RADAR SURABAYA - Peristiwa siswa SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakhiri hidup tergantung di pohon cengkeh memang menimbulkan keprihatinan.
Apalagi usai surat terakhir yang ditulis viral, semakin memantik reaksi berbagai pihak dan memberi gambaran nyata kondisi ketimpangan akses pendidikan dan alat belajar.
Palang Merah Indonesia (PMI) menyalurkan bantuan pendidikan berupa 50.000 buku tulis dan 25.000 pulpen untuk siswa di Provinsi NTT.
Bantuan ini menjadi langkah nyata PMI dalam menjawab krisis sarana belajar dasar, sekaligus merespons kasus tragis kematian seorang siswa SD di Kabupaten Ngada yang diduga terkait keterbatasan alat tulis.
Ketua Umum PMI, Jusuf Kalla, menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan akses pendidikan yang layak.
“Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa hal sederhana seperti buku dan pulpen sangat berarti bagi masa depan anak-anak. Kami berupaya memastikan kebutuhan dasar tersebut terpenuhi, sekaligus mendorong kepedulian bersama agar tidak ada lagi anak yang merasa tertinggal atau tertekan karena keterbatasan,” ujarnya, Sabtu (7/2).
Seluruh bantuan dibeli langsung di Kupang untuk mempercepat distribusi. Saat ini, bantuan telah tiba di Markas PMI Provinsi NTT dan akan segera disalurkan ke sekolah-sekolah yang membutuhkan.
PMI Provinsi NTT bersama PMI kabupaten/kota akan berkoordinasi dengan pihak sekolah dan pemerintah daerah agar pendistribusian tepat sasaran.
Kasus tragis yang memicu kepedulian ini terjadi pada Kamis (29/1), ketika seorang siswa kelas IV SD di Desa Nenowea, Kecamatan Jarebuu, ditemukan meninggal dunia.
Dari hasil penyelidikan, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pena, namun tidak terpenuhi karena keterbatasan ekonomi. Polisi juga menemukan surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada sang ibu di lokasi kejadian.
Dengan penyaluran bantuan ini, PMI berharap tidak ada lagi anak di NTT yang kehilangan semangat belajar akibat keterbatasan sarana. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari