Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tak Ada Jembatan, Emak-Emak di Banyumas Ini Gendong Anak Terobos Sungai untuk Pergi Sekolah

Nurista Purnamasari • Jumat, 23 Januari 2026 | 21:57 WIB

 

Video emak-emak menggendong anak menyeberangi Sungai Tajum di Banyumas viral di media sosial.
Video emak-emak menggendong anak menyeberangi Sungai Tajum di Banyumas viral di media sosial.

RADAR SURABAYA - Video emak-emak menggendong anak sekolah menyeberangi Sungai Tajum di Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, viral di media sosial.

Dalam rekaman berdurasi 39 detik yang diunggah akun Instagram @infobanyumasterkini bersama @purwokerto24jam_, terlihat warga berjuang menerobos arus sungai sambil menggendong anak mereka yang berseragam dan bersepatu demi memangkas jarak menuju sekolah.

Dalam video tersebut, salah satu emak nyaris terjatuh saat melawan derasnya arus. Keterangan unggahan menyebut aksi itu dilakukan karena akses jembatan menuju sekolah cukup jauh dan harus memutar.

“Peristiwa itu terjadi di Grumbul Kesal, Desa Darmakradenan. Warga terpaksa menyeberangi sungai agar anak-anak bisa lebih cepat sampai sekolah,” tulis keterangan unggahan tersebut, dikutip Jumat (23/1).

Sekretaris Desa Darmakradenan, Ahmad Miftah, membenarkan kondisi tersebut sudah berlangsung puluhan tahun.

“Kami sudah lama mengajukan permohonan pembangunan jembatan gantung. Kalau berangkat sekolah harus mutar jauh, ini sudah berlangsung puluhan tahun,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jika tidak menyeberang sungai, warga harus memutar sejauh sekitar 2 kilometer. “Mutarnya bisa 2 kiloan. Kalau terpaksa muter ya harus naik sepeda motor, biayanya jadi tambah banyak,” kata Miftah.

Menurutnya, ada empat RT di RW 6 dengan sekitar 200 jiwa atau 50 kepala keluarga yang bermukim di seberang sungai.

Namun hanya sebagian warga yang nekat menyeberang karena lebih dekat ke sekolah anak-anak mereka.

Miftah menambahkan, penyeberangan sungai hanya dilakukan saat kondisi arus landai. “Kalau hujan besar dan air tinggi, tidak ada aktivitas penyeberangan. Warga terpaksa memutar lewat jalur yang lebih jauh,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa waktu tempuh ke sekolah bisa hanya 5–10 menit jika menyeberang sungai, sementara lewat jembatan bisa mencapai 15–30 menit.

Warga berharap pemerintah segera membangun jembatan gantung agar aktivitas sehari-hari lebih aman dan efisien.

“Kalau ada jembatan gantung, aktivitas sehari-hari bisa lebih baik lagi. Akses ke pusat pemerintah desa juga lebih cepat,” ucap Miftah.

Ia mengaku pihak desa sudah beberapa kali mengajukan proposal ke pemerintah kabupaten, namun belum mendapat respons.

“Proposal sudah dari dulu, tapi belum dikabulkan. Mudah-mudahan lewat program Jembatan Merah Putih bisa terealisasi,” pungkasnya. (dtk/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#anak sekolah #banyumas #Sungai Tajum #sebrangi sungai #emak-emak #jembatan