RADAR SURABAYA – Kementerian Haji dan Umrah menerapkan strategi baru dalam penempatan petugas haji pada penyelenggaraan ibadah haji 2026.
Petugas yang telah teridentifikasi pernah menunaikan ibadah haji sebelumnya akan langsung ditempatkan di Mina, tanpa melalui rangkaian wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah.
Kebijakan tersebut disampaikan Laksamana Pertama (Laksma) TNI Harun Arrasyid usai memberikan materi pada pendidikan dan pelatihan calon petugas haji 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (22/1) malam.
Menurut Harun, langkah ini merupakan hasil evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan haji pada tahun-tahun sebelumnya, khususnya pada fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
“Rencana tahun ini agar pelayanan di Mina bisa maksimal. Oleh karena itu, petugas, baik dari unsur Linjam (Perlindungan Jamaah) maupun unsur lainnya yang sudah berhaji, akan langsung kita drop dari pemondokan atau hotel di Makkah menuju Mina,” ujar Harun seperti dikutip dari Antara.
Mina Dinilai Titik Paling Krusial
Harun menjelaskan, Mina menjadi titik paling melelahkan dalam seluruh rangkaian ibadah haji. Pada fase ini, jamaah memerlukan pendampingan intensif, mulai dari pengaturan tenda, alur kedatangan, hingga bantuan kesehatan dan keamanan.
Dengan menempatkan petugas yang telah berhaji langsung di Mina, diharapkan kondisi fisik mereka lebih prima karena tidak mengikuti rangkaian wukuf dan mabit yang menguras stamina.
“Petugas-petugas ini akan menjadi garda terdepan dalam menyambut gelombang jamaah yang datang dari Muzdalifah menuju Mina,” kata Harun.
Pergerakan Petugas Diatur Khusus
Lebih lanjut, Harun menegaskan bahwa pergerakan petugas haji tetap dilakukan beriringan dengan pergerakan jamaah menuju Arafah.
Namun, petugas yang telah berhaji akan menggunakan rute khusus yang langsung mengarah ke pos-pos pelayanan di Mina.
“Tujuannya agar penyambutan dan pemantauan jamaah, baik dari Arafah ke Muzdalifah maupun dari Muzdalifah ke Mina, bisa berjalan lebih efektif,” ujarnya.
Menutup Celah Pelayanan
Kebijakan ini diharapkan mampu menutup celah-celah pelayanan yang selama ini belum optimal akibat kelelahan petugas.
Dengan kesiapan lebih awal di Mina, pelayanan kepada jamaah dapat dilakukan secara lebih terencana, mulai dari penataan tenda hingga pengaturan arus kedatangan.
Harun menegaskan, meskipun evaluasi penyelenggaraan haji dalam dua tahun terakhir menunjukkan hasil yang cukup baik, inovasi taktis tetap diperlukan.
“Ini demi menutup celah sekecil apa pun agar kenyamanan jamaah haji sebagai tamu-tamu Allah benar-benar terjaga,” pungkasnya.
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan