RADAR SURABAYA – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia terus menjadi perhatian berbagai kalangan.
PLTN yang ditargetkan mulai beroperasi pada periode 2032–2034 tersebut dinilai sebagai solusi energi bersih yang andal, namun masih menghadapi tantangan utama berupa penerimaan publik.
Akademisi menilai keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, menjadi kunci keberhasilan pembangunan tenaga nuklir di Indonesia.
Edukasi publik dinilai penting agar pemanfaatan energi nuklir dapat dipahami secara objektif, berbasis data, dan tidak semata diliputi kekhawatiran.
Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Agus Muhamad Hatta, menyebut masyarakat pada dasarnya
menginginkan manfaat listrik yang stabil dan bersih dari PLTN, tetapi masih ragu terhadap risiko yang melekat pada teknologi nuklir.
“Kondisi ini menjadikan edukasi publik sebagai fondasi awal. Masyarakat perlu memahami bahwa teknologi nuklir modern memiliki sistem keselamatan yang sangat ketat,” ujar Hatta, Jumat (23/1).
Indonesia Dinilai Siap Kembangkan PLTN
Hatta menilai Indonesia memiliki kapasitas untuk mengikuti jejak negara-negara yang telah lebih dulu mengoperasikan PLTN secara aman dan berkelanjutan.
Keberhasilan negara lain, menurutnya, dapat menjadi rujukan dalam pengembangan teknologi nuklir nasional.
“Indonesia tidak memulai dari nol. Kita memiliki sumber daya manusia, lembaga riset, serta pengalaman panjang dalam pengelolaan teknologi nuklir non-energi,” ujarnya.
Untuk mendukung kesiapan tersebut, ITS tengah menyiapkan talenta terbaik dari berbagai disiplin ilmu. Mulai dari teknik nuklir, keselamatan reaktor, sistem tenaga listrik, hingga kebijakan energi.
Pendekatan lintas disiplin ini dinilai penting agar PLTN tidak hanya dilihat dari aspek teknologi, tetapi juga dari sisi sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Dengan demikian, energi nuklir dapat diposisikan secara objektif sebagai bagian dari solusi menuju target net zero emission.
PLTN Dinilai Perkuat Ketahanan Energi
Sementara itu, Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Usaha Institut Teknologi PLN (ITPLN), M. Ahsin Sidqi, menjelaskan bahwa PLTN memiliki peran strategis dalam mendukung transisi energi nasional.
Menurutnya, pemanfaatan energi nuklir dapat menjadi langkah diversifikasi sumber energi di tengah meningkatnya kebutuhan listrik nasional.
“Energi nuklir berpotensi memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan kemandirian energi Indonesia,” ungkap Ahsin.
Ia menambahkan bahwa Indonesia membutuhkan sumber energi baru dan terbarukan yang stabil dan berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, karakteristik energi nuklir yang bersih, beremisi rendah, dan dapat dikendalikan menjadikannya opsi yang relevan.
Sejalan dengan RUPTL 2025–2034
Rencana pengembangan PLTN ini sejalan dengan arah kebijakan energi nasional yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Dalam dokumen tersebut, pemerintah menargetkan PLTN mulai beroperasi pada periode 2032–2034 sebagai bagian dari bauran energi nasional.
Dengan meningkatnya kebutuhan listrik dan komitmen penurunan emisi karbon, PLTN dinilai dapat menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan sistem energi nasional yang bersih, andal, dan berkelanjutan.
Namun demikian, para akademisi menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan PLTN tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi, melainkan juga oleh keterlibatan publik, transparansi informasi, serta kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan. (rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan