Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Fahombo Batu, Tradisi Lompat Batu Nias yang Uji Nyali dan Menjadi Penanda Kedewasaan

Muhammad Firman Syah • Sabtu, 14 Februari 2026 | 09:00 WIB

Melompat : Seorang pemuda Nias melompati batu setinggi dua meter dalam tradisi Fahombo Batu di Nias Selatan sebagai simbol kedewasaan dan keberanian.
Melompat : Seorang pemuda Nias melompati batu setinggi dua meter dalam tradisi Fahombo Batu di Nias Selatan sebagai simbol kedewasaan dan keberanian.

RADAR SURABAYA – Di Pulau Nias, Provinsi Sumatera Utara, debur ombak Samudera Hindia seolah menjadi saksi lahirnya sebuah tradisi yang menguji keberanian sekaligus harga diri seorang laki-laki. Tradisi tersebut dikenal sebagai fahombo batu atau lompat batu, warisan budaya khas masyarakat Nias, khususnya di wilayah Nias Selatan.

Di kawasan Teluk Dalam, berdiri susunan batu setinggi sekitar dua meter dengan ketebalan kurang lebih 40 sentimeter. Batu itu bukan sekadar tumpukan material, melainkan simbol ujian kedewasaan. Setiap pemuda Nias yang ingin diakui sebagai laki-laki dewasa harus mampu melompati batu tersebut dalam satu lompatan bersih tanpa menyentuh bagian atasnya.

Berdasarkan laman resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Warisan Budaya Takbenda Indonesia, tradisi ini secara khusus diperuntukkan bagi kaum laki-laki. Fahombo batu menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Nias dan diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga: Pembersihan Rupang di Klenteng Hong San Ko Tee Surabaya, Tradisi Sambut Imlek 2577 Kongzili

Meski tidak terdapat catatan tertulis yang pasti mengenai awal kemunculannya, cerita yang berkembang di tengah masyarakat menyebutkan bahwa tradisi ini berakar dari masa peperangan antardesa. Pada masa lalu, setiap kampung dikelilingi pagar batu tinggi sebagai benteng pertahanan. Untuk menyerang lawan atau menyelamatkan diri, para lelaki harus mampu melompati pagar tersebut dengan cepat dan tangkas.

Kemampuan itu tidak diperoleh secara instan. Sejak usia sekitar tujuh tahun, anak laki-laki Nias mulai berlatih melompati tali yang dipasang menyerupai tinggi batu, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Latihan dilakukan secara bertahap untuk membentuk kekuatan fisik, ketangkasan, serta mental yang tangguh sebelum menghadapi batu yang sesungguhnya.

Baca Juga: Mappalette Bola, Tradisi Unik Suku Bugis Pindahkan Rumah Utuh dengan Gotong Royong

Tidak semua pemuda berhasil melewati ujian tersebut. Lompatan setinggi dua meter menuntut perpaduan kekuatan, teknik, dan keberanian. Bagi masyarakat Nias, keberhasilan menaklukkan batu bukan hanya soal fisik, tetapi juga berkaitan dengan keyakinan akan restu leluhur. Pemuda yang berhasil dianggap telah mendapatkan berkah dan siap memikul tanggung jawab sebagai anggota masyarakat dewasa.

Setelah berhasil melompati batu, status seorang pemuda berubah. Ia diakui sebagai laki-laki dewasa yang siap menjalankan hak dan kewajiban sosial. Dalam tradisi lama, kemampuan lompat batu bahkan menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai kesiapan seorang laki-laki untuk menikah.

Baca Juga: Dari Tradisi ke Ekonomi, Pasar Kliwon Pongangan Dorong Perputaran Uang di Desa

Keberhasilan tersebut juga menjadi kebanggaan keluarga. Biasanya, keluarga mengadakan syukuran sederhana sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan. Pada masa silam, mereka yang mampu melakukan fahombo batu dipercaya memiliki keberanian lebih dan dapat berdiri di garis depan untuk melindungi desa ketika konflik terjadi.

Di tengah arus modernisasi, fahombo batu tetap bertahan sebagai simbol jati diri masyarakat Nias. Lebih dari sekadar atraksi budaya, tradisi ini menjadi penghubung antara generasi masa kini dengan semangat keberanian dan nilai-nilai luhur para leluhur. (ida/fir)

Editor : M Firman Syah
#tradisi indonesia #warisan budaya #nias #lompat batu #Fahombo #budaya