Bukan Cuma Jadi Pemain, Mahasiswa Bisa Raup Karier Impian di Industri Sepak Bola Indonesia
Andy Satria• Rabu, 18 Februari 2026 | 16:40 WIB
INDUSTRI SEPAK BOLA: Manager Corporate Share Value (CSV) I.League, Hanif Marjuni (tengah) memberikan pemaparan terkait dunia industri yang di sepak bola, dalam seminar yang digelar di Auditorium UINSA
Kenalkan Industri Sepak Bola Indonesia kepada Mahasiswa: Peluang Karier Melimpah di Balik Lapangan Hijau
RADAR SURABAYA – Sepak bola bukan lagi sekadar olahraga hiburan, melainkan industri besar yang menjanjikan berbagai peluang karier.
Hal ini menjadi pesan utama dalam kegiatan BRI Goes to Campus yang digelar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Rabu (18/2).
Acara yang diselenggarakan oleh I.League—operator kompetisi sepak bola nasional, termasuk BRI Super League 2025/2026—ini bertujuan memperkenalkan ekosistem industri sepak bola kepada mahasiswa.
Hadir sebagai narasumber, Manager Corporate Share Value (CSV) I.League, Hanif Marjuni, menekankan bahwa sepak bola telah berkembang menjadi industri global dengan perputaran ekonomi signifikan.
“Kami ingin menyampaikan bahwa sepak bola saat ini sudah menjadi industri. Di dalamnya ada banyak lapangan kerja yang sangat dibutuhkan oleh para mahasiswa,” ujar Hanif Marjuni dalam sesi diskusi interaktif di Auditorium UINSA.
Mahasiswa yang hadir tampak antusias. Banyak pertanyaan diajukan, termasuk seputar peluang karier di bidang non-teknis seperti analisis data sepak bola, marketing, kesehatan atlet, hingga aspek hukum dan legal klub.
Hanif menjelaskan, program BRI Goes to Campus menyasar kampus-kampus di kota yang memiliki klub peserta BRI Super League atau liga terkait musim 2025/2026.
Sebelum Surabaya, kegiatan serupa telah berlangsung di Universitas Negeri Padang, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dan Universitas Negeri Malang.
“Setelah Surabaya, rencananya kami akan melanjutkan ke Bali dan Jakarta,” tambahnya.
Menurut Hanif, mahasiswa merupakan bagian penting dari ekosistem sepak bola Indonesia. Selain sebagai penonton dan suporter loyal, mereka berpotensi berkontribusi langsung dalam industri ini.
“Selama ini masih banyak yang belum tahu bahwa sepak bola adalah industri yang mengglobal. Padahal, di dalamnya ada banyak bidang pekerjaan,” jelasnya.
Ia merinci, kebutuhan sumber daya manusia di klub sepak bola tidak terbatas pada pemain dan pelatih. Ada posisi di bidang marketing, manajemen media, kesehatan dan performa atlet, hukum dan kontrak, hingga penyelenggaraan pertandingan yang memerlukan tenaga profesional.
Melalui program ini, I.League juga membuka peluang magang bagi mahasiswa yang tertarik mendalami dunia sepak bola sebelum terjun ke dunia kerja.
“Ke depan, kami akan berusaha memberikan kesempatan magang di klub peserta liga. Salah satunya bisa terlibat sebagai bagian dari panitia pelaksana pertandingan,” terang Hanif.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa bahwa industri sepak bola Indonesia terus berkembang pesat dan membutuhkan kontribusi generasi muda yang kreatif serta kompeten.
Dengan semakin profesionalnya liga domestik seperti BRI Super League, peluang karier di sektor olahraga ini semakin terbuka lebar—mulai dari analis data hingga manajer klub.
Bagi mahasiswa yang berminat, ini saat yang tepat untuk mulai melirik profesi di balik gemerlapnya lapangan hijau.(sam)