Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Internet Tetap Patriarki! Perempuan Makin Aktif di Maya, Malah Jadi Target Empuk Pelecehan

Rahmat Sudrajat • Selasa, 26 Mei 2026 | 05:06 WIB
Kampanye stop kekerasan sekaual. (Rahmat Sudrajat)
Kampanye stop kekerasan sekaual. (Rahmat Sudrajat)

RADAR SURABAYA – Partisipasi perempuan di era digital mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, aktivitas daring ini membawa konsekuensi serius berupa meningkatnya kasus kekerasan siber.

Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT), Prof. Dra. Myrtati Dyah Artaria, M.A., Ph.D., memperingatkan bahwa ruang maya 

menyimpan risiko tinggi mulai dari body shaming, penghakiman fisik, hingga ancaman kekerasan seksual berbasis teknologi.

"Budaya patriarki di masyarakat nyata turut terbawa ke ranah daring," ungkap Prof. Myrtati dalam keterangannya, Senin (25/5).

Menurutnya, teknologi hanyalah alat, namun pola pikir dan perlakuan manusia terhadap perempuan di internet masih serupa dengan dunia offline.

Baca Juga: PBVSI Surabaya Gelar Seleksi Atlet Voli Indoor untuk Target Emas Porprov 2027

Dua Sisi Mata Uang di Era Digital

Bagi Prof. Myrtati, seorang pakar Bio-Antropologi dan Antropologi Forensik, ruang digital ibarat pisau bermata dua.

Di satu sisi, platform daring memberikan kebebasan bagi perempuan untuk berkarir, memperluas jaringan, hingga menyuarakan ide-ide kritis.

Namun di sisi lain, kemudahan akses informasi justru memudahkan pelaku untuk melontarkan komentar negatif dan melakukan pelecehan verbal secara masif.

"Seringkali, ketika perempuan berbicara tentang suatu topik, respons yang muncul justru menyerang identitas pribadi mereka, bukan substansi gagasan yang disampaikan," jelasnya.

 Identitas perempuan, baik terkait penampilan fisik maupun peran sosialnya, kerap dijadikan bahan sorotan dan bahkan pencideraan di kolom komentar media sosial.

Eskalasi Ancaman: Dari Komentar Ringan hingga Kekerasan Nyata

Data dan kajian antropologis menunjukkan bahwa kekerasan siber terhadap perempuan jarang terjadi dalam waktu singkat.

Prosesnya biasanya bertingkat, dimulai dari hal-hal sepele yang dianggap lucu atau bercandaan oleh pelakunya.

Baca Juga: Fenomena Langka: Matahari Tepat di Atas Ka'bah Bertepatan Hari Arafah 2026

Sejak komentar merendahkan (bullying) dan body shaming, eskalasinya bisa berubah menjadi penyebaran data pribadi (doxing), teror online, dan berakhir pada aksi kekerasan seksual yang dilakukan melalui jalur digital.

Dampak psikologis dari rantai peristiwa ini bersifat jangka panjang, mengganggu kesehatan mental, stabilitas emosi, hingga menghambat perkembangan karier korban.

 Urgensi Literasi Digital dan Perlindungan Hukum

Melihat maraknya kasus tersebut, Prof. Myrtati mendesak pemerintah dan masyarakat untuk segera meningkatkan indeks literasi digital.

 Selama ini, banyak pengguna internet salah kaprah mengira bahwa kebebasan berpendapat berarti boleh mengeluarkan segala jenis ucapan tanpa batas etiket dan tanggung jawab.

"Dunia digital membutuhkan suara, karya, dan perspektif perempuan. Jangan biarkan ketakutan membuat Anda mundur," pungkas Prof. Myrtati.

Kendati demikian, beliau menekankan bahwa langkah preventif dan kewaspadaan diri tetaplah krusial sebagai benteng pertahanan pertama dalam menghadapi dinamika ruang siber.

Partisipasi perempuan di media sosial berbanding lurus dengan risiko mendapatkan kekerasan siber.

Mulai dari body shaming hingga ancaman seksual, akar masalahnya terletak pada sisa budaya patriarki yang belum hilang sepenuhnya.

Solusi utamanya terletak pada peningkatan literasi digital dan pemahaman batasan etika dalam berkomunikasi daring.(rmt) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#body shaming #myrtati dyah artaria #kekerasan siber #doxing #bullying