Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Person of The Year Piala Dunia U-17 Selebriti Sidoarjo Sport Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kapan Idul Fitri 1447 H Masih Menunggu Sidang Isbat, BRIN Sebut Sabtu 21 Maret 2026

Lambertus Hurek • 2026-03-16 07:02:39
Pemantauan hilal di Masjid Al Mabrur, Nambangan, Kenjeran, Surabaya Selasa (17/2) dinyatakan tidak terlihat.
Pemantauan hilal di Masjid Al Mabrur, Nambangan, Kenjeran, Surabaya. (Andy Satria/Radar Surabaya)

 

RADAR SURABAYA – Penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah di Indonesia masih menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar pemerintah melalui Kementerian Agama. Namun, sejumlah astronom memperkirakan Idul Fitri tahun ini berpotensi jatuh pada 21 Maret 2026.

Profesor riset astronomi–astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, mengatakan kemungkinan tersebut didasarkan pada perhitungan posisi hilal pada 19 Maret 2026, saat rukyatul hilal dilakukan.

Baca Juga: Rupiah Dekati Rp17.000 per Dolar AS, RDG Bank Indonesia Jadi Momen Krusial Pekan Ini

Menurut dia, secara astronomi posisi bulan saat matahari terbenam pada tanggal tersebut diperkirakan masih sangat rendah sehingga peluang terlihatnya hilal relatif kecil.

“Jika hilal tidak terlihat pada 19 Maret, maka Ramadan digenapkan 30 hari. Dengan begitu, Idul Fitri berpotensi jatuh pada 21 Maret,” ujar Thomas dalam penjelasannya mengenai prakiraan awal Syawal.

Ia menegaskan bahwa keputusan resmi tetap menunggu sidang isbat yang mempertimbangkan laporan rukyatul hilal dari berbagai titik pengamatan di Indonesia.

Dalam penentuan awal bulan Hijriah, Indonesia menggunakan kombinasi metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan langsung hilal). Keberadaan hilal secara astronomi dihitung melalui kriteria visibilitas atau imkan rukyat, yaitu kemungkinan bulan sabit muda dapat terlihat setelah matahari terbenam.

Baca Juga: Pertujukan Musikal Hadir di Ciwo Surabaya untuk Mengisi Libur Lebaran, Gratis Lho. Catat Jadwalnya!

Menurut Thomas, terlihatnya hilal sesaat setelah magrib merupakan penanda bahwa siklus sinodis bulan telah berganti, sehingga menjadi dasar dimulainya bulan baru dalam kalender Hijriah.

“Hilal adalah penanda awal bulan Hijriah. Karena itu yang dicari adalah bulan sabit tipis setelah matahari terbenam,” kata dia.

Ia menjelaskan bahwa rukyat sebenarnya dapat dilakukan tanpa perhitungan hisab. Metode tersebut bahkan sudah dilakukan sejak masa awal Islam ketika ilmu astronomi belum berkembang pesat.

Pada masa itu, pengamatan dilakukan dengan mencari hilal di sekitar titik terbenam matahari.

Meski demikian, perkembangan ilmu astronomi membuat metode hisab kini digunakan untuk memprediksi posisi bulan secara lebih akurat. Hasil hisab kemudian membantu menentukan kemungkinan hilal dapat terlihat atau tidak.

Thomas menambahkan bahwa Nabi Muhammad SAW memang mengajarkan rukyat sebagai metode penentuan awal bulan. Namun, menurut dia, Nabi juga memahami konsep perhitungan sederhana mengenai panjang bulan.

“Dalam praktik awal kalender Hijriah dikenal bahwa satu bulan berlangsung 29 atau 30 hari. Itu bentuk hisab paling sederhana yang sudah digunakan dalam sistem kalender generasi pertama,” jelasnya.

Di Indonesia sendiri, potensi perbedaan awal Syawal juga bisa terjadi karena sebagian organisasi Islam menggunakan metode penetapan berbeda. Muhammadiyah misalnya telah menetapkan Idul Fitri 1447 H jatuh pada 20 Maret 2026 berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal dalam Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Baca Juga: Sepekan IHSG Jeblok Kapitalisasi Pasar Menguap Rp 949 Triliun, Bagaimana dengan Perdagangan Pekan Ini?

Karena itu, Thomas mengimbau masyarakat menyikapi perbedaan dengan tenang dan saling menghormati.

Menurut dia, bagi masyarakat yang mengikuti metode rukyat, penentuan awal Syawal sebaiknya menunggu hasil sidang isbat pemerintah.

“Sidang isbat akan memadukan hasil hisab dan laporan rukyat dari berbagai daerah. Dari situ akan diputuskan kapan 1 Syawal dimulai,” kata dia. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#idul fitri 1447 hijriah #Thomas Djamaluddin #idul fitri Muhammadiyah #idul fitri tidak serempak #BRIN #ketinggian hilal 1 April 2022 #sidang isbat #rukyatul hilal