RADAR SURABAYA - Hari Buruh Internasional atau May Day merupakan momentum penting bagi pekerja di seluruh dunia. Peringatan yang jatuh setiap tanggal 1 Mei ini lahir dari perjuangan panjang buruh menuntut hak-hak dasar, seperti jam kerja manusiawi dan upah layak.
Di Indonesia, perjalanan Hari Buruh penuh dinamika, mulai dari masa kolonial, era Orde Baru, hingga reformasi.
Salah satu kisah yang melekat dalam sejarah buruh Indonesia adalah perjuangan Marsinah, buruh perempuan yang gugur dalam memperjuangkan hak pekerja pada 1993.
Baca Juga: May Day! Polrestabes Surabaya Akan Laksanakan Pengalihan Arus di 3 Lokasi Ini
Awal Mula Hari Buruh Internasional
Hari Buruh berawal dari aksi mogok kerja massal di Amerika Serikat pada 1 Mei 1886. Lebih dari 300 ribu buruh turun ke jalan menuntut jam kerja delapan jam sehari.
Aksi ini memuncak dalam peristiwa Haymarket Affair di Chicago, ketika bentrokan antara buruh dan polisi menewaskan sejumlah orang. Tragedi tersebut menjadi simbol perjuangan buruh global.
Tiga tahun kemudian, pada Kongres Buruh Internasional di Paris tahun 1889, ditetapkan bahwa 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional.
Sejak saat itu, May Day menjadi momentum solidaritas buruh di berbagai negara.
Perkembangan Hari Buruh di Indonesia
Di Indonesia, Hari Buruh pertama kali diperingati pada 1918 oleh organisasi buruh di masa kolonial Belanda.
Namun, pemerintah kolonial kemudian melarang peringatan ini karena dianggap mengancam stabilitas.
Setelah kemerdekaan, Presiden Soekarno melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1948 menetapkan bahwa setiap 1 Mei pekerja tidak diwajibkan bekerja, sebagai bentuk penghormatan terhadap buruh.
Namun, pada masa Orde Baru, peringatan Hari Buruh dibatasi dan sering dikaitkan dengan ideologi komunisme sehingga gerakan buruh diawasi ketat.
Memasuki era reformasi, ruang gerak buruh kembali terbuka. Demonstrasi besar setiap 1 Mei menjadi tradisi, menuntut hak-hak pekerja seperti upah layak, jaminan sosial, dan perlindungan kerja.
Baca Juga: Bukan Sekadar Mengajar! Cara Unik Mahasiswa Surabaya Didik Anak Prasejahtera Lewat Lukisan Tangan
Akhirnya, pada 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2013, yang mulai berlaku pada 2014.
Perjuangan Marsinah dan Hari Buruh
Nama Marsinah menjadi ikon perjuangan buruh di Indonesia. Marsinah adalah seorang buruh pabrik di Sidoarjo, Jawa Timur, yang aktif memperjuangkan hak-hak pekerja. Pada Mei 1993, ia memimpin aksi menuntut kenaikan upah sesuai ketentuan pemerintah.
Beberapa hari setelah aksi tersebut, Marsinah ditemukan tewas dengan tanda-tanda kekerasan.
Baca Juga: Inspiratif! Driver Pesan-Antar Makanan Kuliah di Usia 51 Tahun, Sekaligus Biayai Pendidikan Dua Anak
Kasus ini mengguncang Indonesia dan menjadi simbol betapa beratnya perjuangan buruh di masa Orde Baru.
Hingga kini, Marsinah dikenang sebagai pahlawan buruh yang berani menuntut keadilan meski harus mengorbankan nyawa.
Kisah Marsinah memperkuat makna Hari Buruh di Indonesia. Peringatan 1 Mei bukan hanya sekadar aksi demonstrasi, tetapi juga penghormatan terhadap mereka yang berjuang demi hak-hak pekerja.
Baca Juga: Gunung Argopuro Dibuka Kembali, Kuota Pendakian Dibatasi
Hari Buruh adalah simbol perjuangan panjang yang masih relevan hingga kini. Momentum 1 Mei bukan sekadar peringatan, tetapi pengingat bahwa perjuangan buruh untuk jam kerja manusiawi, upah layak, dan perlindungan sosial masih terus berlangsung.
Kisah Marsinah adalah bukti nyata bahwa perjuangan buruh di Indonesia penuh risiko, namun tetap menjadi inspirasi bagi generasi pekerja saat ini. (nur)
Editor : Nurista PurnamasariSumber : radar surabaya