Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi kepada siapapun untuk melakukan tindakan serupa. Bagi Anda pembaca yang merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
RADAR SURABAYA - Peristiwa tragis menimpa seorang siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Gadis berusia 13 tahun itu ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (22/1) dini hari. Sebelum mengakhiri hidupnya, korban sempat menulis surat berisi permintaan maaf kepada keluarga.
Korban diduga nekat mengakhiri hidupnya karena merasa malu setelah melakukan kesalahan di sekolah. Hal ini terungkap dari surat yang ditemukan polisi di lokasi kejadian.
Kanit Reskrim Polsek Sungai Kakap, Ipda Adrianus Ari, mengatakan tim gabungan menemukan selembar kertas berisi pesan terakhir korban.
“Dalam surat itu intinya korban malu untuk datang ke sekolah. Korban minta maaf ke keluarga atas keputusan yang diambil dan minta dimakamkan dengan layak serta jangan libatkan kepolisian,” kata Ari, Selasa (27/1).
Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penmad) Kemenag Kota Pontianak, Aris Sujarwono, mengungkapkan bahwa korban merasa bersalah setelah mengambil uang di sekolah. Menurutnya, siswi tersebut sebenarnya berniat membelikan hadiah untuk ibunya.
“Kalau boleh saya sampaikan, almarhumah ingin membelikan kado untuk ibunya. Sedih saya mendengarnya,” jelas Aris, Rabu (28/1).
Peristiwa ini bermula saat kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) pada Sabtu (17/1). Seorang peserta kehilangan uang Rp 200 ribu.
Setelah dilakukan pengecekan CCTV pada Selasa (20/1), terlihat korban mengambil uang tersebut. Pihak sekolah kemudian melakukan pendekatan persuasif dengan memanggil seluruh peserta PMR.
Wali kelas, Daeng Bustami, menanyakan langsung kepada korban, yang akhirnya mengakui perbuatannya dan menyebut uang itu ada di rumah.
Pihak sekolah pun menyampaikan bahwa kebutuhan korban akan dibantu, sehingga masalah dianggap selesai.
Aris menegaskan tidak ada kata-kata kasar atau tekanan dari pihak sekolah maupun teman-temannya.
“Tidak ada bahasa kasar, hanya bahasa sehari-hari anak-anak Gen Z di Pontianak. Jadi tidak ada bullying,” ujarnya.
Namun, pada Rabu malam (21/1), korban bercerita kepada ibunya bahwa ia merasa malu dan tidak ingin masuk sekolah keesokan harinya. Malam itu, korban memutuskan mengakhiri hidupnya.
Korban pertama kali ditemukan oleh abangnya sekitar pukul 03.00 WIB, Kamis (22/1). Di lokasi, ditemukan surat yang ditulis korban berisi permintaan maaf kepada orang tua, ucapan terima kasih, serta harapan agar masalah tidak diramaikan dan tidak dilaporkan ke polisi.
Aris menegaskan surat tersebut dibuat dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan, sehingga dugaan adanya tekanan atau perundungan terbantahkan.
“Kalau ada tekanan atau bullying, pasti mengadu ke ibunya. Jadi, ini karena almarhumah merasa malu saja. Hal ini telah dikonfirmasi oleh orang tua,” tutup Aris. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari