovasi terapan yang tidak hanya unggul dalam kompetisi, tetapi juga mampu menjawab tantangan dunia kerja,

memperkuat daya saing lulusan vokasi, dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan nasional.(rmt) 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
prof fauzan UNESA vokasi