RADAR SURABAYA – Membangun kampus inklusif, aman, dan ramah bagi seluruh sivitas akademika menjadi tantangan perguruan tinggi di era modern.
Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D., menegaskan bahwa kualitas perguruan tinggi masa depan tidak lagi ditentukan semata oleh prestasi akademik,
tetapi juga oleh kemampuannya menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, sehat secara mental, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.
Pernyataan tersebut disampaikan Bambang saat menjadi pembicara dalam gelar wicara bertajuk Universitas Inklusif dan Antikekerasan: Aksesibilitas, Kesejahteraan, dan Kesempatan yang Setara pada rangkaian U25 PTN-BH Leaders Forum 2026 di Universitas Gadjah Mada, Minggu (2/8).
"Universitas harus mampu membangun ekosistem yang berpusat pada manusia (human-centered ecosystem)," ujarnya.
Menurut Bambang, kampus inklusif tidak hanya mengakomodasi keberagaman, tetapi juga mampu memastikan setiap individu memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.
Karena itu, inovasi di perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan teknologi canggih, melainkan harus mampu memberikan solusi atas persoalan kemanusiaan.
Komitmen tersebut diwujudkan ITS melalui lima pilar utama, yakni tata kelola, infrastruktur, kampus digital, kesejahteraan, dan inovasi yang inklusif.
Dari komitmen itu lahir berbagai teknologi asistif bagi penyandang disabilitas, seperti Neutrack AI Glove, sarung tangan pintar berbasis kecerdasan buatan untuk
membantu navigasi penyandang tunanetra dan penderita Alzheimer, BaaDaaBoo sebagai media edukasi, SMILE Hand Therapy untuk terapi fisik berbasis gim, hingga MobiAi, kursi roda pintar yang dikendalikan melalui gerakan mata.
"Teknologi harus dikembangkan dengan empati agar tidak ada seorang pun yang tertinggal," tegasnya.
Selain aksesibilitas, Bambang menekankan pentingnya kesehatan mental sebagai fondasi kampus yang sehat.
Ia mendorong penerapan pendekatan Look, Listen, Link, yaitu mengenali gejala sejak dini, memberikan pendampingan secara empatik, dan menghubungkan individu dengan layanan profesional sebelum persoalan berkembang lebih serius.
"Seluruh sivitas akademika perlu memiliki kemampuan dasar untuk mengenali gejala awal, mendengarkan dengan empati, serta menghubungkan mereka dengan layanan profesional," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Bambang juga menegaskan bahwa pencegahan kekerasan seksual harus menjadi prioritas seluruh perguruan tinggi.
Menurutnya, keberadaan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) harus diperkuat melalui regulasi yang jelas, sistem pelaporan yang tepercaya, serta mekanisme penanganan yang cepat dan berpihak kepada korban.
"Perkuat kebijakan, bangun sistem pelaporan yang tepercaya, dan pastikan penanganan dilakukan secara cepat serta berpihak kepada korban," ujarnya.
Ia menambahkan, meningkatnya jumlah laporan kasus tidak selalu menunjukkan kegagalan sistem.
Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi indikator bahwa kepercayaan sivitas akademika terhadap mekanisme perlindungan kampus semakin meningkat.
Bambang mengajak seluruh pimpinan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) menjadikan inklusivitas, kesehatan mental, dan pencegahan kekerasan sebagai agenda bersama.
Langkah tersebut dinilai selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 tentang pendidikan berkualitas,
tujuan ke-10 mengenai pengurangan kesenjangan, dan tujuan ke-17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Dengan membangun kampus yang aman, inklusif, dan peduli terhadap kesehatan mental, perguruan tinggi diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya unggul
secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan karakter yang kuat di tengah tantangan masa depan.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan