Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Indonesia Masuki Masa Peralihan Musim, BMKG Ingatkan Potensi Kemarau Ekstrem 2026

Lambertus Hurek • Selasa, 14 April 2026 | 10:39 WIB
Ilustrasi musim kemarau. Tanah pecah-pecah dan kekeringan. (AI)
Ilustrasi musim kemarau. Tanah pecah-pecah dan kekeringan. (AI)

 

RADAR SURABAYA - Indonesia saat ini tengah memasuki masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Di tengah fase transisi tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi musim kemarau 2026 yang diperkirakan menjadi salah satu yang paling ekstrem dalam tiga dekade terakhir.

Berdasarkan analisis BMKG, musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal dari biasanya. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang saat ini berada pada fase lemah hingga moderat. Dampaknya, distribusi curah hujan di berbagai wilayah Indonesia menjadi tidak merata dan cenderung berada di bawah normal.

Baca Juga: Gerakan Tanpa Gawai 18.00–20.00, Surabaya Bangun Ruang Aman bagi Anak dan Keluarga

Data sementara menunjukkan sekitar 64,5 persen zona musim di Indonesia telah mengalami curah hujan di bawah normal. Bahkan, lebih dari separuh wilayah diprediksi akan menghadapi periode kemarau yang lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa awal musim kemarau akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara, kemudian meluas ke Bali dan Jawa, sebelum akhirnya menjangkau sebagian Sumatera. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus, dan berangsur berakhir pada akhir September hingga awal Oktober.

“Dengan kondisi atmosfer yang semakin kering dan minim pembentukan awan, potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan akan meningkat,” ujarnya.

Baca Juga: Harga Emas Hari Selasa 14 April Bikin Kaget! Antam Melonjak, UBS dan Galeri24 Justru Anjlok

Di sisi lain, meskipun sebagian besar wilayah masih berada dalam fase akhir musim hujan—dengan sekitar 76 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan pada dasarian sebelumnya—perubahan menuju kemarau mulai terasa melalui berkurangnya intensitas hujan di sejumlah daerah.

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak peralihan musim, seperti cuaca ekstrem, angin kencang, serta potensi bencana hidrometeorologi. Selain itu, upaya mitigasi seperti pengelolaan sumber daya air dan modifikasi cuaca di wilayah rawan kekeringan dinilai penting guna meminimalkan dampak yang lebih luas.

Masyarakat juga diharapkan terus memantau informasi cuaca dan iklim secara berkala serta menjaga kondisi kesehatan selama masa peralihan musim yang cenderung tidak menentu. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#kemarau ekstrem #musim hujan #BMKG #el nino #pancaroba