RADAR SURABAYA - Puncak musim hujan di Surabaya dan sebagian besar wilayah Jawa Timur diprakirakan terjadi sepanjang Februari 2026. Intensitas hujan yang tinggi disertai petir dan angin kencang masih berpotensi mendominasi hingga akhir bulan, bahkan berlanjut ke Maret mendatang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan peluang hujan pada paruh kedua Februari berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi. Sejumlah hari diprediksi diwarnai hujan lebat, badai petir, serta kondisi langit mendung hampir sepanjang hari.
Data prakiraan harian menunjukkan, pada periode pertengahan hingga akhir Februari, suhu udara di Surabaya berkisar antara 29 hingga 33 derajat Celsius dengan kelembapan relatif tinggi.
Potensi hujan harian bahkan dapat mencapai lebih dari 40 milimeter, terutama saat hujan deras yang berlangsung lama. Kondisi ini menandai fase puncak musim hujan yang biasanya disertai peningkatan risiko genangan dan banjir di wilayah perkotaan.
BMKG menyebutkan, tingginya curah hujan ini dipengaruhi oleh masih aktifnya pola monsun Asia serta suplai uap air yang signifikan di wilayah Jawa Timur. Selain hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, masyarakat juga perlu mewaspadai kilat, petir, dan angin kencang sesaat yang kerap menyertai awan konvektif.
Situasi cuaca basah ini diperkirakan bertepatan dengan awal bulan puasa Ramadan yang dimulai sekitar 18 atau 19 Februari 2026. Artinya, sepanjang Ramadan hingga menjelang Lebaran, suasana diprediksi banyak diwarnai langit mendung dan hujan, terutama pada siang hingga malam hari. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas ibadah, mobilitas masyarakat, hingga persiapan arus mudik Lebaran.
Tidak hanya berhenti di Februari, BMKG juga mengingatkan bahwa potensi hujan pada Maret 2026 masih tergolong tinggi. Meski secara klimatologis beberapa wilayah mulai memasuki masa peralihan musim, curah hujan diperkirakan belum menunjukkan penurunan signifikan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini, meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, genangan, serta pohon tumbang, dan menyesuaikan aktivitas harian dengan kondisi cuaca yang masih didominasi hujan. (*)
Editor : Lambertus Hurek