Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Fenomena Perilaku Conscious Unbossing Viral, Milenial dan Gen Z Lebih Nyaman Jadi Staf Dibanding Pimpinan

Muhammad Firman Syah • Kamis, 29 Januari 2026 | 06:05 WIB

 

Foto ilustrasi.
Foto ilustrasi.

Radar Surabaya – Fenomena conscious unbossing kian menguat dalam dunia kerja global dan mulai terasa nyata di Indonesia. Tren ini terutama terlihat di kalangan milenial dan Generasi Z yang semakin selektif terhadap jenjang karier, bahkan cenderung menghindari posisi manajerial.

Alih-alih mengejar jabatan struktural, generasi profesional muda kini lebih kritis memandang model kepemimpinan tradisional yang hierarkis, sarat kontrol, dan penuh tekanan. Jabatan manajer tak lagi otomatis dianggap sebagai simbol kesuksesan, melainkan kerap dipersepsikan sebagai sumber beban psikologis dan konflik peran.

Conscious unbossing merujuk pada keputusan sadar untuk menjauh dari konsep “bos” sebagai pusat kekuasaan. Dalam pendekatan ini, kepemimpinan dipahami sebagai proses kolaboratif yang menekankan kepercayaan, otonomi, dan relasi setara. Kesadaran ini menguat seiring meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, keseimbangan hidup, serta pencarian makna kerja, terutama pascapandemi COVID-19.

Meski bukan konsep baru, gagasan unbossing berakar pada pemikiran humanistik dalam manajemen. Douglas McGregor melalui Theory Y menegaskan bahwa pekerja pada dasarnya mampu mengarahkan diri sendiri dan bertanggung jawab jika diberi kepercayaan. Sementara Robert K. Greenleaf lewat konsep servant leadership menyatakan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang melayani, bukan sekadar memegang otoritas.

Pemikiran tersebut selaras dengan pandangan Frédéric Laloux dalam buku Reinventing Organizations (2014). Ia menilai organisasi modern perlu berevolusi dari struktur berbasis kontrol menuju kepercayaan dan kesadaran kolektif. Gagasan ini kembali relevan di tengah meningkatnya kasus burnout dan ketidakpuasan kerja lintas generasi.

Data perusahaan rekrutmen Walters memperkuat tren tersebut. Sebanyak 57 persen profesional Gen Z mengaku menghindari posisi manajer. Bahkan, 67 persen menilai manajemen tingkat menengah sebagai posisi dengan tingkat stres tinggi, namun imbalan yang dinilai tidak sebanding.

Bagi milenial dan Gen Z, jabatan manajer sering kali dipersepsikan berada di posisi serba tertekan. Di satu sisi harus memenuhi target perusahaan, di sisi lain bertanggung jawab atas kesejahteraan tim, namun dengan ruang pengambilan keputusan yang terbatas. Kondisi ini menjadikan peran manajerial rawan kelelahan emosional.

Selain itu, fleksibilitas kini dinilai lebih bernilai dibandingkan titel jabatan. Waktu dipandang sebagai aset utama, kesehatan mental sebagai modal kerja, dan kebebasan lokasi sebagai indikator kualitas hidup. Jabatan tinggi tak lagi menarik jika harus dibayar dengan jam kerja panjang dan tekanan berlapis.

Perkembangan kerja jarak jauh turut menggeser makna kepemimpinan. Remote work menuntut kepercayaan dan kepemimpinan berbasis hasil, bukan pengawasan langsung. Dalam konteks ini, otoritas struktural semakin kehilangan relevansinya, sementara empati, komunikasi setara, dan kemampuan fasilitatif justru menjadi kunci.

Baca Juga: Cara Gen Z Bangkit dari Patah Hati, Dari Luka Emosional hingga Pulih dengan Sehat

Di Indonesia, fenomena conscious unbossing terlihat seiring meningkatnya keterlibatan milenial dan Gen Z dalam ekonomi digital, startup, dan industri kreatif. Banyak profesional muda memilih tetap menjadi individual contributor, spesialis, atau pekerja fleksibel dengan otonomi tinggi dibandingkan menapaki jalur manajerial konvensional.

Fenomena ini menjadi sinyal penting bagi perusahaan. Tanpa redefinisi peran manajer yang lebih manusiawi, adaptif, dan bermakna, jabatan kepemimpinan berpotensi semakin dijauhi oleh generasi kerja masa kini dan masa depan. (sry/fir)

Editor : M Firman Syah
#perilaku #fenomena #Millenial #Gen Z