RADAR SURABAYA – Kasus kehilangan Kartu Nusuk pada jemaah haji Embarkasi Surabaya tercatat sangat minim. Namun, sebagian besar kejadian justru dialami oleh jemaah lanjut usia (lansia).
Di sisi lain, kebijakan distribusi Kartu Nusuk sejak di tanah air pada musim haji 2026 dinilai jauh lebih efektif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Penanggung jawab Nusuk Syarikah Al Bait Guests di Surabaya, Ahmad Mahyudin, menyampaikan bahwa proses penerimaan hingga pembagian Kartu Nusuk berjalan lancar tanpa kendala berarti.
Bahkan, aktivasi kartu berlangsung sangat cepat, yakni kurang dari satu menit.
“Dari penerimaan hingga pembagian berjalan lancar. Permasalahan hampir tidak ada. Proses aktivasi kartu juga sangat cepat, kurang dari satu menit,” ujar Ahmad, Senin (11/5).
Baca Juga: Fraksi Gerindra DPRD Jatim Dorong Jawa Timur Inklusif Lewat Raperda Disabilitas
Kasus Kehilangan Minim, Didominasi Jemaah Lansia
Meski distribusi berjalan optimal, masih ditemukan kasus kehilangan Kartu Nusuk. Namun, jumlahnya sangat kecil, yakni kurang dari 10 kasus dari ribuan jemaah yang telah diberangkatkan dari Embarkasi Surabaya.
Menurut Ahmad, mayoritas kehilangan dialami oleh jemaah lansia. Faktor usia membuat mereka lebih rentan lupa menyimpan barang atau tidak menyadari saat kartu terlepas.
“Rata-rata yang kehilangan adalah jemaah lansia. Ada yang lupa menaruh, ada juga yang tidak sadar kartunya jatuh karena banyak atribut yang digunakan,” jelasnya.
Kehilangan kartu umumnya terjadi saat jemaah beraktivitas, seperti ketika makan, menjalani pemeriksaan di poliklinik, atau saat berada di dalam bus.
Sistem Digital Jadi Solusi Kehilangan Kartu Nusuk
Untuk mengantisipasi dampak kehilangan, pemerintah telah menerapkan sistem identitas ganda.
Selain kartu fisik, identitas jemaah juga tersedia dalam bentuk digital melalui aplikasi Nusuk.
Jemaah cukup memasukkan nomor paspor dan visa untuk mengakses identitas digital. Sementara itu, jika kehilangan terjadi di Tanah Suci, jemaah dapat melapor kepada ketua kloter untuk segera dilakukan pencetakan ulang kartu.
Kartu Nusuk Wajib untuk Akses Ibadah Haji
Ahmad menegaskan, Kartu Nusuk merupakan identitas resmi yang wajib dimiliki setiap jemaah selama berada di Arab Saudi.
Kartu ini menjadi syarat utama untuk mengakses sejumlah lokasi penting selama ibadah haji.
Tanpa Kartu Nusuk, jemaah tidak dapat memasuki kawasan Masjidil Haram di Makkah maupun Masjid Nabawi di Madinah.
Selain itu, kartu ini juga menjadi syarat mengikuti puncak ibadah haji di Arafah, Mina, dan Muzdalifah (Armuzna).
“Kartu Nusuk adalah identitas utama jemaah. Tanpa kartu ini, jemaah tidak bisa menjalankan rangkaian ibadah haji,” tegasnya.
Imbauan: Jemaah Harus Lebih Waspada
Untuk mencegah kehilangan, jemaah diimbau lebih berhati-hati dalam menjaga barang bawaan, terutama Kartu Nusuk.
Petugas kloter dan pembimbing ibadah juga secara rutin mengingatkan pentingnya membawa kartu tersebut.
Bahkan, terdapat aturan ketat yang mengharuskan jemaah menunjukkan Kartu Nusuk sebelum diperbolehkan naik bus selama di Tanah Suci.
“Kalau tidak membawa Kartu Nusuk, jemaah tidak diperbolehkan naik bus. Jadi, ini harus benar-benar dijaga,” kata Ahmad.
Distribusi di Tanah Air Dinilai Lebih Efektif
Kebijakan distribusi Kartu Nusuk sejak di Indonesia menjadi terobosan baru pada musim haji 2026.
Ahmad menilai langkah ini jauh lebih efektif dibandingkan sistem sebelumnya yang dilakukan di Arab Saudi.
Selain meminimalkan kendala teknis, distribusi lebih awal juga membantu jemaah beradaptasi dengan penggunaan kartu sebelum tiba di Tanah Suci.
Pihaknya memastikan, jika terjadi kehilangan, proses pencetakan ulang tetap berjalan cepat karena didukung tim khusus yang siaga di embarkasi maupun di Arab Saudi.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan