RADAR SURABAYA – Menjelang pemberangkatan jemaah haji gelombang kedua ke Tanah Suci, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya masih menghadapi persoalan serius berupa banyaknya kursi kosong (open seat) pada penerbangan gelombang pertama.
Hingga saat ini, tercatat sebanyak 25 kursi belum terisi, meskipun proses pemberangkatan terus berjalan setiap hari.
Ketua PPIH Embarkasi Surabaya, Mohammad As’adul Anam, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipicu tingginya angka mutasi keluar jemaah.
Berdasarkan data terbaru, terdapat 51 jemaah tertunda keberangkatannya, sementara pengganti yang masuk baru mencapai 26 orang.
“Banyak jemaah yang sakit saat sudah berada di asrama. Ketika itu terjadi, kursinya tidak bisa langsung digantikan,” ujar Anam, Selasa (5/5).
Aturan Manifest Maskapai Jadi Hambatan Pengisian Kursi Kosong
Anam menegaskan, kendala utama dalam mengisi kursi kosong adalah aturan ketat terkait perubahan manifest penumpang dari maskapai penerbangan.
Baca Juga: Sebulan, 141 Jukir Ditindak Polrestabes Surabaya, Wilayah Sawahan Terbanyak
Saat ini, perubahan data jemaah tidak bisa dilakukan secara mendadak. Jika sebelumnya penggantian masih memungkinkan pada H-1 atau 24 jam sebelum keberangkatan, kini aturan diperketat menjadi minimal H-2 atau 48 jam sebelumnya.
“Maskapai membutuhkan waktu untuk penyesuaian data manifest dan tiket. Jadi, tidak bisa dilakukan secara instan,” jelasnya.
Tak hanya itu, proses penggantian jemaah juga harus melalui pusat, bukan lagi kewenangan kantor wilayah (Kanwil).
“Kami sudah mengusulkan agar bisa diproses di daerah supaya lebih cepat, tetapi tetap harus melalui pusat,” tambahnya.
Faktor Penyebab Banyaknya Open Seat Jemaah Haji
Berdasarkan data PPIH Embarkasi Surabaya, kursi kosong terjadi akibat berbagai faktor medis dan teknis, di antaranya:
12 jemaah sakit dan dirawat di rumah sakit
6 pendamping jemaah sakit
8 jemaah mengalami penundaan keberangkatan
18 jemaah melakukan perpindahan kloter
6 kursi kosong karena alasan teknis lainnya
Kondisi ini membuat pengisian kursi tidak bisa dilakukan dengan cepat, meskipun masih tersedia jemaah cadangan.
Akses Data dari Arab Saudi Juga Dibatasi
Selain kendala dari maskapai, pengisian kursi kosong juga dipengaruhi kebijakan otoritas Arab Saudi yang memberlakukan sistem buka-tutup akses data secara ketat.
Menurut Anam, pembukaan akses hanya dilakukan dalam waktu terbatas untuk menjaga akurasi layanan jemaah di Tanah Suci.
Baca Juga: Kantor DKS Dieksekusi, Pengamat Sebut Hubungan Pengurus DKS dan Pemkot Tidak Harmonis
“Sempat dibuka, tetapi hanya dua hari sampai pukul 18.00 WIB. Mereka tidak ingin ada perubahan data mendadak karena akan memengaruhi sistem layanan di sana,” ungkapnya.
PPIH Optimistis Open Seat Bisa Ditekan
Meski menghadapi berbagai kendala, PPIH Embarkasi Surabaya tetap optimistis jumlah kursi kosong dapat ditekan.
Harapannya, akses data kembali dibuka setelah gelombang pertama selesai.
Langkah ini dinilai penting agar seluruh kuota jemaah dapat terserap maksimal sebelum operasional pemberangkatan haji ditutup.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan