RADAR SURABAYA - Kasus kematian tragis NS, 12, bocah asal Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, terus bergulir dan kini memasuki tahap pemeriksaan intensif. Sang ibu tiri, TR, 46, yang berstatus terlapor, akhirnya buka suara dan membantah tuduhan kekerasan.
Ia mengklaim luka-luka di tubuh anak bukan akibat penganiayaan, melainkan dampak penyakit kronis.
Dalam wawancara tertulis melalui aplikasi perpesanan, TR menyatakan dirinya menjadi korban penghakiman publik.
“Tuduhan dari netizen seperti berita itu semua tidak benar. Saya tidak sekeji itu. Anak meninggal karena sakit kanker darah leukemia dan autoimun. Jadi kulit melepuh itu karena faktor panas dalam,” ujarnya, Sabtu (21/2).
TR mengaku terpukul dengan pemberitaan yang menyudutkan dirinya. Ia merasa dihantam tekanan sosial sebelum adanya keterangan resmi dari kepolisian maupun putusan pengadilan.
“Saya tidak tahu pulang ke mana, karena kena mental. Dampak dari berita ini saya dan orang tua saya jadi korban. Kasihan bapak saya yang sedang sakit tidak ada yang urus,” tambahnya.
Sementara itu, Kapolres Sukabumi AKBP Samian menegaskan pihaknya bekerja ekstra hati-hati dalam menangani perkara ini.
“Saat ini total 16 saksi telah kami mintai keterangan secara mendalam. Saksi-saksi tersebut mencakup keluarga, saksi yang melihat kondisi TKP, hingga saksi ahli dari tenaga medis atau dokter yang menangani korban,” jelasnya.
Samian menekankan bahwa penyidikan dilakukan dengan pendekatan scientific crime investigation, sehingga setiap keterangan saksi akan dikroscek dengan hasil visum dan otopsi.
“Kami tidak ingin berspekulasi. Setiap keterangan saksi yang masuk akan kita teliti dengan hasil laboratorium forensik,” katanya.
Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono, menambahkan hasil visum menunjukkan kondisi fisik korban sangat memprihatinkan.
“Ada luka lecet di wajah, luka bakar derajat 2A di beberapa titik tubuh, serta lebam merah keunguan yang mengindikasikan trauma tumpul,” paparnya.
Temuan medis ini kini dikonfrontasi dengan keterangan saksi baru, termasuk tim medis dari Puskesmas dan RSUD Jampangkulon.
Meski video pengakuan korban sebelum wafat sempat viral, polisi menegaskan tetap bersandar pada hasil laboratorium patologi anatomi dan toksikologi forensik.
“Penyidik sedang bekerja keras melakukan sinkronisasi antara keterangan 16 saksi dengan temuan di lapangan. Terkait sebab pasti kematian, kami masih menunggu hasil laboratorium,” ungkap Hartono.
Diberitakan sebelumnya, tragedi bermula saat ayah korban, Anwar Satibi, 38, sedang bekerja di Kota Sukabumi selama dua hari.
Pada malam pertama Ramadan, Rabu (19/2), ia mendapat telepon dari istrinya yang mengabarkan NS sakit parah. Saat tiba di rumah, Anwar terkejut melihat kondisi anaknya yang mengalami luka melepuh di kulit.
Keesokan paginya, NS dibawa ke RSUD Jampang Kulon. Di ruang IGD, korban sempat memberikan pengakuan mengejutkan kepada ayah dan kakek angkatnya. “Ditanyalah ini anak, ya ngaku, dikasih minum air panas,” ungkap Anwar.
Pengakuan itu juga dibenarkan oleh Isep, kerabat keluarga yang sempat merekam pernyataan NS. “Dia menjelaskan bahwa itu dilakukan oleh mamanya. Saya tidak mengada-ada, itu ucapan almarhum,” tutur Isep.
Tak lama setelah pengakuan tersebut, kondisi NS memburuk. Ia dipindahkan ke ruang ICU dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 16.00 WIB, Kamis (20/2).
Anwar mengungkap bahwa NS pernah menjadi korban kekerasan oleh ibu tirinya pada tahun 2025. Saat itu, ia melaporkan kejadian ke Unit PPA Polres Sukabumi, namun kasus berakhir damai setelah pelaku berjanji untuk bertaubat. “Sebetulnya laporan saya di polres belum dicabut,” ujarnya.
Jenazah NS yang dibawa ke RS Bhayangkara menjalani autopsi selama tiga jam. Kombes Pol dr. Carles Siagian, Kepala Instalasi Forensik RS Bhayangkara, mengonfirmasi adanya luka bakar luas di tubuh korban.
“Ditemukan luka bakar di lengan, kaki kanan dan kiri, punggung, hingga area bibir dan hidung. Kami juga menemukan paru-parunya sedikit membengkak. Sampel organ jantung dan paru telah kami kirim ke laboratorium di Jakarta untuk uji toksikologi,” jelas dr. Carles.
Meski luka bakar cukup luas, dokter menyatakan secara teori luka tersebut tidak menyebabkan kematian seketika. Hal ini mendorong penyidik untuk memeriksa kemungkinan adanya zat asing atau racun dalam tubuh korban. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari