Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Gawat! Mikroplastik Ditemukan di Ekosistem Laut Dalam Indonesia

Nurista Purnamasari • Sabtu, 7 Maret 2026 | 11:17 WIB

 

Partikel plastik di laut dalam berpotensi masuk ke rantai makanan laut dan akhirnya dikonsumsi manusia.
Partikel plastik di laut dalam berpotensi masuk ke rantai makanan laut dan akhirnya dikonsumsi manusia.

RADAR SURABAYA - Temuan mengejutkan datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Peneliti menemukan partikel mikroplastik hingga kedalaman 2.450 meter di jalur utama Arus Lintas Indonesia (Arlindo), sistem arus laut yang menghubungkan Samudra Pasifik dengan Samudra Hindia.

Temuan ini menegaskan bahwa pencemaran plastik tidak hanya terjadi di permukaan laut, tetapi juga telah mencapai ekosistem laut dalam.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Laut Dalam BRIN, Corry Yanti Manullang, menjelaskan bahwa penelitian ini merupakan salah satu studi awal yang mengkaji distribusi vertikal mikroplastik di jalur Arlindo.

“Arlindo ini menghubungkan dua samudra besar, Pasifik dan Hindia. Selain membawa massa air, garam, dan nutrien, arus ini juga berpotensi membawa partikel kecil seperti mikroplastik,” ujarnya, Sabtu (7/3).

Temuan Penelitian

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Marine Pollution Bulletin dilakukan melalui ekspedisi oseanografi pada Januari–April 2021.

Dari 872 liter air laut yang dianalisis, tim menemukan 924 partikel mikroplastik dengan rata-rata konsentrasi 1,062 partikel per liter. Lebih dari 90 persen berbentuk serat (fiber) yang umumnya berasal dari tekstil sintetis.

“Baju yang kita pakai juga bisa menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat-serat kecil dari kain sintetis dapat terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan,” jelas Corry.

Selain serat, analisis spektroskopi Raman juga mengidentifikasi polimer plastik seperti polyester, polypropylene, dan polyurethane yang banyak digunakan dalam produk tekstil, kemasan, hingga bahan industri.

Potensi Masuk ke Rantai Makanan

Dalam studi lanjutan yang dipublikasikan di Sains Malaysiana, tim peneliti menemukan mikroplastik di dalam tubuh zooplankton kopepoda, organisme kecil yang menjadi sumber makanan utama ikan. Dari sekitar 6.000 individu kopepoda yang dianalisis, ditemukan 133 partikel mikroplastik.

“Kopepoda tidak bisa membedakan mana makanan alami dan mana partikel plastik. Apa pun yang lewat di depannya akan ditangkap dan dimakan. Artinya, mikroplastik berpotensi berpindah sepanjang rantai makanan hingga ke manusia,” tegas Corry.

Corry menekankan bahwa temuan mikroplastik di kedalaman lebih dari dua kilometer menunjukkan persoalan sampah plastik sudah menjadi masalah ekosistem laut secara keseluruhan.

“Ini bukan hanya isu pesisir, tetapi ancaman nyata bagi laut dalam Indonesia. Penelitian harus terus dikembangkan karena 70 persen wilayah laut Indonesia memiliki kedalaman lebih dari 200 meter,” pungkasnya. (dtk/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#sampah #BRIN #ekosistem laut #rantai makanan #mikroplastik #laut dalam