RADAR SURABAYA - Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, dilanda bencana tanah bergerak. Peristiwa ini menimbulkan kerusakan parah pada permukiman warga, fasilitas pendidikan, hingga akses jalan utama.
Ratusan warga terpaksa mengungsi ke posko darurat yang disediakan pemerintah daerah.
Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman melaporkan bahwa berdasarkan laporan terakhir, ada sekitar 250 rumah terdampak dan 804 jiwa harus mengungsi.
"Dengan terjadinya pergerakan tanah yang masih dinamis, kami memprioritaskan keselamatan warga melalui pemantauan dan evakuasi ke titik-titik aman," katanya.
Sementara itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal melaporkan, kerusakan rumah warga dan fasilitas lainnya diakibatkan oleh pergeseran tanah.
Bangunan Pondok Pesantren Al-Adalah dan sejumlah sekolah TK juga terdampak, sehingga aktivitas belajar mengajar terhenti.
Selain itu, jalan utama desa retak dan terputus, menyulitkan mobilitas warga serta distribusi bantuan.
Kepala BPBD Kabupaten Tegal, Ahmad Syaifudin, menjelaskan bahwa fenomena tanah bergerak di Padasari bukan kali pertama terjadi.
“Tanah di kawasan Jatinegara memang labil. Ditambah curah hujan tinggi, pergerakan tanah semakin cepat dan meluas. Kami mencatat, sejak 1986 fenomena ini berulang, namun kali ini dampaknya paling besar,” ujarnya, Rabu (4/2).
Kronologi Kejadian
Peristiwa bermula pada Senin (2/2), ketika warga melihat retakan tanah di sekitar permukiman.
Sehari kemudian, pergerakan tanah semakin meluas hingga menyebabkan rumah-rumah ambruk dan jalan desa rusak.
Pada Rabu (4/2), Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Bupati Tegal meninjau lokasi sekaligus menyerahkan bantuan darurat. Pemerintah juga menyiapkan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak.
Sekitar 250 warga harus direlokasi karena rumah mereka tidak lagi layak huni. Santri pondok pesantren juga ikut mengungsi karena bangunan rusak berat. Meski tidak ada korban jiwa, kerugian material diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
“Kami sudah menyiapkan tenda darurat dan dapur umum untuk kebutuhan sehari-hari warga. Namun, solusi jangka panjang adalah relokasi hunian tetap agar mereka bisa tinggal di lokasi yang lebih aman,” tambah Ahmad Syaifudin.
Penyebab Bencana
Fenomena tanah bergerak ini dipicu oleh kondisi geologi labil di kawasan perbukitan Jatinegara.
Struktur tanah yang rapuh membuat wilayah tersebut rentan bergeser ketika curah hujan tinggi.
Menurut analisis BPBD, intensitas hujan ekstrem dalam beberapa pekan terakhir mempercepat pergerakan tanah dan memperlebar retakan.
Pemerintah Kabupaten Tegal bersama Pemprov Jawa Tengah kini fokus pada penanganan darurat dan pemulihan jangka panjang.
Hunian sementara (huntara) sudah mulai dibangun, sementara relokasi hunian tetap (huntap) sedang direncanakan di lokasi aman.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa penanganan tidak berhenti pada tahap tanggap darurat.
“Kami pastikan relokasi segera dilakukan agar warga Padasari bisa kembali hidup normal. Pemerintah hadir untuk menjamin keselamatan dan masa depan mereka,” katanya.
Sejumlah warga berharap relokasi segera terealisasi agar mereka tidak lagi tinggal di lokasi rawan bencana.
“Kami hanya ingin tempat tinggal yang aman. Rumah kami sudah rusak parah, tidak mungkin ditempati lagi,” ungkap Siti Aminah, salah satu warga terdampak. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari