Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dominasi Prestasi Atlet Jawa Timur dan Paradoks Minimnya Anggaran Olahraga

Rahmat Adhy Kurniawan • Minggu, 1 Februari 2026 | 07:13 WIB
Martina Ayu Pratiwi berhasil meraih tujuh medali yang terdiri atas lima emas dan dua perak dari cabang olahraga Triathlon di SEA Games 2025 Thailand.
Martina Ayu Pratiwi berhasil meraih tujuh medali yang terdiri atas lima emas dan dua perak dari cabang olahraga Triathlon di SEA Games 2025 Thailand.

RADAR SURABAYA- Dominasi Jawa Timur dalam prestasi olahraga nasional dan internasional kembali mengemuka usai SEA Games 2025 di Thailand.

Provinsi ini tampil sebagai salah satu penyumbang medali terbesar bagi Indonesia, bahkan menjadi kontributor emas tertinggi di antara seluruh daerah.

Namun, di balik prestasi gemilang tersebut, tersimpan ironi besar: keterbatasan anggaran dan fasilitas pembinaan atlet yang belum sebanding dengan capaian prestasi.

Pada SEA Games 2025, atlet asal Jawa Timur menyumbangkan 99 medali bagi kontingen Indonesia, terdiri atas 34 emas, 35 perak, dan 30 perunggu.

Kontribusi ini setara dengan sekitar 34 persen dari total medali emas Indonesia.
Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan bukti konkret efektivitas sistem pembinaan olahraga di Jawa Timur.

Prestasi Bukan Kebetulan

Keberhasilan Jawa Timur bukanlah hasil instan. Prestasi tersebut lahir dari proses panjang pembinaan yang berkesinambungan, mulai dari pembinaan usia dini, kompetisi berjenjang, hingga konsistensi pembinaan atlet elit. 

Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa Jawa Timur dua kali berturut-turut menjadi penyumbang emas terbanyak di SEA Games.

Bahkan, atlet dari daerah nonmetropolitan seperti Martina Ayu Pratiwi asal Magetan mampu tampil sebagai peraih medali terbanyak di SEA Games 2025.

Martina sukses meraih tujuh medali yang terdiri atas lima emas dan dua perak.

Capaian ini menegaskan bahwa pembinaan atlet Jawa Timur tidak terpusat di kota besar semata, melainkan merata hingga ke daerah.

Anggaran Kecil, Prestasi Maksimal

Ironi muncul ketika prestasi besar tersebut dibandingkan dengan dukungan anggaran. Pada 2025, KONI Jawa Timur hanya menerima hibah sekitar Rp75 miliar, yang masih dipotong untuk pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).

Angka ini jauh di bawah hibah KONI DKI Jakarta yang mencapai Rp115 miliar. Ketimpangan semakin tajam pada 2026, ketika anggaran KONI Jawa Timur hanya Rp30 miliar, sementara DKI Jakarta memperoleh Rp105 miliar.

Padahal, dalam banyak ajang, kontribusi prestasi atlet Jawa Timur justru lebih tinggi. Pada PON Bela Diri 2025 di Kudus, misalnya, Jawa Timur hanya mengirim 79 atlet, tetapi mampu meraih 25 medali dan menjadi juara umum di tiga cabang olahraga.

Efisiensi prestasi ini menunjukkan bahwa Jawa Timur mampu memaksimalkan sumber daya yang terbatas.

Ancaman bagi Regenerasi Atlet

Minimnya anggaran bukan sekadar persoalan angka di atas kertas. Dampaknya nyata dan serius. Program Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) terancam tertunda, sementara banyak atlet potensial tidak tertampung akibat keterbatasan kuota.

Jika kondisi ini dibiarkan, maka prestasi Jawa Timur yang selama ini menjadi tulang punggung prestasi nasional berisiko mengalami stagnasi.

Padahal, Jawa Timur dikenal sebagai salah satu lumbung atlet nasional. Minat masyarakat terhadap olahraga prestasi sangat tinggi. Tanpa dukungan anggaran dan fasilitas yang memadai, potensi tersebut bisa terbuang sia-sia.

Saatnya Dukungan Lebih Proporsional

Prestasi olahraga seharusnya menjadi dasar utama dalam penentuan kebijakan anggaran. Jawa Timur telah membuktikan diri sebagai daerah dengan efektivitas pembinaan tertinggi.

Sudah semestinya dukungan anggaran diberikan secara lebih proporsional dan berkeadilan.

Jika pemerintah daerah serius ingin menjaga posisi Jawa Timur sebagai kekuatan utama olahraga nasional, maka investasi pada pembinaan atlet bukan pilihan, melainkan keharusan. Prestasi tidak bisa terus dituntut tanpa dukungan yang memadai.

Dominasi Jawa Timur di SEA Games dan ajang nasional lainnya adalah aset strategis bangsa. Mengabaikan kebutuhan pembinaan atlet sama artinya dengan mempertaruhkan masa depan prestasi olahraga Indonesia.(rak)

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#puslatda #koni jawa timur #keterbatasan anggaran #pemusatan latihan daerah #atlet Jawa Timur #Paradoks #Dominasi Jawa Timur