RADAR SURABAYA– Disrupsi teknologi informasi dinilai membawa perubahan besar dalam pola hidup dan interaksi masyarakat.
Perubahan tersebut, menurut Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Jawa Timur, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, turut mengikis nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Ia menilai, masyarakat saat ini semakin terdorong ke arah individualisme, materialisme, hingga gaya hidup hedonisme.
Hal itu disampaikan LaNyalla saat memberikan kuliah umum bertema Budaya Spiritual yang digelar Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU) dalam kegiatan Pendadaran Juru Pitutur se-Jawa Timur di Dau, Malang, Kamis (7/5) malam.
Pancasila Dinilai Jadi Penyeimbang Gaya Hidup Modern
Dalam pemaparannya, LaNyalla menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila justru bertolak belakang dengan dampak negatif era digital.
Menurutnya, Pancasila mengajarkan bahwa manusia Indonesia adalah makhluk sosial yang hidup dengan nilai gotong royong dan tepo seliro.
Selain itu, budaya bangsa Indonesia juga berakar pada kekeluargaan dan spiritualisme.
“Oleh karena itu, saya memberikan apresiasi kepada PAMU yang tetap eksis menjaga akar budaya tradisi dan budaya spiritual yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tanah Nusantara ini,” ujar LaNyalla.
PAMU Dinilai Berperan Jaga Tradisi dan Harmoni Sosial
LaNyalla juga menyoroti makna pirukunan sebagai identitas PAMU yang bukan sekadar nama organisasi, melainkan nilai kehidupan.
Pirukunan, kata dia, mencerminkan kehidupan yang terikat dalam satu rasa, satu tujuan, dan satu nilai kebajikan.
“Di dalam keluarga besar PAMU terdapat struktur yang saling menguatkan. Ada sesepuh, pinisepuh, juru pitutur, hingga para kadang yang menjadi pelaku di lapangan. Sinergi ini membuat PAMU tetap kokoh,” jelasnya.
Baca Juga: Liverpool Vs Chelsea: Van Dijk Akui Musim The Reds Sangat Mengecewakan
Budaya Spiritual dan Jati Diri Bangsa
Lebih lanjut, LaNyalla menekankan pentingnya budaya spiritual sebagai upaya merawat tradisi dan memperkuat jati diri bangsa Indonesia.
Ia menyebut, jati diri bangsa pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dari nilai spiritualitas yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Karena itu penting untuk mengamalkan Pancasila. Manusia Pancasila adalah manusia yang berketuhanan, memanusiakan manusia, menjaga persatuan, mengutamakan musyawarah, dan memperjuangkan keadilan sosial,” tegasnya.
Dorongan untuk Membumikan Pancasila di Masyarakat
LaNyalla juga mengajak keluarga besar PAMU untuk terus mendorong penguatan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, budaya berfungsi sebagai sarana merawat perilaku manusia, sementara spiritualitas menjadi cara menjaga jiwa.
Dorongan Regulasi untuk Penghayat Kepercayaan dan Masyarakat Adat
Dalam kesempatan yang sama, Direktur BKMA Kementerian Kebudayaan, Sjamsul Hadi, menyoroti pentingnya dukungan regulasi bagi penghayat kepercayaan dan masyarakat adat.
Ia berharap DPD RI dapat mendorong lahirnya kebijakan yang menjamin perlindungan hukum, pengakuan identitas, serta ruang ekspresi budaya.
Penguatan tersebut, menurutnya, penting bagi masyarakat hukum adat, termasuk komunitas lokal seperti Suku Tengger di Lumajang, Jawa Timur.
Tokoh Budaya dan Pemerintah Daerah Hadir
Kuliah umum tersebut juga diisi oleh Ketua Umum DPP PAMU Ki Cokro Wibowo Sumarsono, Jajuk Rendra Kresna (Anggota DPRD Jawa Timur),
Endah Budi Heryani (Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur Kementerian Kebudayaan), serta Asep Kusnidar (Kepala BAKORWIL III Malang).
Kegiatan ini menegaskan pentingnya sinergi antara budaya, spiritualitas, dan nilai Pancasila dalam menghadapi tantangan era digital.
Di tengah arus modernisasi, penguatan jati diri bangsa dinilai menjadi kunci agar masyarakat tidak kehilangan arah dalam perubahan zaman.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan