RADAR SURABAYA – Jawa Timur kembali mengukuhkan diri sebagai lumbung pangan nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 2 Juni 2026,
provinsi ini mencatat potensi produksi padi terbesar di Indonesia untuk periode Januari–Juli 2026.
Potensi produksi padi Jawa Timur diproyeksikan mencapai 7,71 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) hingga Juli 2026.
Angka tersebut meningkat 5,49 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 7,30 juta ton GKG.
Capaian ini menempatkan Jawa Timur di posisi teratas secara nasional, melampaui Jawa Tengah dengan potensi produksi 7,00 juta ton GKG dan Jawa Barat sebesar 5,98 juta ton GKG.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyebut peningkatan produksi padi tersebut merupakan hasil sinergi antara petani, penyuluh pertanian, pemerintah daerah, TNI, kelompok tani, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Alhamdulillah, capaian ini menunjukkan bahwa kerja keras para petani dan seluruh pemangku kepentingan sektor pertanian Jawa Timur memberikan hasil yang nyata.
Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang selama ini berikhtiar menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan,” ujar Khofifah di Surabaya, Kamis (4/6).
Jawa Timur Perkuat Status sebagai Lumbung Pangan Nasional
Menurut Khofifah, capaian tersebut membuktikan bahwa sektor pertanian Jawa Timur tetap tumbuh positif dan mampu mempertahankan peran strategisnya sebagai penyangga utama ketahanan pangan nasional.
Peningkatan produksi terjadi di tengah berbagai tantangan, termasuk perubahan iklim global yang berdampak pada sektor pertanian di berbagai daerah di Indonesia.
“Ini bukan sekadar angka statistik, tetapi bukti nyata ketangguhan petani Jawa Timur serta kuatnya ekosistem pertanian yang terus kita bangun bersama.
Baca Juga: Gedung Balai Kota Surabaya Sempat Dijuluki Gedung Seribu Gulden, Begini Alasannya
Jawa Timur akan terus berkomitmen menjaga perannya sebagai lumbung pangan nasional,” tegasnya.
Selain produksi yang meningkat, luas panen padi di Jawa Timur juga menunjukkan tren positif. Data BPS mencatat luas panen pada Januari–Juli 2026 diperkirakan mencapai 1,38 juta hektare, naik dari 1,30 juta hektare pada periode yang sama tahun lalu atau tumbuh sebesar 5,49 persen.
Khofifah menilai peningkatan luas panen tersebut menjadi indikator bahwa produktivitas sektor pertanian di Jawa Timur tetap terjaga dengan baik.
“Peningkatan luas panen ini menunjukkan bahwa produktivitas pertanian Jawa Timur tetap terjaga.
Ini sekaligus mempertegas peran Jawa Timur sebagai salah satu penyangga utama ketahanan pangan nasional,” katanya.
Strategi Pemprov Jatim Tingkatkan Produksi Padi
Keberhasilan peningkatan produksi padi Jawa Timur tidak lepas dari berbagai program yang dijalankan Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten/kota, TNI, penyuluh pertanian, dan kelompok tani.
Untuk menjaga tren positif tersebut, Pemprov Jatim terus mempercepat program Luas Tambah Tanam (LTT) melalui optimalisasi lahan pertanian potensial di berbagai wilayah.
Langkah tersebut didukung penggunaan benih unggul bersertifikat yang adaptif terhadap perubahan iklim, optimalisasi alat dan mesin pertanian (alsintan), serta penerapan teknologi budidaya yang lebih modern dan efisien.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat infrastruktur sumber daya air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan sistem irigasi perpompaan, dan peningkatan ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Pemprov Jatim juga mengembangkan sistem deteksi dini terhadap ancaman bencana pertanian dan gangguan produksi.
Melalui sistem pelaporan yang lebih cepat dan terintegrasi, risiko gagal panen dapat diminimalkan.
“Jawa Timur akan terus berikhtiar menjaga stabilitas dan produktivitas sektor pertanian. Melalui sinergi dan kolaborasi seluruh pihak, kami optimistis mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia,” ujar Khofifah.
Produktivitas Pertanian Jatim Diharapkan Terus Meningkat
Khofifah berharap capaian tersebut menjadi motivasi bagi seluruh pelaku sektor pertanian untuk terus meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Dengan dukungan teknologi, infrastruktur, dan kebijakan yang berpihak kepada petani, Jawa Timur diyakini mampu mempertahankan posisinya sebagai produsen padi terbesar di Indonesia.
“Keberhasilan ini bukan hanya capaian statistik, tetapi juga wujud nyata dedikasi para petani yang setiap hari bekerja menjaga ketersediaan pangan bangsa.
Insyaallah, keberpihakan terhadap sektor pertanian akan terus menjadi prioritas pembangunan Jawa Timur,” pungkasnya.(mus)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan