RADAR SURABAYA - Dua prajurit TNI yang tengah menjalankan misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon Selatan kembali gugur akibat serangan yang diduga kuat dilakukan pasukan Israel terhadap kendaraan mereka pada Senin (30/3).
Insiden ini menambah jumlah korban dari Indonesia menjadi tiga prajurit dalam dua hari terakhir.
Insiden tragis terjadi pada 29–30 Maret 2026 di Lebanon Selatan. Serangan yang diduga dilakukan pasukan Israel menghantam kendaraan pengawalan konvoi pasukan perdamaian UNIFIL.
Baca Juga: Personel TNI di UNIFIL Gugur Akibat Serangan Israel, Indonesia Desak Segera Investigasi
Akibat ledakan tersebut, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadhon gugur.
Selain itu, beberapa prajurit lainnya mengalami luka berat dan telah dievakuasi ke Rumah Sakit St. George Beirut untuk mendapatkan perawatan.
Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah menilai serangan Israel di kawasan perbatasan Lebanon telah melampaui batas.
Baca Juga: Fenomena Pink Moon 1–2 April, Bisa Diamati Tanpa Alat
“Agresi militer Israel semakin tidak terkendali dan menunjukkan sikap abai terhadap hukum internasional. Serangan ini membuktikan tidak ada lagi jaminan keamanan, bahkan bagi pasukan yang membawa mandat resmi dari PBB,” ujarnya.
Karo Infohan Setjen Kemhan Brigjen Rico Ricardo Sirait menegaskan bahwa insiden ini menambah jumlah korban dari Indonesia menjadi tiga prajurit dalam dua hari terakhir.
Anggota Komisi I DPR Sarifah Ainun Jariyah meminta pemerintah segera mendesak Israel bertanggung jawab melalui forum internasional seperti Board of Peace (BoP).
Baca Juga: Jemur Nasi, Lansia Tersempet Lokomotif di Perlintasan KA Masigit Surabaya
Ia juga menekankan perlunya evaluasi rencana pengiriman pasukan ke wilayah konflik lain.
“Tidak ada jaminan keamanan dari pihak mana pun karena Israel terbukti tidak taat pada aturan internasional,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Operasi Perdamaian PBB Jean-Pierre Lacroix menyampaikan belasungkawa kepada Indonesia dan keluarga korban.
Ia menegaskan bahwa serangan terhadap penjaga perdamaian tidak dapat diterima dan bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Baca Juga: Drainase dan Banjir Jadi Taruhan, Pemkot Surabaya Tertibkan Bangli Milik PKL di Atas Saluran Air
“Para penjaga perdamaian tidak boleh menjadi target,” katanya dalam konferensi pers di Markas Besar PBB, New York.
UNIFIL sendiri telah memulai investigasi atas dua serangan mematikan tersebut. Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel menyatakan bahwa hasil penyelidikan akan dibagikan kepada pihak terkait, dan jika ditemukan pihak yang bertanggung jawab, PBB akan mengajukan protes resmi. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari