Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Harga BBM Bersubsidi Dipastikan Tak Naik hingga Idul Fitri, Pemerintah Siap Tahan Dampak Lonjakan Minyak Dunia

Rahmat Adhy Kurniawan • Selasa, 10 Maret 2026 | 18:43 WIB

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

RADAR SURABAYA – Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga Hari Raya Idul Fitri.

Dikutip dari Antara, kepastian tersebut disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia yang sempat menembus 100 dolar Amerika Serikat per barel.

Menurut Bahlil, pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga energi nasional, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri yang biasanya diiringi peningkatan konsumsi BBM masyarakat.

“Pemerintah kemarin juga telah melakukan pembahasan dengan Menteri Keuangan. Untuk subsidi BBM sampai Hari Raya, insyaallah tidak ada kenaikan apa pun.

Negara hadir untuk memastikan bahwa meskipun harga minyak mentah dunia naik, harga BBM bersubsidi tetap sama,” ujar Bahlil saat ditemui sebelum mengikuti rapat terbatas di Istana Kepresidenan Republik Indonesia, Jakarta, Selasa (10/3).

Kebijakan menjaga harga BBM bersubsidi tetap stabil dinilai penting untuk melindungi daya beli masyarakat.

Menjelang Ramadan hingga Idul Fitri, mobilitas masyarakat biasanya meningkat signifikan, baik untuk aktivitas ekonomi maupun perjalanan mudik.

Dengan mempertahankan harga BBM subsidi, pemerintah berharap aktivitas ekonomi tetap berjalan stabil dan inflasi dapat dikendalikan.

Anggaran Subsidi Masih Aman

Di kesempatan terpisah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan ketersediaan anggaran subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih cukup kuat untuk menahan gejolak harga minyak global.

“Kita masih aman dan masih kuat. Ini kan baru beberapa hari naiknya. Sementara subsidi kita dihitung untuk satu tahun penuh,” kata Purbaya kepada wartawan.

Ia menjelaskan bahwa dalam perhitungan APBN, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah rata-rata sekitar 70 dolar AS per barel dalam satu tahun.

Oleh karena itu, lonjakan harga yang hanya terjadi dalam beberapa hari belum cukup berdampak signifikan terhadap anggaran subsidi.

“Karena baru beberapa hari naik, itu belum cukup untuk mengubah anggaran kita. Jadi kita masih bisa menyerap kenaikan tersebut,” ujarnya.

Purbaya menegaskan pemerintah tetap memiliki ruang fiskal untuk menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi dalam jangka pendek, terutama selama periode Ramadan hingga Idul Fitri. 

Harga Minyak Dunia Masih Fluktuatif

Bahlil juga mengungkapkan bahwa harga minyak mentah dunia saat ini mulai mengalami penurunan setelah sempat menembus angka 100 dolar AS per barel.

Saat ini, pergerakan harga minyak global kembali berada di kisaran 80 hingga 90 dolar AS per barel.

Meski demikian, ia mengakui bahwa pasar energi global masih sangat dinamis dan rentan terhadap berbagai faktor, mulai dari geopolitik hingga kondisi ekonomi global.

Sejalan dengan itu, Purbaya juga menilai fluktuasi harga minyak dunia masih akan terus terjadi dalam waktu dekat.

“Itu bisa naik dan bisa turun dengan cepat. Jadi kita harus melihat dulu apakah benar-benar naik terus atau justru turun lagi,” katanya.

Menurut Purbaya, pemerintah tidak dapat mengambil keputusan fiskal secara tergesa-gesa hanya berdasarkan pergerakan harga minyak dalam jangka pendek.

“Beberapa hari lalu sempat naik, lalu tiba-tiba turun lagi. Kalau kita langsung ubah kebijakan lalu harga turun, tentu akan merepotkan.

Karena itu respons APBN harus lebih hati-hati dibandingkan dengan merespons pergerakan saham,” jelasnya.

Pemerintah Pantau Tren Harga Minyak

Untuk itu, pemerintah akan terus memantau tren harga minyak mentah dunia dalam beberapa waktu ke depan sebelum mengambil langkah kebijakan lanjutan.

Purbaya menilai diperlukan waktu pengamatan yang cukup agar pemerintah dapat memahami arah pergerakan harga minyak global secara lebih akurat.

“Saat ini pergerakannya berubah-ubah. Kemarin sempat menyentuh 120 dolar AS per barel, sekarang sekitar 90 dolar AS.

Kalau nanti turun lagi bagaimana? Karena itu kita perlu melihat tren yang sebenarnya terlebih dahulu sebelum menentukan kebijakan,” ujarnya.

Dengan kebijakan mempertahankan harga BBM bersubsidi hingga Idulfitri, pemerintah berharap masyarakat tetap dapat beraktivitas dengan tenang tanpa terbebani kenaikan biaya energi.

Langkah ini juga diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian pasar energi global yang masih berlangsung.



Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral #bahan bakar minyak (bbm) #Bahlil Lahadalia #esdm