RADAR SURABAYA — Transformasi digital mendorong perubahan besar dalam sistem pendidikan vokasi di Indonesia.
Fakultas Vokasi Universitas Airlangga terus memperbarui kurikulum agar lulusan lebih siap kerja dan mampu bersaing di dunia industri yang semakin terdigitalisasi.
Hal tersebut mengemuka dalam Konferensi Nasional Vokasi Konferensi Nasional Vokasi yang digelar di Majapahit Hall, ASEEC Tower, Kampus B Unair Surabaya, Kamis (11/6).
Kurikulum vokasi disesuaikan dengan kebutuhan industri digital
Dekan Fakultas Vokasi Unair, Prof. Dian Yulie Reindrawati, menegaskan bahwa perkembangan era digital menuntut adanya penyesuaian besar dalam dunia pendidikan, khususnya vokasi.
Menurutnya, seluruh program studi harus beradaptasi agar tidak tertinggal dan tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Sekarang semua serba digitalisasi. Kami harus mengikuti arah itu. Program studi yang sebelumnya belum berbasis digital, kami ubah menjadi berbasis digital,” ujarnya.
Sejumlah perubahan kurikulum telah dilakukan, di antaranya D3 Akuntansi menjadi D3 Akuntansi Digital, D3 Pemasaran menjadi D4 Pemasaran Digital, serta D3 Perpustakaan bertransformasi menjadi D4 Kearsipan dan Informasi Digital.
Lulusan cepat terserap, masa tunggu kerja ditekan
Prof. Dian menyebut, salah satu indikator keberhasilan transformasi kurikulum adalah tingginya serapan lulusan di dunia kerja.
Banyak mahasiswa yang telah menjalani program magang langsung direkrut oleh perusahaan tempat mereka bekerja.
Kondisi ini mendorong penyesuaian sistem pembelajaran, termasuk perubahan jadwal magang yang kini ditempatkan di semester akhir untuk menghindari hambatan penyelesaian studi akibat rekrutmen dini oleh industri.
“Harapannya, masa tunggu kerja lulusan kami bisa ditekan menjadi nol,” tegasnya.
Soft skill jadi perhatian utama selain kemampuan teknis
Selain penguatan hard skill, Fakultas Vokasi Unair juga menekankan pentingnya pembentukan soft skill seperti kedisiplinan, ketepatan waktu, dan tanggung jawab.
Baca Juga: Perbanas Optimistis Perbankan Nasional Tetap Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi
Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah aturan ketat dalam perkuliahan, termasuk larangan masuk kelas bagi mahasiswa yang terlambat, sebagai bagian dari pembentukan karakter profesional sejak awal perkuliahan.
“Yang sering dikeluhkan industri bukan kemampuan teknis, tetapi kedisiplinan dan etos kerja. Itu yang kami tanamkan sejak semester satu,” jelasnya.
Wadah inovasi dan kolaborasi pendidikan vokasi
Selain sebagai forum akademik, Konferensi Nasional Vokasi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempresentasikan karya ilmiah dan inovasi.
Ketua pelaksana, Hanifiyah Yuliatul Hijriah, menjelaskan bahwa karya mahasiswa dipresentasikan melalui presentasi lisan dan e-poster yang telah melalui proses seleksi ketat.
“Penilaian mencakup kualitas karya ilmiah, substansi, cara presentasi, hingga desain e-poster,” katanya.
Ia berharap kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antarperguruan tinggi sekaligus memperkuat pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan