RADAR SURABAYA - Menjelang berakhirnya masa pemberangkatan jemaah haji 21 Mei mendatang dan puncak ibadah haji.
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya mencatat sebanyak 8 jemaah dalam kondisi hamil, di mana 6 di
antaranya dinyatakan laik terbang, sementara 2 lainnya harus membatalkan keberangkatan demi alasan keselamatan dan kesehatan.
Kepala Bidang Kesehatan PPIH Embarkasi Surabaya, Rosidi Roslan, menyebut hasil pemeriksaan kesehatan yang telah dilakukan terhadap seluruh calon jemaah.
Dari 8 jemaah yang positif hamil, hasil USG menunjukkan 6 orang memenuhi syarat usia kehamilan untuk terbang.
Baca Juga: Petani Garam Desak Penetapan HPP untuk Lindungi Harga di Tingkat Produksi
Sementara 2 lainnya batal diberangkatkan, masing-masing karena usia kehamilan 6–7 minggu dengan risiko tinggi karena usia ibu
di atas 35 tahun dan disarankan dokter untuk istirahat total, serta satu lainnya berusia kandungan 31–32 minggu.
“Pemeriksaan kehamilan menunjukkan hasil positif 8 orang. Enam di antaranya berangkat karena usia kehamilan memenuhi syarat terbang, dan 2 batal berangkat.
Yang batal, satu berusia kandungan 6/7 minggu berisiko tinggi karena usia lebih 35 tahun disarankan bedrest, dan satu lagi di usia 31/32 minggu,” ungkap Rosidi, Selasa (19/5).
Pihaknya tetap memantau perkembangan jemaah haji yang hamil di tanah suci. Selain itu koordinasi dengan tim dokter kloter juga dilakukan.
"Kami terus pantau perkembangannya yang hamil. Jangan sampai beraktivitas yang melelahkan selama di sana," tuturnya.
Sementara itu Rosidi juga menyebut jemaah haji yang risiko tinggi (risti) sebanyak 29.692 orang atau setara 76,69 persen jemaah memiliki riwayat penyakit.
"Tiga kategori risiko tertinggi adalah hipertensi sebanyak 11.403 orang, diabetes melitus 4.853 orang, dan hiperkolesterol 4.180 orang," jelasnya.
Selama di Embarkasi Surabaya jumlah jemaah yang berkunjung ke klinik embarkasi tercatat 1.272 orang dengan keluhan
terbanyak berupa hipertensi sebanyak 625 kasus, anemia 93 kasus, diabetes melitus 72 kasus, dan diare 57 kasus.
"Sebanyak 114 orang harus dirujuk ke Rumah Sakit, dengan rincian 78 rawat jalan dan 36 lainnya dirawat inap karena berbagai kondisi medis seperti anemia, gangguan pernapasan, hingga gangguan jantung," tutur Rosidi.
Selain itu Rosidi menyebutkan sebanyak 12 orang batal berangkat karena alasan kesehatan.
Dari jumlah batal kesehatan, 11 orang batal karena kondisi medis yang berisiko seperti tumor, gangguan ginjal, stroke, hingga demensia, dan 1 orang lainnya meninggal dunia di RS Haji.
"Ada yang masih dirawat 6 orang masih diobservasi dan menunggu status istitaahnya (laik terbang)," imbuhnya.
Secara keseluruhan, tercatat 13 jemaah wafat selama masa pelayanan, dengan rincian 1 orang meninggal di Embarkasi, 12 orang meninggal dunia setelah tiba di Arab Saudi,
baik di tempat menginap, rumah sakit, maupun saat sa’i. Penyebab wafat terbanyak adalah gangguan jantung dan syok septik.
“Jamaah wafat di Embarkasi berjumlah 1 orang, sedangkan yang wafat di Arab Saudi ada 12 orang dengan beragam diagnosa medis, mulai dari gagal napas, syok kardiogenik, hingga infeksi berat,” jelas Rosidi.
Terkait penanganan di jalur Mecca Route, tim kesehatan menangani 18 kasus penyakit ringan hingga sedang seperti mual muntah, gangguan pencernaan, gangguan mobilitas, hingga kecurigaan penyakit jantung.
Sementara itu, kloter 16 yang berjumlah 380 jemaah sempat harus transit di Medan selama satu hari namun kini sudah diberangkatkan ke Tanah Suci.
"Untuk yang turun di Medan karena kondisi kesehatan ada tiga jemaah dua pendamping. Mereka berasal dari kloter 16, kloter 93, dan kloter 97.
Ada yang sempat menjalani observasi kesehatan di IGD beserta pendampingnya," pungkasnya. (rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan