RADAR SURABAYA - Penentuan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah masih menunggu hasil Sidang Isbat yang akan digelar pemerintah pada Kamis, 19 Maret 2026. Sejumlah pihak hingga kini masih mengacu pada data hisab dan hasil pemantauan hilal sebelum keputusan resmi diumumkan.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa BMKG akan melakukan pengamatan hilal di berbagai wilayah Indonesia. Pengamatan tersebut dilakukan menggunakan teropong hilal BMKG di 37 titik pada 19 Maret 2026.
Baca Juga: Minum Air Es Dianggap Tidak Baik Bagi Kesehatan, Ini Faktanya
Menurut dia, informasi yang disampaikan BMKG merupakan panduan bagi para pelaksana rukyatul hilal di lapangan. Selain itu, data hasil perhitungan dan pengamatan akan dilaporkan dalam Sidang Isbat yang diselenggarakan pemerintah.
“Secara hisab, ketinggian hilal sudah memenuhi kriteria MABIMS, namun elongasi masih di bawah kriteria. Dengan demikian, potensi hilal untuk teramati masih kecil,” ujarnya.
Ia menegaskan, BMKG tidak memiliki kewenangan dalam menetapkan awal bulan Hijriah. Keputusan resmi tetap menunggu hasil Sidang Isbat yang digelar oleh Kementerian Agama.
Baca Juga: Oknum Kapten TNI Diduga Pimpin Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS
Sementara itu, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan tersebut didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal yang digunakan oleh organisasi tersebut.
Di sisi lain, pemerintah bersama Nahdlatul Ulama dan sejumlah organisasi masyarakat Islam lainnya masih menunggu hasil Sidang Isbat sebagai dasar penentuan resmi Hari Raya Idul Fitri di Indonesia.
Hasil Sidang Isbat nantinya akan menjadi acuan nasional dalam menetapkan awal Syawal 1447 Hijriah, sekaligus menjawab perbedaan metode yang digunakan oleh berbagai pihak. (*)
Editor : Lambertus Hurek