Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dari Lepet ke Tanah Suci: Perjalanan Haji Ema Della di Usia 87 Tahun

Rahmat Sudrajat • Kamis, 14 Mei 2026 | 06:49 WIB
Aisyah Ismail atau Ema Della kini terbang ke Tanah Suci. (Rahmat Sudrajat)
Aisyah Ismail atau Ema Della kini terbang ke Tanah Suci. (Rahmat Sudrajat)

RADAR SURABAYA - Rabu pagi, langkah Aisyah Ismail tampak pelan saat berada di Asrama Haji Surabaya.

 Tubuhnya renta, langkahnya tidak lagi gesit, dan usianya telah menginjak 87 tahun. Namun, di balik keterbatasan fisik itu, tersimpan tekad yang tak pernah surut: menunaikan ibadah haji.

Perempuan yang akrab disapa Ema Della itu bukanlah sosok berada. Sehari-hari, ia hanya penjual lepet atau keleso—makanan tradisional berbahan ketan—di Desa Lamahala Jaya, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dari dapur sederhana di kampung kecilnya, perjalanan panjang itu dimulai.

Selama puluhan tahun, Ema Della menjalani hidup dengan kesederhanaan. Penghasilannya dari berjualan lepet tidak menentu.

 Kadang dagangannya habis, kadang tersisa. Namun, dari hasil yang tak seberapa itu, ia selalu menyisihkan sedikit uang.

Baca Juga: Resmi Sandang Gelar Doktor, Ashanty Sukses Jalani Sidang Disertasi di Unair Surabaya Usai 4 Kali Judul Ditolak 

Recehan demi recehan ia kumpulkan. Uang Rp50 ribu, Rp100 ribu, hingga Rp200 ribu disimpan dengan penuh harap.

Bukan untuk kebutuhan sesaat, melainkan untuk satu tujuan besar: berangkat ke Tanah Suci.

“Hasil jualan tidak menentu, tetapi saya selalu menyisihkan sedikit demi sedikit untuk pelunasan,” tuturnya lirih.

Niat itu bukan baru kemarin sore. Ema Della telah mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji sejak 2014. Artinya, ia harus menunggu sekitar 12 tahun lamanya, sambil menabung. 

Waktu yang panjang bagi siapa pun, terlebih bagi seorang lansia.

Namun, Ema Della tidak pernah goyah. Ia tetap berjualan, tetap menabung, dan tetap berdoa. Di kampungnya, ia dikenal sebagai sosok pekerja keras dan penuh ketabahan.

“Keinginan berhaji sudah ada sejak puluhan tahun lalu,” ujarnya.

Baca Juga: HUT ke-61, PGN Perkuat Resiliensi dan Infrastruktur untuk Ketahanan Energi Nasional

Tahun demi tahun berlalu. Harapan itu sempat terasa jauh. Bahkan, tak sedikit orang yang meragukan apakah ia akan benar-benar berangkat.

Hingga akhirnya, panggilan itu datang.

Namanya tercatat sebagai jemaah haji Kloter 80 NTT yang berangkat melalui Embarkasi Surabaya. Bahkan, ia menjadi jemaah tertua dalam kelompok tersebut.

Perjalanan menuju Tanah Suci pun dimulai.

Bagi Ema Della, keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan spiritual yang telah ia perjuangkan sepanjang hidupnya.

Ia meninggalkan kampung kecilnya dengan membawa doa, harapan, dan cerita panjang tentang kesabaran.

“Karena masa tunggu yang lama, akhirnya keluarga mengetahui saya berangkat tahun ini,” katanya.

Kini, Ema Della telah bertolak menuju Jeddah, Arab Saudi, bersama ratusan jemaah lainnya. Di usianya yang senja, ia menapaki rukun Islam kelima—sebuah impian yang akhirnya menjadi kenyataan.

Kisah Ema Della adalah pengingat sederhana: bahwa mimpi, seberapa pun jauhnya, dapat diraih dengan usaha, doa, dan kesabaran.

Dari lepet yang ia jual setiap hari, dari recehan yang ia kumpulkan perlahan, hingga doa yang tak pernah putus—semuanya bermuara pada satu tujuan. Tanah Suci.(rmt) 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#ema della #jemaah haji NTT #Haji 2026 #embarkasi surabaya