RADAR SURABAYA – Pemerintah Indonesia berencana mengirim dua ekor komodo ke Jepang dalam rangka kerja sama konservasi internasional. Program ini dilakukan melalui skema breeding loan atau pengembangbiakan satwa langka. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian komodo sekaligus memperkuat diplomasi lingkungan.
Kesepakatan itu tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) antara Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Gubernur Prefektur Shizuoka Yasutomo Suzuki. Dua komodo yang dikirim terdiri dari satu jantan dan satu betina. Keduanya akan ditempatkan di fasilitas konservasi di Prefektur Shizuoka, Jepang.
Baca Juga: KBS Siap Lepasliarkan 5 Komodo ke Habitat Asli NTT, Populasi Tembus 80 Ekor!
Pengiriman dijadwalkan paling cepat pada Juni 2026 setelah seluruh proses teknis dan administratif rampung. Pemerintah memastikan seluruh tahapan dilakukan sesuai standar konservasi internasional. Pengawasan ketat dari para ahli juga akan diterapkan selama proses berlangsung.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan kerja sama ini tidak hanya berfokus pada pengembangbiakan. Program tersebut juga membawa misi diplomasi lingkungan yang lebih luas. Hal ini menjadi bagian dari komitmen Indonesia dalam menjaga biodiversitas dunia.
“Kerja sama ini bukan sekadar pertukaran satwa, melainkan bagian dari Diplomasi Hijau sebagai komitmen jangka panjang Indonesia,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya kolaborasi global dalam upaya pelestarian satwa langka. Menurutnya, komodo merupakan warisan dunia yang perlu dijaga bersama.
Baca Juga: KBS Siap Lepas Lima Komodo ke Habitat Asli
Melalui program ini, Indonesia berharap dapat meningkatkan populasi komodo. Selain itu, kesadaran global terhadap pentingnya pelestarian satwa endemik juga diharapkan meningkat. Kerja sama ini sekaligus memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Jepang.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Jepang juga akan mengirimkan sejumlah satwa ke Indonesia. Pertukaran ini bersifat timbal balik dan mendukung edukasi serta penelitian. Program ini diharapkan memberi manfaat bagi pengembangan ilmu konservasi.
Namun, rencana tersebut menuai sorotan dari aktivis lingkungan dan pemerhati satwa. Mereka menilai komodo sebaiknya tetap dilestarikan di habitat aslinya. Kekhawatiran juga muncul terkait adaptasi dan kesejahteraan satwa di lingkungan baru.
Baca Juga: Inilah Alasan Komodo Dijuluki The Last Dragon on Earth
Kritik lain menyoroti efektivitas penangkaran di luar habitat alami. Sejumlah pihak menilai program ini berpotensi lebih berorientasi pada pertukaran antarnegara. Aspek konservasi jangka panjang pun menjadi perhatian.
Menanggapi hal itu, pemerintah menegaskan program ini telah melalui kajian ilmiah. Seluruh proses akan melibatkan para ahli dan mengikuti protokol internasional. Kesejahteraan satwa disebut tetap menjadi prioritas utama.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, pemerintah optimistis program ini memberi manfaat nyata. Upaya ini diharapkan mendukung pelestarian komodo secara berkelanjutan. Selain itu, peran Indonesia dalam konservasi global juga semakin diperkuat. (sry/fir)
Editor : M Firman Syah