RADAR SURABAYA — Nasib ajag, anjing hutan khas Indonesia, kian memprihatinkan. Populasinya dilaporkan terus menyusut dalam beberapa dekade terakhir hingga kini masuk dalam daftar satwa hampir punah.
Ajag merupakan anjing liar yang tersebar di sejumlah pulau, seperti Kalimantan, Sumatra, dan Jawa. Di habitat aslinya, satwa ini berperan sebagai predator puncak yang membantu mengendalikan populasi hewan lain sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem hutan.
Baca Juga: Memiliki Hewan Peliharaan Dinilai Bantu Kesehatan Mental Manusia
Secara fisik, ajag memiliki ciri bulu cokelat kemerahan. Bagian dagu, leher, dan perut berwarna putih, sementara ujung ekornya hitam. Tubuhnya ramping namun kuat, dengan panjang sekitar 90 sentimeter dan ekor 40–45 sentimeter. Bobotnya berkisar 17–21 kilogram, sedikit lebih kecil dibanding anjing German Shepherd.
Penurunan populasi ajag terutama dipicu hilangnya habitat akibat alih fungsi lahan, pembukaan perkebunan, serta aktivitas pertambangan. Perburuan dan konflik dengan manusia juga memperparah ancaman terhadap spesies ini.
Peneliti mencatat, laporan kemunculan ajag di luar kawasan hutan kian jarang. Hasil observasi lapangan menunjukkan satwa tersebut kini lebih banyak ditemukan di hutan yang masih relatif utuh dan minim aktivitas manusia.
Baca Juga: Libur Nataru, Masyarakat Surabaya Ramai Titipkan Hewan Peliharaan
Pakar konservasi mengingatkan, tanpa langkah pelestarian yang serius, ajag berisiko mengalami penurunan populasi lebih tajam. Perlindungan habitat dan perluasan kawasan konservasi dinilai menjadi prioritas utama.
Sejumlah lembaga lingkungan pun terus melakukan berbagai upaya penyelamatan, mulai dari pemantauan populasi, penguatan penegakan hukum, hingga edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian ajag. (naa/fir)
Editor : M Firman Syah