RADAR SURABAYA – Gedung DPRD Kota Surabaya, Kamis (12/2) siang, tak lagi bergema suara ketukan palu atau perdebatan sengit. Aula utama yang biasa penuh hiruk-pikuk rapat paripurna berubah menjadi ruang duka.
Ribuan pasang mata tertuju pada peti jenazah sederhana yang diletakkan di tengah. Di dalamnya, Dominikus Adi Sutarwijono, Cak Awi, berbaring tenang untuk terakhir kali di tempat yang selama tujuh tahun ia pimpin.
Jenazah tiba sekitar pukul 13.23 WIB, diiringi iring-iringan mobil dari rumah duka Grand Heaven. Begitu peti masuk aula, suasana langsung hening. Hanya isak tangis tertahan dan hembus napas berat yang terdengar.
Wakil Ketua DPRD Laila Mufidah naik ke podium membacakan riwayat hidup almarhum. Suaranya pecah berkali-kali. “Cak Awi adalah kakak bagi kami semua,” katanya lirih, sambil menyeka air mata. “Meski sakit, beliau tak pernah absen memimpin rapat di gedung ini.”
Bahtiyar Rifai, wakil ketua lainnya, mewakili seluruh anggota dewan menyampaikan duka. “Beliau berdedikasi tinggi sejak 2012 sebagai anggota DPRD, lalu menjadi ketua periode 2019–2024 dan 2024–2029. Dalam kondisi sakit pun, beliau tetap memimpin rapat dan menghadiri undangan partai di Jakarta,” ujarnya dengan suara bergetar.
Puncak haru terjadi saat Wali Kota Eri Cahyadi berdiri di depan mimbar. Pria yang dikenal tegas itu tak kuasa menahan tangis. Matanya merah, suaranya tersendat. “Mas Awi mengajarkan kami arti merangkul,” ucap Eri, hampir tak sanggup melanjutkan.
“Politik bukan soal menang-kalah, tapi bagaimana kita bersama membangun Surabaya. Bahkan saat tubuhnya rapuh karena kanker hati, beliau tetap merangkul semua pihak demi kepentingan warga.”
Eri menambahkan, Cak Awi bukan sekadar mitra legislatif. “Ia rekan seperjuangan. Saat kami beda pendapat, ia tak pernah memusuhi. Ia mendengar, lalu mencari jalan tengah. Itu pelajaran terbesar yang ia tinggalkan.”
Di barisan keluarga, Lusia Yektihandayani, istri almarhum, duduk dengan tenang meski matanya sembab. Ia menutup sambutan dengan kalimat singkat: “Terima kasih atas semua penghormatan. Dari gedung ini hingga ke tempat peristirahatan terakhir, semuanya sangat bermakna bagi kami.”
Usai upacara, peti jenazah diiringi ratusan orang, anggota dewan, pejabat pemkot, kader PDI Perjuangan, hingga warga biasa, menuju TPU Keputih. Gedung DPRD yang selama ini menyaksikan dinamika politik Kota Pahlawan, sore itu menjadi saksi perpisahan terakhir seorang pemimpin yang dikenal sebagai pengayom.
Cak Awi berpulang Selasa malam, 10 Februari 2026, pukul 20.36 WIB di RS MRCCC Jakarta, setelah berjuang melawan kanker hati sejak akhir 2025. Usianya 57 tahun. Dari wartawan menjadi politikus empat periode di DPRD, ia meninggalkan warisan: ketulusan, kebersamaan, dan semangat melayani tanpa pamrih. Selamat jalan, Cak Awi. Surabaya kehilangan sosok yang selalu merangkul, bahkan di saat terakhir. (dim/rak)
Editor : Lambertus Hurek