Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Harga Minyak Dunia Naik, Kendaraan Listrik Jadi Kunci Selamatkan APBN?

Rahmat Adhy Kurniawan • Senin, 30 Maret 2026 | 06:36 WIB
Salah satu Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Surabaya.
Salah satu Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Surabaya.

Percepatan Kendaraan Listrik Dinilai Krusial Redam Dampak Lonjakan Harga Minyak

RADAR SURABAYA – Percepatan adopsi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dinilai menjadi langkah strategis untuk meredam dampak lonjakan harga minyak global terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dikutip dari Antara, pengamat otomotif Martinus Pasaribu menyebut, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak masih sangat tinggi, yakni sekitar 60–70 persen dari total kebutuhan nasional.

Di sisi lain, lifting minyak domestik terus menurun dan saat ini berada di kisaran 600 ribu barel per hari.

“Setiap kenaikan harga minyak global akan mendorong pembengkakan subsidi dan kompensasi energi.

Hal ini berisiko mengurangi ruang fiskal untuk belanja produktif seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan,” ujar Martinus dalam keterangannya di Jakarta, Senin (30/3).

Menurut dia, kondisi tersebut membuat APBN sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia, terlebih di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, seperti di kawasan Selat Hormuz.

Baca Juga: Marco Bezzecchi Juara MotoGP Amerika 2026, Marc Marquez Bangkit Dramatis usai Long Lap Penalti

Dalam asumsi makro APBN, lanjutnya, kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel dapat meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi hingga Rp8–10 triliun.

Jika harga minyak dunia menembus 90–100 dolar AS per barel, belanja subsidi energi berpotensi kembali membengkak mendekati atau bahkan melampaui Rp300 triliun per tahun.

Kendaraan Listrik Lebih Efisien

Martinus menilai kendaraan listrik merupakan solusi jangka panjang untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).

Selain mengurangi impor, peralihan ke kendaraan listrik juga dapat menekan beban subsidi BBM yang selama ini didominasi sektor transportasi.

Dari sisi efisiensi, biaya energi kendaraan listrik jauh lebih rendah. Rata-rata biaya operasional EV berkisar Rp300–500 per kilometer, dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin yang mencapai Rp1.000–1.500 per kilometer, tergantung jenis kendaraan dan harga BBM.

“Artinya, ada potensi penghematan biaya operasional hingga 60–70 persen bagi pengguna,” jelasnya.

Ia memperkirakan penggunaan 1 juta mobil listrik dapat menghemat sekitar 1,25 juta kiloliter BBM per tahun.

Sementara itu, 5 juta motor listrik berpotensi menghemat hingga 1,75 juta kiloliter.

Jika dikombinasikan, total penghematan mencapai sekitar 3 juta kiloliter BBM per tahun, yang setara dengan pengurangan impor minyak dalam jumlah signifikan.

Hemat Devisa hingga Puluhan Triliun

Dengan asumsi harga minyak global di kisaran 90–100 dolar AS per barel, pengurangan impor tersebut diperkirakan mampu menghemat devisa hingga Rp30–40 triliun per tahun.

Baca Juga: Horoskop Mingguan Terbaru: Gemini Bersinar, Capricorn Naik Level, Pisces Lebih Sensitif

Selain itu, penurunan konsumsi BBM domestik juga berpotensi mengurangi beban subsidi dan kompensasi energi yang selama ini menjadi salah satu komponen terbesar dalam belanja negara.

“Dengan begitu, ruang fiskal pemerintah dapat dialihkan ke sektor produktif seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan,” tambah Martinus.

Dorong Ekosistem Industri Nasional

Lebih jauh, elektrifikasi transportasi dinilai memberikan efek ganda bagi perekonomian nasional.

Mulai dari penguatan industri baterai dalam negeri, peningkatan investasi, hingga penciptaan lapangan kerja baru di sektor manufaktur dan energi bersih.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu mempercepat adopsi kendaraan listrik melalui kebijakan yang terintegrasi, mulai dari

pemberian insentif fiskal, pembangunan infrastruktur pengisian daya atau SPKLU, hingga penguatan ekosistem industri kendaraan listrik nasional.

“Transisi ke kendaraan listrik bukan hanya langkah menuju energi bersih, tetapi juga strategi konkret untuk penghematan devisa,

menjaga ketahanan fiskal, dan memperkuat kedaulatan energi nasional di tengah ketidakpastian global,” pungkasnya.

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#SPKLU #harga naik #Krisis Timur Tengah #kendaraan listrik #bbm