RADAR SURABAYA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmen pemerintah dalam mempercepat hilirisasi hasil riset perguruan tinggi.
Salah satu buktinya, Kementerian Pertanian (Kementan) RI membeli benih jagung unggulan senilai Rp10 miliar serta sejumlah alat pertanian inovatif hasil penelitian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan dan PT ITS Tekno Sains di Kampus ITS, Surabaya, Rabu (22/7).
Amran mengatakan, langkah tersebut merupakan tindak lanjut atas instruksi Presiden yang meminta seluruh kementerian dan lembaga memprioritaskan penggunaan produk hasil riset dalam negeri.
Baca Juga: Bursa Transfer: Deal! Aston Villa Sepakat Rekrut Alejandro Garnacho dari Chelsea
"Ini instruksi Presiden agar produk-produk hasil riset anak bangsa diprioritaskan. Jika kualitasnya baik, pemerintah wajib mendukung agar dapat dimanfaatkan secara luas," ujar Amran.
Dalam kerja sama itu, Kementan mengadopsi tiga inovasi unggulan ITS, yakni traktor listrik, alat pemanjat kelapa Mocits, dan mesin penanam padi Ropatama.
Ketiga teknologi tersebut telah melewati uji coba lapangan dan dinilai siap diterapkan untuk mendukung modernisasi sektor pertanian nasional.
Menurut Amran, alat pemanjat kelapa memiliki peran penting dalam meningkatkan produktivitas sekaligus keselamatan petani.
Indonesia sendiri merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia dengan produksi mencapai 2,8–3 juta ton per tahun.
"Teknologi seperti ini akan membantu petani bekerja lebih aman dan efisien sehingga produktivitas dapat terus meningkat," katanya.
Selain alat pertanian, Kementan juga membeli 200 ton benih jagung unggulan hasil penelitian dosen Biologi ITS, Mukhammad Muryono, dengan nilai mencapai Rp10 miliar.
Benih tersebut memiliki produktivitas hingga 10 ton per hektare dan mampu memenuhi kebutuhan tanam di lahan seluas sekitar 13.000 hektare.
Keunggulan tersebut dinilai mampu mendukung peningkatan produksi jagung nasional tanpa harus membuka lahan baru.
Baca Juga: FA Resmi Dakwa Tonda Eckert, Skandal Spygate Southampton Kian Memanas
Amran bahkan menjanjikan peningkatan pengadaan apabila performa benih tersebut tetap konsisten di lapangan.
"Jika hasilnya terbukti konsisten, kami akan meningkatkan pengadaan hingga 10 kali lipat atau senilai Rp100 miliar dalam kurun 10 tahun ke depan. Inilah strategi meningkatkan produksi tanpa perlu menambah luas lahan," tegasnya.
Sementara itu, Rektor ITS Prof. Dr. (H.C.) Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc.Eng., menyambut baik kepercayaan yang diberikan pemerintah kepada ITS.
Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi siap menjadi motor penghasil inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Namun, menurutnya, proses hilirisasi memerlukan kolaborasi erat dengan dunia industri agar inovasi dapat diproduksi secara massal.
"Kami siap melanjutkan ke tahap produksi massal apabila seluruh teknologi ini terbukti optimal.
Namun, perguruan tinggi tidak dapat berjalan sendiri. Kami membutuhkan mitra industri untuk memasuki tahap manufaktur," ujarnya.
Kolaborasi antara Kementan dan ITS ini menjadi contoh nyata sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dan industri dalam mempercepat hilirisasi riset nasional.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak inovasi karya anak bangsa yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan sektor pertanian Indonesia.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan