RADAR SURABAYA - Peristiwa anak tenggelam di kolam renag kembali terjadi. Kali ini menimpa seorang siswi sekolah dasar di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.
Siswa SD tersebut dilaporkan meninggal dunia setelah tenggelam di kolam renang Desa Lodaya, Kecamatan Randudongkal, Minggu (3/5).
Kepergian korban yang masih belia meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, pihak sekolah, dan masyarakat sekitar.
Baca Juga: Hampir Terjadi Lagi! Relawan Selamatkan Pemuda di Jembatan Cangar
Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, insiden terjadi saat korban berada di area kolam renang.
Dalam video yang beredar luas, terlihat warga berupaya mengevakuasi korban dari dalam kolam.
Setelah berhasil diangkat, korban segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis intensif.
Baca Juga: Cari Katak di Waduk Sambikerep Surabaya, Bocah Berusia 10 Tahun Meninggal Dunia Tenggelam
Namun, meski sempat mendapat perawatan, nyawa korban tidak dapat diselamatkan.
Hingga Minggu sore, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian maupun pengelola kolam renang terkait kronologi lengkap serta penyebab pasti insiden tersebut.
Namun, bukan hanya rasa empati dan belasungkawa yang diutarakan netizen dalam unggahan video yang viral, namun juga cara memberikan pertolongan pertama para penjaga kolam renang yang dianggap salah.
Baca Juga: Padukan Batik dan Teknik Shibori, Busana Karya Desainer Surabaya Sukses Tampil di Jepang
Dimana dalam videro terlihat penjaga dan pengunjung kolam usai mengangkat korban darii dalam kolam memberikan pertolongan dengan membalikkan tubuh korban dengan posisi kepala di bawah dan badan di atas.
Upaya pertolongan tersebut dinilai salah, karena seharusnya yang dilakukan adalah Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR), yaitu tindakan darurat medis untuk mengembalikan fungsi pernapasan dan sirkulasi darah pada seseorang yang mengalami henti jantung atau henti napas.
Caranya yakni dengan kompresi dada (untuk memompa darah) dan bantuan napas (untuk memasukkan oksigen).
“Indonesia minim ilmu CPR. Ini harus diajarin di sekolah deh. HARUS,” komentar akun @fel***.
Baca Juga: Dari Pangkalan Gas Jadi Mesin Cuan, BRILink Agen Buka Peluang Tambah Penghasilan Baru
“Itu lifeguard tp ga bs CPR itu gimanaaaaaa,” tulis akun @lyd***.
“Aduuhh sangat disayangkan masih banyak yg belum tau pertolongan pertama henti nafas henti jantung. Emg sebaiknya harus diedukasi ke masyarakat umum, bukan hanya nakes ajaa. Patah hati bgt liatnyaa,” komentar akun @vin***.
“1. Amankan diri lingkungan dan korban. 2. Cek nadi di leher kalo ga ada langsung RJP. Ini serius pelatih renang nya ga paham pertolongan pertama korban tenggelam ? Malah di bolak balikin gitu. Nyesek bgt liat beritanya,” komentar akun @aya***.
Baca Juga: Akun Instagram Ahmad Dhani Mendadak Hilang, Diduga Usai Unggahan Kontroversial
“CPR WOIIII BUKAN DIBOLAK BEGITU ANAKNYA , BUSETTTTTT,” tulis akun @sah***.
“Itu serius guard nya ga ada yg paham basic CPR??? Ga ada yaa pertolongan pertama tenggelam di gojlak2 tebalik bgtu ya Allah,” komentar akun @kes***.
Banyaknya komentar netizen yang justru fokus pada cara penyelamatan yang salah memang perlu menjadi perhatian khusus mengenai kemampuan penjaga kolam dan standar keamanan dan keselamatan di kolam renang umum.
Baca Juga: Waspada, Asap Obat Nyamuk Bakar Bisa Picu Gangguan Pernapasan hingga Risiko Kanker
Peristiwa ini menambah daftar panjang anak-anak yang meninggal akibat tenggelam di kolam renang, entah karena kelengahan pengawasan hingga kesalahan dalam pertolongan awal. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari