RADAR SURABAYA - Mei 1998 adalah salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Indonesia. Gelombang demonstrasi mahasiswa yang menuntut reformasi politik dan turunnya Presiden Soeharto berkembang menjadi kerusuhan besar di berbagai kota.
Peristiwa ini tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga meninggalkan trauma sosial yang mendalam, terutama bagi komunitas Tionghoa Indonesia.
Pada akhirnya, aksi Mei 1998 menjadi momentum yang mengakhiri rezim Orde Baru dan membuka jalan bagi era Reformasi.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya, Rabu 13 Mei 2026, Siang Terasa Panas Menyengat hingga 42 Derajat Celcius
Latar Belakang Peristiwa
Aksi Mei 1998 tidak muncul begitu saja. Krisis moneter Asia 1997 menjadi pemicu utama, ketika nilai rupiah jatuh drastis hingga mencapai Rp 16.000 per dolar AS.
Harga kebutuhan pokok melonjak, pengangguran meningkat, dan masyarakat semakin terpuruk.
Di sisi lain, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang merajalela di bawah pemerintahan Orde Baru menambah ketidakpuasan publik.
Sistem politik yang otoriter dengan Dwi Fungsi ABRI juga mengekang kebebasan sipil, sehingga tuntutan reformasi semakin kuat.
Puncak peristiwa terjadi pada Mei 1998. Pada 12 Mei 1998, tragedi penembakan mahasiswa Universitas Trisakti menewaskan empat orang dan memicu gelombang protes lebih besar.
Kerusuhan kemudian meluas pada 13–15 Mei 1998 di Jakarta, Medan, Surakarta, dan beberapa kota lain.
Baca Juga: Mengingat Kembali Sejarah Kelam Tragedi Mei 1998, Duka dan Luka Bangsa Sepanjang Masa
Akhirnya, pada 21 Mei 1998, Presiden Soeharto resmi mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa, menandai berakhirnya Orde Baru.
Aksi Mei 1998 melibatkan berbagai pihak. Mahasiswa dari universitas-universitas besar menjadi motor utama gerakan reformasi.
Masyarakat sipil, termasuk kelompok pro-demokrasi dan warga yang terdampak krisis ekonomi, ikut turun ke jalan.
Aparat keamanan (TNI dan Polri) terlibat dalam pengamanan, namun tindakan represif mereka justru memperparah ketegangan.
Baca Juga: Modus Investasi, Sugianto Ditahan Kejari Surabaya Usai Tipu Korban hingga Rp 440 Juta
Selain itu, komunitas Tionghoa Indonesia menjadi korban kekerasan, penjarahan, dan diskriminasi yang terjadi selama kerusuhan.
Peristiwa Besar dan Jumlah Korban
Awalnya, demonstrasi mahasiswa berlangsung damai dengan tuntutan reformasi politik.
Namun, tragedi Trisakti mengubah situasi menjadi lebih tegang. Penembakan terhadap mahasiswa memicu kemarahan publik dan kerusuhan besar.
Baca Juga: Eri Cahyadi Pastikan Investigasi Dugaan Keracunan MBG Ratusan Siswa Surabaya
Di Jakarta, terjadi aksi penjarahan, pembakaran, dan kekerasan seksual terhadap perempuan.
Ketegangan politik semakin memuncak ketika mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR, menuntut reformasi total dan pengunduran diri Soeharto. Situasi ini membuat stabilitas negara berada di titik kritis.
Dampak aksi Mei 1998 sangat besar. Lebih dari 1.000 orang tewas, sebagian besar akibat kebakaran dan kerusuhan massal.
Baca Juga: Strategi Hyundai Hillstate: Alasan Rekrut Jordan Wilson Demi Manjakan Megawati Hangestri
Laporan resmi mencatat adanya 168 kasus pemerkosaan, mayoritas menimpa perempuan Tionghoa.
Kerugian material mencapai sekitar Rp 3,1 triliun. Selain itu, peristiwa ini mempercepat jatuhnya Soeharto dan menandai awal Era Reformasi, yang membuka jalan bagi demokratisasi, kebebasan pers, dan perubahan sistem politik di Indonesia.
Aksi Mei 1998 adalah tragedi sekaligus momentum besar yang mengubah arah sejarah Indonesia.
Meski meninggalkan luka mendalam dengan ribuan korban jiwa dan trauma sosial, peristiwa ini membuka jalan bagi demokratisasi dan reformasi politik.
Baca Juga: Haji 2026: Mengapa Jemaah Haji NTT dan Bali Lebih Pilih Embarkasi Surabaya? Ini Alasannya!
Hingga kini, Mei 1998 tetap dikenang sebagai pengingat bahwa perjuangan rakyat mampu mengguncang rezim yang berkuasa, sekaligus menegaskan pentingnya menjaga demokrasi dan keadilan sosial di Indonesia. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari