Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Diduga Akhiri Hidup, Siswa SD di Ngada NTT Tergantung di Pohon Cengkeh

Nurista Purnamasari • Selasa, 3 Februari 2026 | 19:11 WIB
Lokasi kejadian tempat siwa SD ditemukan menggantung.
Lokasi kejadian tempat siwa SD ditemukan menggantung.

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi kepada siapapun untuk melakukan tindakan serupa. Bagi Anda pembaca yang merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

RADAR SURABAYA - Seorang siswa kelas IV sekolah dasar berusia 10 tahun ditemukan tewas tergantung di dahan pohon cengkeh di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/1/).

Lokasi kejadian berada tidak jauh dari pondok tempat korban tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.

Dalam penyelidikan di tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan sebuah surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada ibunda korban.

Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus Pissort, mengatakan pihaknya menduga surat tersebut ditulis korban sebelum mengambil keputusan tragis.

“Kesimpulan ini berdasarkan hasil pencocokan tulisan dengan beberapa buku tulis milik korban. Tim penyidik menemukan kesamaan yang jelas antara tulisan di surat dengan tulisan di buku-buku tersebut,” ujarnya dikutip dari CNNIndonesia.com, Selasa (3/2).

Surat yang ditulis dalam bahasa Ngada itu berisi pesan agar sang ibu merelakan kepergian korban, tanpa perlu menangis atau mencarinya.

Pada bagian akhir surat, terdapat gambar menyerupai emoji wajah menangis. Polisi telah meminta keterangan sejumlah saksi di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu.

Salah satu saksi, Kornelis Dopo, mengaku menemukan jasad korban sekitar pukul 11.00 Wita saat hendak mengikat kerbau. Ia kemudian berteriak meminta bantuan warga dan melaporkan kejadian ke polisi.

Saksi lain, Gregorius Kodo dan Rofina Bera, mengatakan sempat bertemu korban pada pagi hari sekitar pukul 08.00 Wita. Saat ditanya alasan tidak masuk sekolah, korban hanya menunduk dan terlihat sedih. 

Gregorius menambahkan bahwa keluarga korban menghadapi banyak tantangan hidup, sehingga anak tersebut tinggal bersama neneknya.

Dari pemeriksaan, diketahui korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pena, namun tidak terpenuhi karena keterbatasan ekonomi.

Ibunda korban, MGT, 47, mengaku anaknya sempat menginap di rumahnya malam sebelum kejadian.
Pagi harinya, ia meminta tukang ojek mengantar anaknya kembali ke pondok nenek. “Saya sempat menasihati agar tetap rajin bersekolah,” ungkap MGT.

Sebelum mengakhiri hidupnya, YBS yang duduk di kelas IV SD, sempat meminta uang kepada MGT untuk membeli buku dan pena.

Namun, buku dan pena yang harganya tak sampai Rp 10 ribu, urung dibeli lantaran MGT mengatakan tak punya uang.

MGT sendiri merupakan ibu tunggal yang menafkahi lima anaknya dengan bekerja sebagai petani dan buruh serabutan.

Polisi menyatakan kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. Ipda Benediktus Pissort menegaskan pihaknya akan terus mendalami keterangan saksi dan kondisi keluarga korban. (cnn/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#NTT #surat tulisan tangan #pohon cengkeh #siswa sd