“Pabrik sabun sudah lama tutup. Sudah lama tidak ada aktivitas,” kata Suprapto, warga yang tinggal tak jauh dari lokasi pabrik sabun lawas tersebut.
Menurut Suprapto, tanda-tanda penutupan pabrik model industri rumahan itu sudah terlihat sejak 2025. Penutupan diawali dengan pengurangan karyawan hingga akhirnya benar-benar berhenti beroperasi.
“Sayang sekali karena pabrik ini sudah ada sejak zaman Belanda dan sabun produksinya cukup laris untuk pasar luar pulau (Jawa),” ujarnya.
Sabun batangan yang diproduksi CV Samudra Mas menggunakan mereka Prahu Layar. Yang menarik, meski diproduksi di Surabaya, sabun ini justru tidak dipasarkan di Surabaya atau Jawa Timur, tapi sangat populer di kawasan Indonesia bagian Timur.
Koordinator komunitas Pernak-Pernik Surabaya Lama (PSL), Chrisyandi Tri Kartika, sebelumnya menyebut sabun batangandi Jalan Samudra itu tergolong langka dan legendaris karena bisa bertahan selama satu abad lebih. Padahal, banyak pabrik sejenis yang sudah lama gulung tikar.
“Berdasar catatan yang ada, pabrik sabun batangan ini sudah ada sejak tahun 1923. Artinya, pabrik ini sudah berusia satu abad, tepatnya 102 tahun,” kata Chrisyandi.
Merujuk buku telepon lama miliknya, pabrik tersebut dahulu menempati persil atas nama Tuan Djoe Gwan di Bakmistraat nomor 39. Di lokasi itu kemudian berdiri papan nama CV Samudra Mas sebagai perusahaan sabun rumahan.
Seorang karyawan yang telah bekerja lebih dari 50 tahun menyebut pabrik sempat bertahan karena permintaan pasar luar pulau. “Permintaan pasar di luar pulau memang banyak,” ujarnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek